Laju Kinerja Asuransi Properti Diproyeksi Tertahan pada 2026, AAUI Beberkan Sebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memprediksi melandainya permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) akan mempengaruhi kinerja asuransi properti, terutama yang berkaitan dengan pembiayaan rumah, apartemen, dan aset residensial baru.

Meski demikian, portofolio asuransi properti tetap ditopang oleh aset komersial, industri, pergudangan, dan perpanjangan polis yang sudah ada, sehingga pelemahan permintaan KPR dan KPA tidak sepenuhnya berdampak langsung.

"Perlambatan KPR/KPA lebih tepat dilihat sebagai faktor yang menahan laju pertumbuhan bukan otomatis menekan kinerja secara keseluruhan," ujar Ketua Umum AAUI, Budi Herawan kepada Kontan, Sabtu (4/4/2026).


Baca Juga: KB Bank Berkomitmen Perkuat Kredit Sindikasi Tahun Ini

AAUI mencatat premi asuransi properti sebesar Rp 32,86 triliun pada 2025, naik 8,6% dari Rp 30,27 triliun pada 2024. Sementara itu, nilai klaim yang dibayarkan dari lini ini adalah sebesar Rp 8,57 triliun.

Asuransi properti juga menyumbang porsi sebesar 28,9% dari total premi asuransi umum pada 2025 yang mencapai Rp 113,60 triliun.

Dengan pencapaian positif tersebut, Budi menyebut bahwa lini ini terus tumbuh positif dan menjadi salah satu penopang industri sehingga asuransi properti diperkirakan tetap memiliki fondasi kuat pada 2026.

Untuk menjaga kinerja di tengah lemahnya permintaan KPR dan KPA, AAUI menyiapkan sejumlah strategi.

Di antaranya dengan memperluas pasar di luar properti residensial yang bergantung pada pembiayaan, seperti sektor komersial, industri, logistik, dan pergudangan.

Baca Juga: Di Antara Saham Big Banks, BBRI Paling Banyak Dijual Asing Dalam Sepekan Terakhir

Selain itu, penguatan kerja sama dengan perbankan, pengembang, dan ekosistem properti juga akan menjadi fokus mereka. Di sisi lain, disiplin underwriting serta peningkatan efisiensi layanan dan proses klaim terus dilakukan guna menjaga kualitas portofolio.

"Dengan begitu, pertumbuhan premi tetap dapat dijaga tanpa mengorbankan kualitas portofolio," jelas Budi.

Perlu diketahui, Bank Indonesia (BI) mencatat outstanding KPR per Januari 2026 adalah Rp 836,26 triliun atau tumbuh 5,36% secara tahunan, melambat dibandingkan periode Desember 2025 yang mencatat pertumbuhan 6,84%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: