KONTAN.CO.ID - Dunia sains internasional tengah menaruh perhatian besar pada sosok Laurent Simons, remaja asal Belgia yang baru saja mencatatkan pencapaian akademik luar biasa. Di usianya yang baru menginjak 15 tahun, Simons telah berhasil mempertahankan disertasi doktoralnya di bidang fisika kuantum pada University of Antwerp. Pencapaian ini menempatkan dirinya sebagai salah satu ilmuwan muda dengan perkembangan akademik tercepat di dunia saat ini.
Fokus Riset pada Partikel Bose Polaron
Penelitian doktoral Simons mengeksplorasi perilaku partikel dalam kondisi kuantum ekstrem. Fokus utama risetnya adalah mengenai Bose polaron, yakni sebuah partikel tunggal yang bergerak melalui "lautan" kuantum ultra-dingin dari partikel lainnya. Saat bergerak, partikel tersebut mengganggu lingkungan sekitarnya, dan interaksi tersebut kemudian membentuk kembali perilaku partikel itu sendiri. Melansir laporan Times of India, istilah "Bose" dalam penelitian Simons merujuk pada fisikawan asal India, Satyendra Nath Bose. Karya-karya Bose merupakan fondasi utama teori kuantum modern, termasuk konsep Bose-Einstein condensate yang dikembangkan bersama Albert Einstein. Bidang ini tetap menjadi pusat penelitian kuantum tingkat lanjut hingga saat ini, terutama dalam mempelajari keadaan materi pada suhu yang sangat rendah. Baca Juga: Skandal Suap Huawei Singapura: Eks Direktur Dijebloskan ke Penjara Kedua orang tua Laurent, Alexander dan Lydia Simons, menyatakan bahwa kemampuan putra mereka mulai terlihat sejak dini. Mengutip wawancara dengan media, Alexander mendeskripsikan Laurent seperti "spons" yang mampu menyerap informasi dengan kecepatan di luar nalar kelas konvensional. Meski demikian, pihak keluarga tetap berupaya menjaga Laurent agar tetap rendah hati dan memprioritaskan lingkungan akademik yang tepat dibandingkan sekadar mengejar pemberitaan media.PhD Kedua: Menggabungkan AI dan Ilmu Medis
Setelah menuntaskan gelar doktoral di bidang fisika, Simons kini tengah menempuh jalur PhD kedua di bidang ilmu kedokteran. Riset terbarunya berfokus pada penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat penemuan biomedis. Integrasi antara teknologi komputasi dan biologi dipandang sebagai salah satu batas riset paling menjanjikan dalam satu dekade terakhir. Penggunaan AI dalam dunia medis sangat krusial karena biologi modern menghasilkan data dalam jumlah masif, mulai dari pemetaan genetik hingga hasil pemindaian laboratorium. Dikutip dari Times of India, penerapan AI dalam bidang ini dapat memberikan kontribusi pada beberapa aspek strategis, antara lain:- Deteksi penyakit secara lebih dini dan akurat.
- Percepatan proses penemuan obat-obatan baru (drug discovery).
- Dukungan diagnosis yang lebih presisi melalui pengolahan data besar.
- Pengembangan pendekatan personal dalam perawatan pasien.
- Prediksi hasil pengobatan berdasarkan pola data historis.