KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih berada di bawah rata-rata dalam beberapa hari terakhir. Data pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal yang melintasi salah satu jalur pelayaran strategis dunia tersebut belum menunjukkan peningkatan berarti pada Senin (31/8/2026). Mengutip Reuters, Selasa (1/9/2026), jumlah kapal yang berlayar melalui Selat Hormuz pada Senin tercatat sekitar lima kapal. Angka tersebut relatif tidak berubah dibandingkan akhir pekan dan jauh di bawah rata-rata 10 hari yang berada di kisaran 14 kapal. Data awal pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan empat kapal memasuki Selat Hormuz, sementara satu kapal keluar dari jalur pelayaran tersebut.
Namun, data tersebut tidak mencakup kapal-kapal yang mematikan transponder selama melintasi selat. Kondisi ini berarti jumlah kapal yang sebenarnya melintas dapat lebih tinggi dibandingkan angka yang tercatat dalam sistem pelacakan.
Baca Juga: Belajar dari Filipina yang Mengeksplorasi Energi Listrik dari Arus Laut Tidak Ada Kapal Tanker Minyak Melintas Selat Hormuz
Data Kpler juga menunjukkan tidak terdapat kapal tanker cair yang melintasi Selat Hormuz pada Senin. Dari empat kapal yang memasuki selat tersebut, salah satunya merupakan kapal tanker gas berukuran handy yang dalam kondisi kosong. Kapal tersebut mencapai Selat Hormuz melalui rute Iran. Sementara itu, tiga kapal lainnya merupakan kapal pengangkut muatan kering atau dry bulk carrier yang membawa muatan. Aktivitas pelayaran yang rendah melalui Selat Hormuz menjadi perhatian karena jalur tersebut merupakan salah satu titik penting dalam perdagangan energi global. Selat ini menjadi jalur strategis bagi pengiriman minyak mentah dan produk energi dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Tanker Minyak Saudi Dihentikan di Selat Hormuz
Pada Selasa, sebuah kapal tanker minyak asal Arab Saudi dilaporkan dihentikan ketika sedang melintasi koridor selatan Selat Hormuz. Laporan mengenai penghentian kapal tanker tersebut disampaikan oleh media Iran. Perkembangan ini menambah perhatian terhadap kondisi keamanan dan kelancaran pelayaran di kawasan tersebut. Selat Hormuz sendiri memiliki posisi strategis karena menjadi jalur keluar-masuk utama bagi ekspor energi dari sejumlah negara produsen minyak di kawasan Teluk. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global, terutama apabila pembatasan pelayaran berlangsung dalam waktu lama.
Baca Juga: Trump Minta Apple Ubah Nama Lake Ontario Jadi Lake America Lalu Lintas Kapal di Selat Bab-el-Mandeb Meningkat
Berbeda dengan Selat Hormuz, aktivitas pelayaran di titik sempit lainnya, Selat Bab-el-Mandeb, justru meningkat. Data Kpler menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Bab-el-Mandeb mencapai level tertinggi dalam tiga hari, yakni 27 kapal. Dari jumlah tersebut, 14 kapal tercatat memasuki selat dan 13 kapal keluar.
Lima dari 27 kapal tersebut merupakan kapal tanker minyak mentah berukuran Aframax atau Suezmax. Meski demikian, tidak ada kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau very large crude carrier (VLCC) maupun kapal pengangkut gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang tercatat masuk atau keluar melalui Selat Bab-el-Mandeb. Perbedaan aktivitas di kedua jalur pelayaran tersebut menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz dan Bab-el-Mandeb sama-sama memiliki peran penting dalam rantai pasok energi dan perdagangan global. Perkembangan lalu lintas kapal di kedua selat tersebut akan terus menjadi indikator penting bagi pasar minyak dan gas, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah.