KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kredit perbankan melaju di tahun ini.
Meski kinerja industri nampak baik dari kencangnya laju pertumbuhan kredit, pasar masih menanti katalis positif yang mampu mendorong naik harga saham emiten perbankan. Hingga Juni 2026, Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan berhasil tumbuh 12,67% secara tahunan (year-on-year/yoy), melaju dari pertumbuhan 11,51% yoy pada bulan sebelumnya. Di saat yang sama, BI menahan suku bunga acuan (BI Rate) tetap di level 5,75%. Namun, hasil ini nampaknya masih minim efek ke saham perbankan. Pada akhir perdagangan pekan lalu, Jumat (24/7/2026), tak satupun big banks berhasil menguat.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan net sell asing sebesar Rp 310,48 miliar, harganya turun 3,09% dalam sepekan dan stagnan dalam sehari di Rp 6.275. Pun PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menorehkan net sell asing sebesar Rp 35,85 miliar dengan hargan yang turun 1,68% dalam sepekan dan 2,22% dalam sehari ke Rp 3.520.
Baca Juga: Saham BMRI Melemah Pasca Paparan Kinerja Semester I-2026, Simak Rekomendasi Analis Adapun PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masih berhasil mencetak net buy asing sebesar Rp 43,43 miliar, tetapi harganya tetap turun 0,34% dalam sepekan dan 1% dalam sehari ke Rp 2.960. Sementar saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bahkan mencatatkan net sell asing hingga Rp 862,1 miliar dengan harga turun 7,81% dalam sepekan dan 5,71% dalam sehari ke Rp 4.130. Menurut Kepala Riset KISI Muhammad Wafi, sebenarnya capaian pertumbuhan kredit dan keputusan BI menahan suku bunga acuan merupakan kombinasi positif untuk saham perbankan. Hanya saja, dampaknya tertahan kekhawatiran penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Wafi melihat penguatan penuh pada saham-saham perbankan butuh katalis yang lebih kuat, yakni sinyal penurunan BI rate. Namun, ia memproyeksi itu baru terjadi pada 2027 mendatang. Dus, pada semester II-2026 mendatang penguatan harga saham-saham perbankan belum akan melejit. Di luar itu, kata Wafi, kencangnya laju pertumbuhan kredit dalam periode ini sejatinya menyimpan risiko tersendiri. “Di tengah daya beli yang tertekan, pertumbuhan kredit bisa berbalik jadi hambatan kredit macet di semester II, utamanya di segmen UMKM yang sudah kontraksi 5 bulan beruntun,” jelas Wafi kepada Kontan, Jumat (24/7/2026). Kendati begitu, ia melihat potensi kenaikan harga saham perbankan 15%–20% ke target harga KISI dalam 12 bulan masih terbuka, tergantung keputusan MSCI di November mendatang. Jika MSCI mempertahankan status emerging market (EM) untuk Indonesia, arus dana asing berpotensi masuk kembali. Dalam skenario tersebut, Wafi bilang BBCA dan BMRI bakal menuai tuah paling besar karena jadi incaran pertama investor asing. Secara keseluruhan, Wafi menyebut, ada sejumlah katalis yang perlu dicermati untuk melihat arah pergerakan saham perbankan di semester II mendatang. Di antaranya soal realisasi APBN untuk melihat arus kredit pemerintah dan perkembangan kredit Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang bisa menjadi risiko tersembunyi untuk kualitas aset bank penyalur. Di samping itu, kata Wafi, sinyal suku bunga acuan global juga bakal menjadi penentu karena pada gilirannya bakal menentukan arah suku bunga BI. Di sisi lain, Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama melihat sejatinya kombinasi kencangnya laju pertumbuhan kredit dan ditahannya BI rate dapat membantu menjaga momentum pendapatan bunga sekaligus mengurangi risiko kenaikan biaya dana lebih lanjut. Namun, potensi penguatannya kemungkinan tetap selektif lantaran pasar juga bakal mencermati kemampuan masing-masing bank dalam menjaga NIM, pertumbuhan laba, dan kualitas aset. Maka itu, perkembangan proporsi pendanaan bank, terkhususnya soal dana murah, perlu menjadi perhatian. Selain itu, biaya dana, kredit macet, biaya kredit, serta arus dana asing ke saham perbankan juga bakal menjadi penentu.
Baca Juga: Saham Bank Berbalik Melemah, Aksi Profit Taking Bayangi Prospek Pekan Depan Secara makro, Kevin bilang, stabilitas rupiah dan imbal hasil obligasi juga menjadi faktor penting karena dapat memengaruhi minat investor asing dan valuasi saham bank. “Perlambatan konsumsi dan segmen UMKM juga tetap menjadi risiko, terutama bagi bank dengan eksposur besar pada kredit mikro dan konsumer,” imbuhnya. Saham pilihan Kevin dan Wafi sama-sama jatuh kepada BBCA dan BMRI. Kevin menjelaskan, BBCA punya struktur pendanaan yang kuat dengan dominasi dana murah, serta kualitas aset yang relatif lebih terjaga. Ia merekomendasikan buy untuk BBCA dengan target harga Rp 8.075.
Wafi menambahkan, BBCA punya neraca yang paling sehat dan bakal jadi destinasi utama investor asing jika hasil MSCI positif pada November mendatang. Rekomendasinya buy dengan target harga di Rp 6.400. Untuk BMRI, Kevin melihatnya menarik karena pertumbuhan penyaluran kredit dan labanya relatif kuat. Kiwoom Sekuritas juga merekomendasikan buy untuk saham BMRI dengan target harga Rp 4.750, yang mengacu pada valuasi yang sudah terdiskon. Sementara Wafi bilang BMRI sudah sangat murah setelah penurunan tajamnya. Ia merekomendasikan BMRI untuk ditahan (hold) sampai ada kepastian mengenai keputusan MSCI mendatang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News