Lanskap Ritel Nasional, MR.D.I.Y. Ungkap Pergeseran Pola Belanja Permanen



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Memasuki 2026, PT Daya Intiguna Yasa Tbk atau MR.D.I.Y. Indonesia membaca sinyal yang menarik dari pasar ritel domestic, khususnya belanja konsumen tidak lagi bertumpu di kota-kota besar. Sepanjang 2025, MR DIY mencatat pemerataan aktivitas belanja hingga ke kota-kota tier 2 dan tier 3, seiring agresifnya ekspansi jaringan toko.

Tahun lalu, MR.D.I.Y. membuka lebih dari 270 toko baru dan menutup 2025 dengan total 1.200 gerai, termasuk pembukaan di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Langkah ini sekaligus menjadi strategi menangkap potensi konsumsi daerah di tengah daya beli yang masih belum sepenuhnya pulih merata.


Manajemen mencatat, lonjakan aktivitas belanja di luar kota besar terutama ditopang oleh kebutuhan perlengkapan rumah tangga. Pola ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi, konsumen cenderung memprioritaskan belanja barang yang fungsional, relevan, dan bernilai guna tinggi, ketimbang produk yang bersifat tersier.

Presiden Direktur MR.D.I.Y. Indonesia Edwin Cheah mengatakan, pemerataan permintaan ini menandai perubahan lanskap ritel nasional. “Permintaan yang semakin merata di berbagai wilayah menunjukkan bahwa konsumen kini memiliki ekspektasi yang semakin serupa terhadap produk rumah tangga yang fungsional dan bernilai,” ujarnya, dalam siaran pers (29/1).

Baca Juga: Langkah Hijau MR DIY: Tambah 52 Dropbox Daur Ulang 2025

Namun, di balik ekspansi dan meluasnya basis konsumen, ada perubahan perilaku belanja yang patut dicermati. Sepanjang 2025, konsumen semakin selektif dan terencana. Harga, fungsi, serta manfaat jangka panjang menjadi pertimbangan utama sebelum membeli.

Fenomena ini menguatkan satu pesan, konsumen kini tidak lagi mudah tergoda belanja impulsif murni, kecuali jika harganya murah dan manfaatnya jelas. Barang-barang kecil, murah, dan sering dibeli ulang (fast moving) justru menjadi penopang volume penjualan.

Ke depan, MR.D.I.Y. memperkirakan pola belanja ini akan bertahan. Konsumen diproyeksikan semakin fokus pada produk esensial dan serbaguna, dengan siklus belanja yang lebih rutin dan terencana, tidak lagi terlalu bergantung pada momentum musiman atau sekadar berburu diskon.

Menyambut Ramadan, manajemen tetap memproyeksikan kenaikan transaksi, terutama untuk kebutuhan rumah tangga dan perlengkapan dapur. Namun, lonjakan belanja diperkirakan tidak lagi bersifat spontan. Konsumen disebut akan berbelanja lebih awal dan lebih terukur, memanfaatkan promosi untuk menjaga anggaran tetap terkendali di tengah tekanan biaya hidup.

“Kami melihat konsumen semakin bijak dalam berbelanja. Prioritas kebutuhan kini dibarengi pertimbangan fungsi, relevansi, dan fleksibilitas produk,” kata Edwin.

Baca Juga: SRC Terus Konsisten Memberdayakan UMKM dan Memperkuat Kemandirian Ekonomi Rakyat

Selanjutnya: Bisnis Penyimpanan Karbon di Indonesia Masuk Fase Persiapan Implementasi

Menarik Dibaca: Katalog Promo JSM Alfamidi Spesial Gajian Periode 29 Januari-1 Februari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: