Layanan Keuangan Digital Bantu UMKM Padang Kembangkan Usaha dengan Risiko Terukur
Rabu, 18 Februari 2026 11:00 WIB
Oleh: Tim KONTAN | Editor: Indah Sulistyorini
KONTAN.CO.ID - Testimoni seorang teman mendorong Fahru Gunadi mengembangkan usaha produk kulit yang awalnya ditekuni dari hobi. Berkat promosi dari mulut ke mulut, bisnisnya kini makin bertumbuh dan telah berjalan selama sembilan tahun. Bisnis Fahru berfokus pada produk kulit untuk aksesori dan fesyen. Setelah mendalami usaha tersebut, ia menemukan nilai historis yang melekat pada industri kulit di Kota Padang. “Kita pernah tanya ke orang-orang tua dulu, ternyata produk kulit di Kota Padang pada masa lalu sudah lama ada dan terkenal. Tapi banyak usaha yang tumbang atau tidak diteruskan anak-anaknya. Jadi sekarang tinggal beberapa,” ujar Fahru di sela mengikuti Kelas Tunai yang diselenggarakan PLUT Kementerian UMKM bersama ShopeePay dan SeaBank di Padang, Sumatera Barat, belum lama ini.
Keinginan Fahru untuk berwirausaha telah muncul saat ia masih menjadi pekerja kantoran. Rutinitas bekerja dari pagi hingga sore, bahkan malam hari yang cukup menyita waktu menumbuhkan tekad dalam dirinya untuk merintis usaha. Akhirnya, Fahru mulai menawarkan dompet dan produk kulit buatannya kepada teman-teman terdekat. “Pas juga ini hobi, kan. Saya penikmat dompet kulit dan produk kulit lainnya. Akhirnya coba, dan keterusan jadi satu penghasilan. Itu pun setelah dapat respons positif dari teman-teman, bukan langsung ujug-ujug mau punya usaha dompet kulit,” katanya. Beberapa tahun terakhir, pemasaran produk dilakukan melalui platform digital dan partisipasi dalam berbagai pameran. Seiring pertumbuhan usaha, Fahru pun menghadapi tantangan dalam peningkatan kapasitas produksi dan kebutuhan modal kerja. Dukungan pemerintah daerah berupa bantuan peralatan produksi cukup membantu menjaga kapasitas usaha. Namun, saat mencari tambahan modal ke lembaga jasa keuangan, ia terkendala persyaratan administratif karena profil usahanya belum memenuhi kriteria debitur. “Jujur kita terbantu SPinjam dan SPayLater. Soalnya bahan baku banyak dibeli secara online, dan ini sangat berpengaruh ke cash flow. Pinjam online itu sebenarnya buat jaga arus kas saja. Makanya kita disiplin, begitu ada keuntungan langsung disisihkan untuk bayar,” kata Fahru sambil menceritakan awal mula bisnisnya beromzet ratusan ribu, kini dapat meraih omzet hingga 10 juta rupiah per bulannya. Keputusan Fahru mengambil kredit layanan keuangan digital juga disertai dengan pertimbangan saksama. Ia menyadari perputaran penjualan produk kulit untuk aksesori dan fesyen tidak secepat kebutuhan sehari-hari. Dengan risiko yang terukur, Fahru dapat merencanakan inovasi produk secara bertahap tanpa mengganggu operasional usaha. Berdasarkan data yang dihimpun, layanan beli sekarang bayar nanti atau dikenal buy now pay later (BNPL) terus mengalami pertumbuhan. Di tahun 2025, peningkatan cukup signifikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan BNPL selama tahun 2025 meningkat 75,05% (YoY) menjadi Rp11,94 triliun. Data yang sama juga menunjukkan, Non-Performing Financing (NPF gross paylater) atau kredit bermasalah pada layanan BNP terjaga di level 2,73%.
Jaga Produksi dan Putar Modal di Bisnis Fesyen
Rize Rizana, pengusaha UMKM di Padang saat acara Kelas TUNAI oleh ShopeePay dan SeaBank, 9 Februari 2026.
Rize Rizana memiliki pengalaman serupa dengan Fahru. Perempuan yang akrab disapa Cece ini pengusaha fesyen muslim yang memproduksi hijab dengan motif khas suku Minangkabau. Dalam industri fesyen, tantangan utama terletak pada pengelolaan stok dan siklus produksi. “Dulu produksi masih sekitar 50-100 pieces setiap bulan, jualan hanya melalui media sosial. Sekarang alhamdulillah, penjualan sudah meluas lewat e-commerce dan saat ini kami dapat produksi hingga 300 pieces dalam sebulan,” ungkap Cece. Peningkatan produksi menuntut pengelolaan arus kas yang lebih disiplin. Cece kini rutin mencatat penjualan dan pengeluaran untuk mengidentifikasi produk dengan perputaran tercepat dan margin optimal.
Sekarang Cece dapat melakukan keputusan produksi berbasis data, tidak semata-mata berdasarkan intuisi. Perhitungan yang lebih matang merupakan fondasi keberlanjutan usaha dan meningkatkan daya saing di tengah industri fesyen yang kian kompetitif.