KONTAN.CO.ID - Sosok Jerome Hayden Powell kembali menjadi perhatian pelaku pasar global seiring dengan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang krusial. Sebagai Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve (The Fed), Powell memegang kendali atas suku bunga acuan di negara ekonomi terbesar dunia tersebut, yang secara langsung berdampak pada likuiditas global dan arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Lahir di Washington, D.C., pada 4 Februari 1953, Powell memiliki latar belakang yang cukup berbeda dibandingkan pendahulunya.
Baca Juga: Waspada Gelembung AI? Alphabet Malah Tembus Rekor Valuasi US$ 4 Triliun Mengutip laman resmi
Federal Reserve, Powell merupakan ketua pertama dalam tiga dekade terakhir yang tidak memegang gelar doktor di bidang ekonomi, melainkan berlatar belakang pendidikan hukum dari Princeton University dan Georgetown University. Hal ini memberikan perspektif praktis dalam pengambilan kebijakan yang sering kali melibatkan aspek hukum dan regulasi perbankan yang kompleks.
Perjalanan Karier dan Pengalaman Profesional
Sebelum menempati posisi puncak di bank sentral AS, Powell membangun karier yang solid di sektor privat maupun pemerintahan. Pengalamannya di Wall Street memberikan pemahaman mendalam mengenai mekanisme pasar keuangan global. Berikut adalah rekam jejak karier Jerome Powell sebelum menjabat sebagai Ketua The Fed:
- Sektor Hukum: Memulai karier sebagai pengacara di New York City setelah lulus dari sekolah hukum.
- Karier di Wall Street: Menjabat sebagai bankir investasi di Dillon, Read & Co. di mana ia mengasah kemampuan dalam transaksi keuangan dan manajemen aset.
- Departemen Keuangan AS: Menjabat sebagai Asisten Sekretaris dan Wakil Sekretaris Keuangan di bawah pemerintahan Presiden George H.W. Bush, dengan fokus pada kebijakan lembaga keuangan dan pasar surat utang.
- The Carlyle Group: Menjadi mitra (partner) di salah satu perusahaan ekuitas swasta (private equity) terbesar dunia dari tahun 1997 hingga 2005.
- Dewan Gubernur The Fed: Bergabung sebagai anggota dewan pada tahun 2012 untuk mengisi masa jabatan yang belum habis, sebelum akhirnya dicalonkan sebagai ketua.
Kebijakan Moneter dan Era Suku Bunga Tinggi
Di bawah kepemimpinan Powell, The Fed menghadapi tantangan ekonomi yang luar biasa, mulai dari krisis pandemi Covid-19 hingga lonjakan inflasi yang mencapai level tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Strategi yang diterapkan Powell sering kali menekankan pada data ekonomi terbaru sebagai landasan pengambilan keputusan, atau yang populer disebut sebagai data-dependent. Melansir
Forbes, Powell dikenal karena pendekatannya yang cenderung moderat namun tegas dalam memerangi inflasi melalui pengetatan moneter yang agresif sejak tahun 2022. Langkah menaikkan suku bunga acuan secara cepat dilakukan untuk menarik likuiditas dari pasar dan menekan indeks harga konsumen (IHK) kembali ke target sasaran sebesar 2%. Kebijakan ini tidak jarang memicu volatilitas di pasar saham dan pasar obligasi global. Para investor di Indonesia senantiasa memantau testimoni Powell di hadapan Kongres AS maupun dalam konferensi pers bulanan setelah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) untuk mencari sinyal mengenai kapan periode pemangkasan suku bunga akan dimulai.
Tonton: Respon Ancaman AS, Denmark Mulai Kerahkan Pasukan dan Peralatan Militer ke Greenland Tantangan Independensi dan Transparansi
Salah satu aspek yang paling ditekankan oleh Powell selama masa jabatannya adalah menjaga independensi bank sentral dari tekanan politik. Melansir informasi dari
Britannica, Powell sering kali harus mempertahankan kebijakan moneter ketat di tengah kritik dari berbagai pihak yang mengkhawatirkan perlambatan pertumbuhan ekonomi atau potensi resesi. Powell juga membawa perubahan dalam gaya komunikasi bank sentral. Ia berusaha menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh publik umum, bukan sekadar para ekonom profesional. Transparansi ini bertujuan untuk menjaga kredibilitas The Fed di mata masyarakat dan pelaku pasar. Saat ini, fokus pasar tertuju pada bagaimana Powell mengelola fase transisi ekonomi, memastikan inflasi benar-benar terkendali tanpa menyebabkan kerusakan permanen pada pasar tenaga kerja.
Keputusan yang diambil oleh tokoh yang memiliki kekayaan pribadi mencapai jutaan dolar AS ini akan terus menjadi kompas utama bagi pergerakan aset investasi di seluruh dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News