KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali menurun pada Rabu (10/9/2026), berdasarkan data awal pelacakan kapal. Kondisi ini menunjukkan lalu lintas kapal di jalur strategis pengiriman energi tersebut masih berada di bawah rata-rata dalam 10 hari terakhir. Data pelacakan kapal menunjukkan sebanyak tujuh kapal melintasi Selat Hormuz pada Rabu. Jumlah tersebut turun dibandingkan 12 kapal yang tercatat pada hari sebelumnya dan berada jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 14 kapal. Dari total tujuh kapal yang melintas, sebanyak empat kapal keluar dari Selat Hormuz, sementara tiga kapal lainnya masuk ke jalur perairan tersebut.
Namun, data tersebut belum tentu mencerminkan seluruh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Sejumlah kapal kemungkinan tetap melintasi jalur tersebut dengan mematikan transponder, sehingga tidak tercatat dalam perhitungan. Dari empat kapal yang keluar, salah satunya merupakan kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar atau very large crude carrier (VLCC), yakni Finland Prosperity. Kapal tersebut membawa hampir 2 juta barel minyak mentah.
Baca Juga: Trump Ancam Serang Pickaxe Mountain, Fasilitas Strategis Nuklir Iran Sementara itu, tidak terdapat kapal pengangkut gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang tercatat keluar dari Selat Hormuz pada Rabu. Tiga kapal lainnya yang keluar dari jalur tersebut terdiri dari dua kapal pengangkut muatan curah kering atau dry bulk carrier dan satu kapal tanker produk minyak berjarak pendek. Adapun dari tiga kapal yang masuk ke Selat Hormuz, satu di antaranya merupakan kapal pengangkut muatan curah kering. Dua kapal lainnya terdiri dari satu tanker jarak pendek dan satu tanker berukuran medium range. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan energi global. Penurunan jumlah kapal yang melintas menjadi perhatian karena jalur ini menjadi rute utama pengiriman minyak mentah dan produk energi dari kawasan Timur Tengah.
Lalu Lintas di Selat Bab el-Mandeb Stabil
Berbeda dengan Selat Hormuz, aktivitas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb relatif stabil pada Rabu.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan, Harga Minyak Tembus US$100 dan Picu Inflasi Sekitar 28 kapal pengangkut komoditas tercatat melintasi Selat Bab el-Mandeb. Angka tersebut relatif sejalan dengan rata-rata 10 hari yang mencapai 27 kapal. Dari total tersebut, sebanyak 16 kapal masuk ke jalur Selat Bab el-Mandeb, sedangkan 12 kapal keluar. Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu rute penting bagi perdagangan antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Pergerakan kapal di kedua selat tersebut menjadi indikator penting bagi aktivitas perdagangan komoditas dan energi global, terutama karena gangguan atau penurunan lalu lintas di jalur strategis dapat berdampak terhadap waktu pengiriman, biaya logistik, serta pasokan energi.