Pencapaiannya memiliki sejumlah restoran dan mampu menjual sambal udang Bu Rudy yang tersohor hingga ke negeri tetangga dijalani Lani Siswadi dari nol. Masa kecil yang sulit memberinya semangat untuk gigih dan rajin bekerja. Lani Siswadi atau lebih dikenal sebagai Bu Rudy, pemilik Sambal Bu Rudy mengaku hidupnya sejak kecil tidak mudah. Di lahir di Madiun pada tahun 1953 sebagai keturunan Tionghoa. Sejak kecil Lani sudah pandai memasak untuk membantu ibunya berjualan makanan khas Madiun. Pada tahun 1960-an kondisi keuangan keluarganya cukup sulit. Sampai akhirnya ayahnya meninggal, Lani pun tidak melanjutkan pendidikan dasarnya. Namun, kepahitan hidup di masa kecil membuatnya memiliki rasa tanggung jawab dan rajin melakukan pekerjaan apapun asal menghasilkan uang yang halal.
Pada akhir tahun 1970, Lani merantau ke Surabaya untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Dia hanya mempersiapkan modal keyakinan dan restu dari sang ibu. Karena tidak tamat SD, Lani tidak memiliki keterampilan apapun, hanya menjual tenaga. Ia lantas bekerja bantu-bantu pedagang di Pasar Turi hingga menjaga toko untuk mendapatkan pemasukan. Lantas di tahun 1978 Lani bertemu dengan Rudy Siswadi dan menikah. Setelah beberapa tahun menikah, Lani memiliki keinginan untuk membuka usaha sendiri. Dia pun menjajal berjualan sepatu di Pasar Turi pada tahun 1983. Keahliannya memasak sejak kecil juga dia manfaatkan dengan berjualan masakan khas Madiun di tahun 1990. Namun usahanya berjualan sepatu berhenti di tahun 2007 setelah Pasar Turi terbakar dan tokonya ikut hangus. Sementara bisnis kulinernya terus dia jalani. Untuk cikal bakal membuat sambal yang kini menjadi begitu ternama, awalnya karena kegemaran suaminya memancing. Jika tangkapan ikan sedang sepi, terkadang umpan berupa udang kecil tidak habis buat memancing. Akhirnya Lani berinisiatif membuat sambal campur udang untuk mereka santap bersama lauk pauk. Ternyata, sambal buatannya disukai oleh keluarga dan kerabat dekatnya. Sambal ini pun dijadikan tambahan untuk menu nasi pecel Madiun yang awalnya dijual keliling sampai dia memiliki gerai kecil Jalan Manyar Kertoarjo, dekat dari Institut Teknologi Sepuluh November. Sejak itu menu sambal udang buatannya menjadi andalan di warung nasinya. "Banyak orang heran, orang keturunan Tionghoa seperti saya bisa pandai masak masakan Jawa Timuran," kata dia tertawa.
Sebetulnya Lani mengaku, sambalnya hanya terdiri dari udang kecil, potongan bawang, cabai, garam, dan minyak saja. Namun, entah mengapa banyak yang suka karena jarang ditemui di warung makan lain. Bahkan, banyak juga yang datang ke warungnya hanya untuk membeli sambal. Seiring berkembangnya usaha, Lani pun mulai menjual sambal udang dalam kemasan di tahun 2001. Modal awal yang dia kucurkan saat itu hanya beberapa ratus ribu rupiah untuk membeku bahan baku dan kemasan botol. Ia datang ke pabrik botol dan minta dibuatkan kemasan dan sekaligus dibuatkan logo Sambal Bu Rudy. Kemasan sangat sederhana dengan pilihan tiga warna untuk tutupnya. Botol dengan tutup kuning untuk sambal bawang, hijau untuk sambal peda, dan merah untuk sambal terasi. Baginya, kemasan tidak perlu mewah, tapi yang penting rasanya. (Bersambung) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News