Lalu Lintas Kapal di Selat Selat Hormuz Masih Terhenti, Hanya Tiga Kapal Melintas



​KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih nyaris terhenti hingga Selasa (21/4/2026), dengan hanya tiga kapal yang tercatat melintasi jalur strategis tersebut dalam 24 jam terakhir, berdasarkan data pelayaran.

Kondisi ini terjadi di tengah blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran yang memicu kemarahan Teheran.

Sebagai respons, Iran mempertahankan pembatasan di Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.


Baca Juga: Trump Ajukan Anggaran Pertahanan AS US$ 1,5 triliun, Terbesar Sejak Era Pasca PD II

Melansir Reuters Selasa (21/4/2026), data pelacakan kapal dari platform MarineTraffic menunjukkan, kapal tanker produk Ean Spir, yang tidak memiliki bendera maupun kepemilikan yang jelas, melintas pada Selasa setelah sebelumnya singgah di pelabuhan Irak.

Kapal kargo Lian Star, yang juga tidak diketahui bendera maupun pemiliknya, turut melintasi selat tersebut dari pelabuhan Iran.

Sementara itu, kapal tanker gas minyak cair (LPG) Meda tercatat menyeberangi selat pada Senin (20/4/2026).

Kapal ini sebelumnya sempat berbalik arah sebelum akhirnya berhasil keluar dari Teluk dalam upaya kedua, menurut analisis satelit dari perusahaan analitik data SynMax.

Baca Juga: Trump Enggan Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Isyaratkan Opsi Militer

Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata sekitar 140 kapal per hari yang melintasi Selat Hormuz sebelum pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu.

Sempat terjadi lonjakan aktivitas setelah Iran mengumumkan pembukaan sementara selat pada Jumat lalu, dengan lebih dari selusin kapal melintas.

Namun, sehari kemudian Teheran kembali menutup jalur tersebut dan bahkan melepaskan tembakan ke arah kapal yang melintas.

Pialang kapal BRS dalam laporannya pekan ini menyebutkan bahwa bahkan kapal yang memenuhi syarat untuk melintas tetap menghadapi risiko tinggi.

“Kapal yang tampaknya memenuhi semua kriteria untuk melewati kedua blokade sekalipun masih bisa berada dalam bahaya dan gagal melintas,” tulis BRS.

Upaya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran juga tampak berada di ujung tanduk. Iran belum menyatakan komitmen untuk mengikuti pembicaraan damai terbaru, sementara militer AS mengklaim telah menyita kapal tanker yang terkait Iran di perairan internasional.

Baca Juga: NASA Temukan Senyawa Organik Baru di Mars, Perkuat Dugaan Ada Kehidupan

Ribuan Pelaut Terjebak

Situasi ini turut berdampak besar terhadap keselamatan pelaut. Diperkirakan ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut masih terjebak di kawasan Teluk dan tidak dapat berlayar.

Sekretaris Jenderal organisasi pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa, Arsenio Dominguez, menegaskan bahwa keselamatan pelaut menjadi prioritas utama.

“Kami tidak bisa mempertaruhkan nyawa para pelaut,” ujarnya kepada wartawan di sela pekan maritim di Singapura.

Ia menambahkan bahwa insiden akhir pekan lalu menunjukkan tingginya risiko di kawasan tersebut.

Baca Juga: IPO Jumbo di India Marak, Gaji Bankir Investasi India Meroket 30%

“Pada Jumat, beberapa kapal mulai berlayar, tetapi kemudian diumumkan bahwa selat ditutup dan sejumlah kapal menjadi sasaran. Beruntung tidak ada korban jiwa maupun kerusakan kapal,” jelasnya.

Di sisi lain, militer Iran menyatakan bahwa sebuah tanker Iran berhasil memasuki perairan teritorialnya dari Laut Arab pada Senin dengan bantuan angkatan laut Iran, meskipun mendapat peringatan dan ancaman dari satuan tugas angkatan laut AS.

BRS memperkirakan saat ini terdapat 61 supertanker non-Iran yang terjebak di Teluk, di mana 50 di antaranya mengangkut muatan hingga 2 juta barel per kapal.

“Di saat dunia sangat membutuhkan minyak mentah, tambahan pasokan sebesar 2 juta barel dari Teluk Timur Tengah tentu akan sangat disambut,” tulis BRS.