Lampung-1, Satelit AI Pertama Indonesia Resmi Diluncurkan Dari China, Apa Manfaatnya?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Satelit Lampung-1, yang disebut sebagai satelit kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hiperspektral pertama Indonesia, resmi diluncurkan ke orbit pada Rabu (5/8). Apa manfaat satelit Lampung-1 bagi Indonesia?

Peluncuran dilakukan oleh perusahaan antariksa komersial China STAR.VISION menggunakan roket Jielong-3 Y12 dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China.

Dalam misi tersebut, roket membawa dua satelit hiperspektral, yakni Oriental Smart Eye (OSE) Hyperspectral-01 dan OSE Hyperspectral-02. Satelit OSE Hyperspectral-01 kemudian diberi nama Lampung-1 oleh Indonesia.


Lampung-1 dikembangkan melalui kerja sama STAR.VISION, Universitas Wuhan, sejumlah lembaga riset di China, serta Pemerintah Provinsi Lampung.

Baca Juga: Mendagri Sebut Pemulihan Bencana Sumatera Tak Bisa Tuntas dalam Satu Tahun

Dukung kerja sama antariksa Indonesia-China

Lampung-1 menjadi bagian dari kerja sama Indonesia dan China di bidang teknologi antariksa, penginderaan jauh (remote sensing), kecerdasan buatan, serta pengembangan sumber daya manusia di sektor antariksa.

Satelit ini dirancang untuk mendukung berbagai kebutuhan pemantauan sumber daya alam, lingkungan, hingga mitigasi bencana di Indonesia.

Spesifikasi Lampung-1

Lampung-1 memiliki sejumlah spesifikasi yang dirancang untuk menghasilkan citra satelit beresolusi tinggi sekaligus mampu memproses data menggunakan teknologi AI langsung dari orbit.

Berikut spesifikasinya:

Spesifikasi Keterangan
Bobot satelit 300 kilogram
Sensor 22 saluran spektral
Rentang panjang gelombang 400–1.650 nanometer
Resolusi spasial Hingga 5 meter
Lebar cakupan pencitraan 300 kilometer
Siklus kunjungan ulang 5 hari (dengan dua satelit)
Kapasitas komputasi AI 400 TOPS

Mampu mengolah data dengan AI di luar angkasa

Salah satu keunggulan utama Lampung-1 adalah kemampuan melakukan inferensi AI langsung di orbit.

Dengan kapasitas komputasi mencapai 400 TOPS (Tera Operations Per Second), satelit ini tidak hanya mengambil gambar permukaan bumi, tetapi juga dapat menganalisis data secara langsung sebelum dikirim ke stasiun bumi.

Teknologi tersebut memungkinkan satelit mengidentifikasi objek maupun perubahan di permukaan bumi, seperti:

  • Kondisi tanaman pertanian.
  • Perubahan tutupan lahan.
  • Kerusakan akibat bencana.
  • Kondisi wilayah pesisir dan laut.
  • Perubahan lingkungan.
Karena hanya hasil analisis yang dikirim ke bumi, kebutuhan bandwidth transmisi data menjadi jauh lebih efisien dibanding satelit konvensional.

Tonton: Freeport Ajukan Perpanjangan IUPK Grasberg hingga Setelah 2041

Manfaat Lampung-1 bagi Indonesia

Sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas, Indonesia dinilai memiliki banyak kebutuhan terhadap data penginderaan jauh.

Teknologi hiperspektral memungkinkan identifikasi karakteristik berbagai material berdasarkan respons spektralnya sehingga dapat dimanfaatkan di berbagai sektor.

Beberapa potensi penerapan Lampung-1 antara lain:

  • Pemantauan pertanian dan perkebunan.
  • Pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan.
  • Mitigasi bencana alam.
  • Pemantauan lingkungan hidup.
  • Survei sumber daya mineral.
  • Pengelolaan wilayah pesisir.
Menurut STAR.VISION, desain spektral Lampung-1 disesuaikan dengan karakteristik geografis dan kebutuhan pembangunan Provinsi Lampung sehingga optimal digunakan untuk sektor pertanian, pengelolaan sumber daya maritim, dan penanganan bencana.

Tonton: Stimulus EV Baru Segera Meluncur, Mobil Listrik Dapat Subsidi 40%

Tonggak kerja sama antariksa Indonesia-China

Proyek Lampung-1 berawal dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Mei 2025 antara Pemerintah Provinsi Lampung, STAR.VISION, Oriental Maritime Space Port, dan sejumlah mitra di China.

Selanjutnya, STAR.VISION bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperluas pemanfaatan data penginderaan jauh di Indonesia. Perusahaan tersebut juga menyerahkan platform aplikasi penginderaan jauh TerraVista kepada BRIN guna memperkuat kapasitas analisis data satelit nasional.

Bagian dari Konstelasi Satelit AI China-ASEAN

Lampung-1 juga menjadi satelit pertama dalam Konstelasi Satelit AI China-ASEAN yang diperkenalkan pada China-ASEAN Expo 2025.

Inisiatif tersebut mengusung konsep "satu negara satu satelit" dengan tujuan membangun jaringan satelit regional yang dapat dimanfaatkan bersama oleh negara-negara ASEAN.

Ke depan, konstelasi ini diharapkan mendukung berbagai layanan berbasis data satelit, mulai dari pemantauan pertanian, perlindungan lingkungan, tata kelola maritim, sistem peringatan dini bencana, hingga pengembangan ekonomi digital berbasis teknologi antariksa di kawasan Asia Tenggara.

Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/08/05/164941070/satelit-lampung-1-meluncur-ke-orbit-hasil-kerja-sama-china-indonesia?page=all#page2.  

Deposito Bank Digital, Siapa Paling Tinggi?
© 2026 Konten oleh Kontan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: