Laju Penerbitan Surat Utang Multifinance Terbilang Melambat Tahun Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyebut laju penerbitan surat utang multifinance terbilang melambat pada tahun ini, dibandingkan tahun sebelumnya.

Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menerangkan hal tersebut dilihat dari nilai penerbitan surat utang multifinance hingga Juni 2026 yang tercatat sebesar Rp 12,93 triliun.

"Angka itu masih jauh di bawah realisasi penuh pada 2025 yang sebesar Rp 38,18 triliun. Jika angka Semester I-2026 di setahun kan secara sederhana, nilainya menjadi sekitar Rp 25,86 triliun, atau lebih rendah sekitar 32,3% dibandingkan dengan realisasi penuh 2025," ujarnya kepada Kontan, Senin (6/7/2026).


Baca Juga: Penarikan Kendaraan BRI Finance Turun 78,72% per Juni 2026

Ahmad menyampaikan, perlambatan tersebut terbilang wajar karena multifinance menghadapi dua dorongan yang berlawanan. Dia bilang salah satunya kebutuhan pendanaan tetap ada karena piutang pembiayaan masih tumbuh, meskipun baru 2,08% Year on Year (YoY) per April 2026. 

Selain itu, faktor lainnya adalah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate ke 5,75% membuat biaya pendanaan lebih mahal.

"Dengan demikian, perusahaan pembiayaan cenderung lebih selektif dalam menentukan waktu, tenor, dan besaran penerbitan obligasi," tuturnya.

Ahmad mengatakan, faktor lain yang menahan penerbitan adalah permintaan pembiayaan otomotif yang belum sepenuhnya merata. Dia menerangkan penjualan sepeda motor domestik Januari 2026 hingga Mei 2026 hanya tumbuh 0,74% year to date (ytd), meskipun masih lebih baik dari periode yang sama tahun lalu.

Adapun penjualan mobil terlihat lebih kuat, dengan wholesales periode Januari 2026 hingga Mei 2026 naik 12,8% YoY dan ritel naik 8,8% YoY.

Ahmad bilang, kombinasi itu menunjukkan ruang pertumbuhan masih ada, tetapi tidak semua segmen pembiayaan bergerak dengan kekuatan yang sama.

Baca Juga: Jumlah Peserta Dana Pensiun Terus Bertambah, Program Wajib Jadi Penopang

Dari sisi kebutuhan industri, Ahmad mengatakan, tekanan refinancing tetap besar. Dia menyebut hal itu tercermin dari obligasi multifinance yang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp 33,93 triliun, dengan porsi terbesar berada pada kuartal III-2026 sebesar Rp 13,68 triliun. 

"Artinya, penerbitan pada semester II-2026 tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan ekspansi pembiayaan baru, tetapi juga kebutuhan untuk mengganti surat utang yang jatuh tempo," kata Ahmad.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News