KONTAN.CO.ID - Manchester United mencatat rekor pendapatan dalam laporan keuangan terbaru. Namun, peningkatan pemasukan tersebut belum mampu membuat klub keluar dari kerugian. Berdasarkan laporan keuangan untuk tahun fiskal yang berakhir 30 Juni 2026 yang dirilis pada Rabu (23/9), Manchester United membukukan pendapatan sebesar £677,6 juta atau sekitar Rp16,02 triliun. Angka tersebut menjadi rekor pendapatan baru bagi Manchester United, meningkat dari £666,5 juta atau sekitar Rp15,76 triliun pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, klub tetap mencatat kerugian sebelum pajak sebesar £43 juta atau sekitar Rp1,02 triliun. Kerugian tersebut bahkan meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai £33 juta atau sekitar Rp780,45 miliar.
Baca Juga: Jim Ratcliffe Kembali Bikin Polemik, Suporter Muslim Man United: Dia Harus Pergi Pendapatan Naik, Tetap Rugi
Pendapatan Manchester United meningkat sekitar 1,7% menjadi £677,6 juta. Namun, beban keuangan yang harus ditanggung klub membuat kenaikan pemasukan tersebut belum cukup untuk menghasilkan laba bersih.
The Guardian melaporkan, kerugian £43 juta pada 2025/2026 membuat Manchester United mencatat kerugian tahunan selama tujuh tahun berturut-turut sejak 2019. Secara akumulatif, kerugian Manchester United sejak 2019 telah mencapai £444 juta atau sekitar Rp10,50 triliun. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kerugian terbaru adalah meningkatnya biaya pembiayaan klub, selain kompensasi untuk mantan pelatih Ruben Amorim.
Baca Juga: 4 Bek Jadi Target Manchester United pada 2027, INEOS Siapkan Rp11,4 Triliun Sukses Catat Laba Operasional
Klub mencatat laba operasional sebesar £22,6 juta atau sekitar Rp534,49 miliar pada tahun fiskal 2025/2026. Pada periode sebelumnya, Manchester United masih membukukan kerugian operasional sebesar £18,4 juta atau sekitar Rp435,16 miliar. Menurut
Sky Sports, perbaikan tersebut berkaitan dengan pengurangan biaya operasional dan jumlah karyawan yang sebelumnya dilakukan klub, serta peningkatan performa Manchester United di Premier League. Salah satu alasan Manchester United tetap mencatat kerugian meski memperoleh laba operasional adalah melonjaknya biaya keuangan. Biaya keuangan bersih klub meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari £21,2 juta pada tahun sebelumnya menjadi £69,2 juta atau sekitar Rp1,64 triliun.
The Guardian menyebut kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi pergerakan nilai tukar serta proses
refinancing sejumlah pinjaman klub. Kondisi tersebut turut membuat utang bersih Manchester United meningkat dari £471,9 juta menjadi £577,6 juta atau setara Rp13,66 triliun. Sementara itu, beban gaji Manchester United justru turun 3,6% menjadi £301 juta atau sekitar Rp7,12 triliun.
Baca Juga: Liverpool Jadi Klub dengan Skuad Termahal, Nilainya Tembus Rp25 Triliun Pendapatan Manchester United Diproyeksi Naik Lagi
Manchester United memasuki musim 2026/2027 dengan peluang meningkatkan pendapatan setelah kembali tampil di Liga Champions.
Selain pemasukan dari kompetisi Eropa, klub juga mendapatkan peningkatan nilai dari sejumlah kesepakatan komersial. Kerja sama dengan partner apparel latihan Betway diproyeksikan memberikan £20 juta atau sekitar Rp473 miliar per tahun. Sementara sponsor bagian lengan jersey, SumUp, memberikan nilai £22 juta atau sekitar Rp520,3 miliar per tahun. Dalam rilis resmi klub, Manchester United memproyeksikan pendapatan antara £740 juta hingga £760 juta untuk tahun fiskal 2026/2027. Nilai tersebut setara sekitar Rp17,50 triliun hingga Rp17,97 triliun.
Baca Juga: Konsorsium Jeff Bezos Akuisisi 38% Saham Liverpool, Nilainya Capai Rp55 Triliun