Laporan Keuangan Meta: Free Cash Flow Ambles 91% Akibat Belanja AI



KONTAN.CO.ID - Meta Platforms mencatat penurunan tajam arus kas bebas (free cash flow/FCF) pada kuartal II 2026.

Meski pendapatan perusahaan masih tumbuh kuat, lonjakan belanja untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) membuat kemampuan Meta menghasilkan kas tergerus drastis.

Dalam laporan keuangan yang dirilis Rabu (29/7), induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu membukukan free cash flow sebesar US$784 juta (sekitar Rp14,17 triliun), turun 91% dari US$8,55 miliar (sekitar Rp154,58 triliun) pada periode yang sama tahun lalu.


Mengutip catatan Reuters, penurunan tersebut membuat saham Meta sempat merosot sekitar 10% dalam perdagangan setelah penutupan bursa.

Baca Juga: Belanja AI Membengkak, Kepercayaan Investor terhadap Tesla Diuji

Pendapatan Masih Tumbuh, Belanja AI Terus Naik

Pendapatan perusahaan naik 28% secara tahunan menjadi US$60,8 miliar (sekitar Rp1.099 triliun) pada kuartal II 2026, menjadi salah satu pertumbuhan tercepat sejak 2021.

CEO Meta Mark Zuckerberg mengatakan perusahaan akan terus memprioritaskan investasi AI untuk memperkuat bisnis jangka panjang.

"Sebagian besar kapasitas komputasi kami akan digunakan untuk melatih model AI, mengembangkan bisnis inti, menghadirkan agen AI pribadi dan produk-produk baru. Kami juga berharap membangun bisnis besar yang melayani pelanggan skala besar," ujar Zuckerberg, dikutip Reuters.

Saat ini Meta memiliki 32 pusat data yang telah beroperasi maupun masih dalam tahap pembangunan di seluruh dunia. Sebanyak 28 di antaranya berada di Amerika Serikat.

Sejalan dengan strategi tersebut, Meta kembali menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2026 menjadi US$130 miliar hingga US$145 miliar.

Sebelumnya, perusahaan memperkirakan capex berada di kisaran US$125 miliar hingga US$145 miliar.

Baca Juga: Korea Selatan Kaji Pembatasan ETF Leverage di Tengah Demam Saham AI

Tekanan Free Cash Flow Semakin Jelas

Grafik yang menyertai laporan keuangan memperlihatkan bahwa penurunan free cash flow bukan terjadi secara tiba-tiba.

Dalam beberapa kuartal sebelumnya, Meta masih mampu menghasilkan arus kas bebas yang relatif kuat.

Namun, pada kuartal II 2026, free cash flow turun drastis menjadi hanya US$784 juta, level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini menunjukkan besarnya investasi AI mulai menggerus kemampuan perusahaan menghasilkan kas, meski bisnis iklan yang menjadi sumber pendapatan utama masih bertumbuh.

Dalam detail lain, terlihat juga bahwa utang Meta kini lebih besar dari kas. Pada 2025, utang jangka panjang Meta telah melampaui kas dan setara kas yang dimiliki perusahaan.

Belanja AI Big Tech Diprediksi Tembus US$700 Miliar

Meta bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang menggelontorkan dana besar untuk AI.

Pekan lalu, Alphabet melaporkan arus kas bebas negatif untuk pertama kalinya setelah menghabiskan US$5,9 miliar (sekitar Rp106,67 triliun) pada kuartal II.

Secara keseluruhan, belanja AI perusahaan-perusahaan teknologi raksasa diperkirakan mencapai lebih dari US$700 miliar (sekitar Rp12.656 triliun) sepanjang tahun ini.

Morgan Stanley bahkan memperkirakan nilainya dapat melampaui US$1 triliun (sekitar Rp18.080 triliun) pada tahun depan.

Baca Juga: Apa Itu Hegemoni AI? China Tuduh AS Batasi Kemajuan Teknologi

Saham Meta Mulai Tertinggal

Data pergerakan saham juga menunjukkan investor mulai lebih berhati-hati terhadap perusahaan yang menggelontorkan investasi AI dalam jumlah besar.

Berdasarkan data LSEG Datastream yang dikutip Reuters, saham Meta telah melemah sekitar 17,3% dalam 12 bulan terakhir. Sebaliknya, saham Alphabet masih menguat sekitar 73,3%, sedangkan Apple naik hampir 58,9%.

Microsoft juga mengalami tekanan lebih besar dengan penurunan sekitar 23,3%, sementara Amazon bergerak relatif datar.

Selain tekanan akibat investasi AI, Meta juga masih menghadapi sejumlah persoalan hukum.

Meta dituduh merancang Facebook dan Instagram agar membuat pengguna muda kecanduan serta menyesatkan publik mengenai tingkat keamanan platformnya.

Dalam dokumen pengadilan yang diajukan bulan ini, perusahaan mengungkapkan bahwa empat negara bagian di Amerika Serikat menuntut denda hingga US$1,4 triliun (sekitar Rp25.312 triliun).

Baca Juga: Citi Turunkan Rekomendasi Saham Korea Selatan, Volatilitas Sektor AI Jadi Alasan

TAG: