KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz anjlok drastis di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Data pelayaran pada Jumat (24/4) menunjukkan hanya lima kapal yang melintasi jalur strategis tersebut dalam 24 jam terakhir, jauh di bawah rata-rata normal sekitar 140 kapal per hari sebelum konflik pecah pada 28 Februari. Penurunan tajam ini terjadi setelah Iran menyita dua kapal kontainer dalam sepekan terakhir, sementara Amerika Serikat terus memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Kondisi ini membuat pelayaran global semakin berhati-hati meskipun terdapat gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara. Jakob Larsen, Kepala Keamanan dan Keselamatan di BIMCO, menyatakan bahwa perusahaan pelayaran membutuhkan jaminan keamanan sebelum kembali beroperasi normal di jalur tersebut.
“Untuk sebagian besar perusahaan pelayaran, mereka membutuhkan gencatan senjata yang stabil dan jaminan dari kedua pihak bahwa Selat Hormuz aman untuk dilintasi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa untuk sementara, kapal-kapal hanya dapat menggunakan jalur sempit di dekat Iran dan Oman. Namun, rute ini tidak mampu menampung volume pelayaran normal karena keterbatasan kapasitas dan risiko keselamatan.
Baca Juga: Harga Minyak Berbalik Turun, Sinyal Negosiasi Iran–AS Redam Kekhawatiran Pasar Ketidakpastian Tinggi di Jalur Energi Global
Salah satu kapal yang berhasil melintasi selat adalah tanker produk minyak berbendera Iran, Niki, yang diketahui berada di bawah sanksi Amerika Serikat. Berdasarkan data pelacakan dari platform MarineTraffic dan analisis Kpler, kapal tersebut tidak mencantumkan tujuan pelayaran yang jelas. Situasi semakin rumit karena belum jelas bagaimana nasib kapal-kapal yang mencoba melanjutkan perjalanan ke arah timur, mendekati garis blokade Angkatan Laut AS. Hampir dua bulan sejak serangan militer AS dan Israel terhadap Iran, belum ada tanda-tanda dimulainya kembali pembicaraan damai. Ketidakpastian ini membuat perusahaan pelayaran global menahan diri untuk kembali melintasi jalur tersebut. Perusahaan pelayaran kontainer Hapag-Lloyd menyatakan bahwa salah satu kapalnya telah berhasil melintasi Selat Hormuz, namun tidak merinci waktu maupun kondisi pelayaran tersebut. Sementara itu, supertanker Helga berbendera Komoro tiba di terminal minyak lepas pantai di Basra, Irak selatan, menjadi kapal kedua yang berhasil mencapai Irak sejak penutupan selat.
Ancaman Keamanan dan Krisis Energi Global
Ketegangan meningkat setelah Iran menggunakan kapal cepat dalam jumlah besar untuk menyita dua kapal kontainer di dekat selat pada Rabu. Insiden ini memicu kekhawatiran serius di kalangan perusahaan pelayaran dan energi. Analis utama dari platform intelijen logistik Xeneta, Peter Sand, menegaskan bahwa kondisi saat ini tetap berisiko tinggi.
Baca Juga: Italia Menolak Keras! Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia Picu Kontroversi “Penyitaan terbaru menunjukkan bahwa bahkan Selat Hormuz yang ‘terbuka’ pun tidak benar-benar aman bagi pelaut, kapal, maupun kargo,” ujarnya. Data dari Lloyd’s List Intelligence menunjukkan bahwa dalam periode 22–23 April, hanya tujuh kapal yang melintasi selat, dan enam di antaranya terkait dengan perdagangan Iran. Penutupan jalur ini telah mengganggu sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, memicu krisis energi global yang berdampak luas terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi internasional. Akibat kondisi ini, ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut dilaporkan masih terjebak di kawasan Teluk. Perusahaan asuransi risiko perang dan pelaku industri energi terus memantau perkembangan situasi sebelum memutuskan untuk kembali beroperasi di jalur tersebut.