KONTAN.CO.ID - Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali melambat di tengah ketidakpastian mengenai status jalur strategis tersebut. Sebagian besar pemilik kapal masih menghindari Selat Hormuz karena belum ada kepastian mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran setelah terjadinya blokade selama perang Iran.
Baca Juga: Metaplanet Bawa 2.100 Bitcoin ke AS, Bidik Akses Modal Nasdaq Melansir
Reuters, Data Kpler menunjukkan hanya enam kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa (18/8), hingga pukul 02.58 GMT. Jumlah tersebut turun dari sembilan kapal pada hari sebelumnya dan berada di bawah rata-rata harian 10 hari terakhir sebanyak 11 kapal. Arus kapal yang masuk mencakup satu kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar atau
very large crude carrier (VLCC) dalam kondisi kosong. Kapal tersebut melintasi sisi Oman di Selat Hormuz. Selain itu, terdapat dua kapal tanker yang masuk, masing-masing berjenis
medium-range dan
intermediate. Sementara dari arah keluar, tercatat dua kapal tanker bahan bakar berjenis medium-range serta satu kapal post-Panamax yang meninggalkan kawasan Selat Hormuz.
Baca Juga: Aksi Jual Obligasi Melambat, Pasar Saham Global Masih Goyah Ketidakpastian Buka Kembali Selat Hormuz Perlambatan lalu lintas kapal terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan tidak ada pembicaraan yang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz terbuka. Pernyataan tersebut bertentangan dengan klaim Iran yang menyebut jalur perairan strategis itu masih ditutup bagi pelayaran. Sebelum perang berlangsung, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.
Baca Juga: Korea Selatan Blokir Polymarket, Platform Prediksi Kripto Dianggap Judi Jalur tersebut menjadi lintasan sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global. Ketidakpastian mengenai keamanan pelayaran kini menjadi perhatian pasar energi karena gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi menghambat distribusi minyak dan LNG ke berbagai negara. Situasi semakin kompleks karena sejumlah perusahaan pelayaran besar mulai menghindari kawasan tersebut. Dua perusahaan pelayaran asal China yang sebelumnya mengangkut sekitar separuh impor minyak China dari Timur Tengah dilaporkan masih menahan kapal tanker mereka untuk tidak melintasi Selat Hormuz maupun Bab al-Mandeb sejak akhir Juli. Data tersebut dikutip dari pelacak kapal tanker Vortexa dan seorang pialang kapal.
Baca Juga: UEA Deteksi Dua Rudal Balistik dari Iran, Aktivitas Perdagangan Dihentikan Aktivitas Bab al-Mandeb Meningkat Sementara itu, aktivitas pelayaran di Selat Bab al-Mandeb di kawasan Laut Merah justru menunjukkan peningkatan. Data Kpler mencatat, terdapat 30 pelayaran kapal komoditas pada akhir pekan, naik dari 19 pelayaran pada pekan sebelumnya. Namun, tidak ada pengiriman minyak Arab Saudi yang terpantau dalam periode tersebut.
Kelompok Houthi di Yaman sebelumnya menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi mulai 20 Juli. Kondisi tersebut turut meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan energi melalui Laut Merah.
Baca Juga: 15 Perusahaan Paling Menguntungkan di Dunia 2026, Didominasi Teknologi Bagi pasar minyak global, ketidakpastian di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb berpotensi meningkatkan biaya pengiriman, memperpanjang waktu distribusi, serta mendorong perusahaan pelayaran mengambil rute alternatif. Jika gangguan berlangsung lebih lama, risiko terhadap pasokan energi global dapat semakin besar dan berpotensi memberikan tekanan terhadap harga minyak serta komoditas energi lainnya.