Lawan China, Jepang Bangun Pabrik Layar di AS



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Rencana penguatan rantai pasok teknologi layar global kembali mengemuka. Jepang dan Amerika Serikat tengah menjajaki pembangunan pabrik display di Negeri Paman Sam bersama Japan Display sebagai bagian dari paket investasi Jepang senilai sekitar US$ 550 miliar di AS.

Melansir Reuters (9/3), dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut proyek ini dirancang untuk memperkuat kapasitas produksi display di Amerika Serikat. Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran Washington terhadap ketergantungan pada China dalam teknologi layar yang digunakan pada berbagai perangkat strategis, termasuk sistem militer.

Selama beberapa tahun terakhir, industri display Jepang memang terdesak oleh persaingan harga yang agresif dari produsen China. Tekanan tersebut membuat banyak pemain Jepang tersingkir dari pasar global.


Kabar rencana proyek ini langsung memicu lonjakan saham Japan Display hingga sekitar 80% pada perdagangan Senin. Nilai pasar perusahaan yang selama bertahun-tahun bergulat dengan kerugian itu kini mencapai sekitar 190 miliar yen atau setara US$ 1,2 miliar.

Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Longsor, Senin (9/3), Terpapar Lonjakan Harga Minyak Dunia

Laporan Nikkei Asia menyebut nilai proyek pembangunan pabrik tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$ 13 miliar. Proyek ini juga menjadi salah satu dari sejumlah kesepakatan investasi yang sedang dibahas antara Amerika Serikat dan Jepang.

Sumber yang mengetahui pembahasan menyebut kerja sama kedua negara tidak berhenti pada sektor display. Dalam tahap berikutnya, kedua pihak juga mempertimbangkan proyek energi nuklir yang melibatkan Westinghouse Electric Company sebagai bagian dari komitmen investasi Jepang dalam kesepakatan tarif dengan AS.

Bagi Japan Display, proyek ini bisa menjadi peluang penting untuk keluar dari tekanan bisnis yang berlangsung lebih dari satu dekade. Perusahaan yang berdiri pada 2012 dari penggabungan unit display milik Sony Group, Toshiba, dan Hitachi itu pernah menjadi salah satu produsen panel LCD terbesar di dunia.

Perusahaan tersebut juga sempat menjadi pemasok utama layar bagi iPhone milik Apple. Namun perubahan strategi Apple yang beralih ke teknologi OLED membuat posisi Japan Display semakin tertekan.

Tekanan semakin besar karena produsen China mampu menawarkan harga yang jauh lebih kompetitif. Kondisi ini membuat Japan Display terus mencatatkan kerugian selama lebih dari sepuluh tahun terakhir.

Kini perusahaan tersebut berupaya merombak strategi bisnis dengan mengonsolidasikan pabrik di dalam negeri dan memfokuskan produksi pada layar otomotif. Japan Display juga memutuskan menghentikan produksi panel OLED untuk perangkat Apple Watch.

Pemerintah Jepang sendiri sebelumnya telah menggelontorkan lebih dari 460 miliar yen untuk menopang perusahaan tersebut. Namun pemerintah akhirnya keluar dari investasi itu pada tahun lalu dengan kerugian sekitar sepertiga dari total dana yang ditanamkan.

Di tengah upaya restrukturisasi tersebut, dominasi China di industri display global diperkirakan masih sulit digoyang. Firma riset Counterpoint Research memproyeksikan pangsa kapasitas produksi display China akan meningkat dari 68% pada 2023 menjadi sekitar 75% pada 2028.

Artinya, meski Jepang dan AS berupaya memperkuat industri strategis ini, persaingan global di sektor display kemungkinan tetap akan ditentukan oleh keunggulan skala produksi dan harga yang selama ini menjadi kekuatan utama produsen China.

Baca Juga: Restart Reaktor Nuklir Jepang Dongkrak Penjualan Mitsubishi Heavy Industries

TAG: