KONTAN.CO.ID - Jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz menurun tajam pada Rabu (15/7/2026), sehari setelah Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya aksi saling serang antara AS dan Iran di kawasan Teluk.
Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Variatif, Rupiah Masih Jadi yang Terlemah Sepanjang 2026 Mengutip
Reuters, data perusahaan pelacakan pelayaran Kpler menunjukkan hanya tujuh kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu, turun dari 13 kapal pada hari sebelumnya. Sebagian besar kapal tersebut melintasi jalur pelayaran di sisi Iran. Ketegangan di kawasan meningkat sejak Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu malam. Operasi militer yang berlangsung di wilayah tersebut membuat kapal-kapal semakin enggan melintasi jalur pelayaran strategis yang sebelum perang mengangkut sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia. Data Kpler menunjukkan, dari tujuh kapal yang melintas pada Rabu, empat kapal memasuki Teluk. Kapal-kapal tersebut terdiri dari tiga kapal tanker minyak berukuran kecil yang kosong serta satu kapal curah (
dry bulk carrier) yang digunakan untuk mengangkut biji-bijian.
Baca Juga: Bursa Asia Melemah, Saham Semikonduktor Tertekan Jelang Laporan Keuangan TSMC Sementara itu, tiga kapal lainnya keluar dari Selat Hormuz dengan membawa muatan berupa liquefied petroleum gas (LPG), batu bara, dan minyak bakar (fuel oil). Pada Selasa (14/7), data Kpler juga mencatat sebuah kapal tanker jenis Suezmax yang mengangkut sekitar 1 juta barel minyak mentah Arab Saudi berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan transponder dimatikan, sehingga sinyal identifikasi kapal tidak dapat dipantau secara normal. Di sisi lain, tidak ada kapal tanker minyak mentah berukuran Very Large Crude Carrier (VLCC) maupun kapal pengangkut gas alam cair (LNG) yang tercatat melintasi Selat Hormuz sepanjang Rabu. Penurunan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global apabila konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat.