KONTAN.CO.ID - Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan ketahanan lebih kuat dari perkiraan pada Oktober 2026. Pertumbuhan lapangan kerja melampaui ekspektasi ekonom, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,1%. Kondisi ini memberikan ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk lebih berfokus mengendalikan inflasi, terutama di tengah tekanan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Melansir
Reuters, berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) yang dirilis Jumat (6/11/2026), jumlah tenaga kerja nonpertanian atau nonfarm payrolls bertambah 165.000 pekerjaan pada Oktober.
Baca Juga: Thomas Tuchel Coret Cole Palmer dari Skuad Timnas Inggris, Ini Alasannya Angka tersebut meningkat dibandingkan kenaikan 60.000 pekerjaan pada September, yang telah direvisi naik dari laporan sebelumnya sebesar 29.000 pekerjaan. Hasil tersebut juga jauh melampaui perkiraan ekonom yang disurvei Reuters, yakni penambahan 65.000 pekerjaan. Perkiraan ekonom sebelumnya berada dalam rentang 35.000 hingga 125.000 pekerjaan. Secara historis, perekonomian AS diperkirakan perlu menciptakan sedikitnya 40.000 pekerjaan setiap bulan untuk mengimbangi pertumbuhan populasi usia kerja. Angka kebutuhan tersebut, yang dikenal sebagai breakeven rate, telah turun dari sekitar 150.000 pekerjaan pada 2024 seiring menyusutnya jumlah angkatan kerja. Selain pertumbuhan lapangan kerja, tingkat pengangguran AS juga turun menjadi 4,1% pada Oktober dari 4,2% pada September. Rendahnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam beberapa waktu terakhir, ditambah peningkatan lowongan pekerjaan, memunculkan potensi pengetatan pasar tenaga kerja.
Baca Juga: Gelombang Ancaman Bom Kembali Sasar Penerbangan Eropa, Ini Perkembangannya Meski demikian, sejumlah ekonom dan pejabat bank sentral AS menilai kondisi pasar tenaga kerja saat ini belum menimbulkan risiko inflasi. Sebagian ekonom berpendapat, rendahnya tingkat pengangguran lebih banyak dipengaruhi oleh menyusutnya pasokan tenaga kerja akibat kebijakan pengetatan imigrasi dan meningkatnya jumlah pekerja yang memasuki masa pensiun. Pasar tenaga kerja jadi pertimbangan The Fed Ketahanan pasar tenaga kerja menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter AS. Pekan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuan atau federal funds rate pada kisaran 3,75%-4,00%. Sejumlah ekonom memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember. Laporan inflasi konsumen AS untuk Oktober yang dijadwalkan terbit Selasa pekan depan juga berpotensi memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter pada awal 2027.
Baca Juga: Investasi Saham Trump Media Babak Belur, Investor Rugi US$ 2,2 Miliar Meski pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan, penambahan lapangan kerja dinilai belum sebanding dengan pertumbuhan ekonomi AS. Produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh pada tingkat tahunan 3,4% pada kuartal III-2026. Pertumbuhan tersebut ditopang kuatnya konsumsi masyarakat serta peningkatan investasi perusahaan secara agresif di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ekonom menilai sejumlah perusahaan kemungkinan merekrut pekerja secara berlebihan setelah pandemi Covid-19. Selain itu, sebagian pelaku usaha masih belum yakin mengenai kebutuhan tenaga kerja seiring penerapan teknologi AI dalam kegiatan operasional. Ketidakpastian akibat perang AS-Israel dengan Iran yang telah berlangsung selama sembilan bulan juga turut menekan keputusan perusahaan untuk menambah pekerja. Konflik tersebut mendorong kenaikan harga energi dan menambah beban ketidakpastian ekonomi.
Baca Juga: Inflasi AS Masih Tinggi, The Fed Tegaskan Target 2% Jadi Prioritas Di sisi lain, terbatasnya peluang kerja membuat kelompok dewasa muda, lulusan perguruan tinggi baru, serta sebagian pengangguran semakin sulit memperoleh pekerjaan. Ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan kemarahan atas konflik di Timur Tengah turut menjadi faktor yang membebani Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump. Dalam pemilihan paruh waktu atau
midterm elections pekan ini, Partai Demokrat mencatatkan hasil kuat hingga berhasil mengambil alih kendali Kongres.