Layanan Konseling Diserbu, Indonesia Krisis Kesehatan Mental?



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Banyak warga Indonesia yang mengalami tekanan mental. Hal ini terlihat dari banyaknya antrean layanang Healing119.id Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Agar tidak mengalami masalah mental, berikut cara menjaga kesehatan mental menurut Kemenkes. 

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, mengungkapkan penggunaan layanan Healing119 sangat banyak sepanjang Agustus 2026. " Berdasarkan data layanan healing119 pada bulan Agustus 2026 tercatat sebanyak 17.936 akses melalui panggilan telepon dan 8.897 akses melalui WhatsApp," kata Aji ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (24/9/2026).

Dengan demikian, total akses melalui kedua kanal tersebut mencapai 26.833 akses selama Agustus 2026. Angka itu merupakan jumlah akses, bukan jumlah individu unik, karena satu pengguna dapat mengakses layanan lebih dari satu kali atau menggunakan kedua kanal.


Aji menjelaskan bahwa jika dihitung berdasarkan jumlah pengguna, rata-rata terdapat sekitar 557 pengguna yang mengakses Healing119.id setiap hari.

Sementara itu, Kemenkes belum dapat menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki tingkat akses layanan konseling jiwa tertinggi dibandingkan negara lain. Perbandingan tersebut membutuhkan data dengan jenis layanan, cakupan, dan sistem pencatatan yang setara.

Baca Juga: Fasilitas Mewah Penjara, Ada Nama Besar yang Dipenjara Di Lapas IIA Cibinong

Tingginya Akses Tidak Otomatis Menunjukkan Krisis Kesehatan Mental

Menurut Kemenkes, tingginya pemanfaatan layanan Healing119 menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap dukungan kesehatan jiwa cukup besar.

Namun, peningkatan akses layanan tidak dapat langsung diartikan sebagai bukti bahwa kondisi kesehatan jiwa seluruh masyarakat Indonesia semakin memburuk.

Aji mengatakan, peningkatan pemanfaatan layanan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk semakin terbukanya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jiwa dan berkurangnya stigma untuk mencari bantuan.

"Peningkatan masyarakat yang mengakses layanan kesehatan jiwa memang menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap dukungan kesehatan jiwa cukup besar, tetapi kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa peningkatan akses layanan berarti kondisi kesehatan jiwa masyarakat Indonesia secara keseluruhan semakin memburuk," ungkap Aji.

Kemenkes menilai data penggunaan Healing119 perlu dipahami sebagai sinyal penting mengenai kebutuhan masyarakat terhadap akses layanan kesehatan jiwa yang mudah dijangkau.

Baca Juga: Pemerintah Susun Grand Design Pendidikan untuk Optimalkan Anggaran Rp824 Triliun

Faktor yang Memengaruhi Akses Layanan Healing119

Aji menjelaskan bahwa masalah kesehatan jiwa dipengaruhi oleh sejumlah faktor, tidak hanya kondisi individu atau kesehatan seseorang.

Faktor keluarga dan relasi, lingkungan sekolah atau pekerjaan, serta kondisi sosial dan ekonomi juga dapat memengaruhi kesehatan jiwa masyarakat.

Selain kebutuhan bantuan akibat tekanan psikologis, meningkatnya jumlah pengguna layanan dapat mencerminkan semakin baiknya pengetahuan masyarakat mengenai layanan kesehatan jiwa yang tersedia.

"Masalah kesehatan jiwa sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor. Tidak hanya faktor individu atau kesehatan, tetapi juga kondisi keluarga dan relasi, lingkungan sekolah atau pekerjaan, serta faktor sosial dan ekonomi," jelas Aji.

Karena itu, Kemenkes mendorong penguatan upaya promosi kesehatan jiwa, pencegahan, deteksi dini, dan perluasan akses pelayanan bagi masyarakat.

Apa Itu Layanan Healing119?

Healing119.id merupakan layanan dukungan psikologis awal yang disediakan Kemenkes  secara gratis bagi masyarakat yang mengalami tekanan psikologis, keputusasaan, pikiran bunuh diri, atau kondisi krisis psikologis.

Layanan ini menyediakan akses melalui panggilan suara dan WhatsApp. Masyarakat dapat mengakses layanan melalui situs resmi Healing119.id atau menghubungi 119 ekstensi 8 untuk layanan panggilan suara.

Menurut informasi resmi Kemenkes, layanan Healing119 bertujuan memberikan dukungan awal, membantu masyarakat memperoleh pertolongan, serta menghubungkan pengguna dengan layanan profesional apabila diperlukan.

Layanan tersebut bukan pengganti diagnosis atau perawatan menyeluruh dari psikolog, psikiater, maupun fasilitas kesehatan jiwa. Tonton: Hari ke-12 SAR KM Virgo Transport 8: 42 Meninggal, 93 Orang Masih Dicari 

Dilansir dari website Kemenkes, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Mental yang hancur, tak hanya akan berdampak buruk pada kesehatan, tapi juga dapat menyebabkan berbagai gangguan emosional dan mental (nervous breakdown).

Berbagai cara ini dapat Anda lakukan untuk memperbaiki dan menjaga kesehatan mental Anda.

1. Miliki Pola Hidup Sehat Pola hidup yang sehat terdiri dari pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur, yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tapi juga mental. 

Pola makan sehat adalah cara konsumsi makanan yang mengandung nutrisi lengkap dan seimbang termasuk, karbohidrat, protein dan buah serta sayur.  Batasi minuman berkafein dan tinggi gula, yang dapat mempengaruhi suasana hati dan kinerja otak. Minumlah cukup air putih untuk menjaga kadar air dalam organ-organ tubuh, termasuk otak.

Lakukan aktivitas fisik secara rutin, minimal 30 menit setiap hari selama lima hari dalam seminggu. Tak perlu ke pusat kebugaran atau lapangan olahraga untuk melakukannya. Cukup dengan berjalan kaki, naik turun tangga, berkebun, atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

2. Kelola Stres dengan Baik

Stres merupakan bagian dari hidup, dan dalam batas yang wajar dibutuhkan, misalnya dalam mengejar deadline atau target. Namun, stres yang berlebihan dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan gangguan kecemasan, yang berdampak buruk bagi kesehatan.

Kenali stres yang dapat dihindari dan tidak dapat dihindari. Persiapkan diri untuk menghadapi stres dengan cara-cara yang lebih sehat. Anda dapat mempelajari teknik-teknik meredakan stres, seperti yoga, meditasi, teknik pernapasan, dan relaksasi.

3. Cukup Beristirahat

Luangkan waktu untuk beristirahat di tengah pekerjaan dan aktivitas, agar Anda tidak merasa lelah berlebihan (burnout). Misalnya, memanfaatkan waktu makan siang di kantor untuk bersantai, pergi berlibur di akhir pekan, atau mengambil cuti beberapa hari setelah tugas-tugas diselesaikan.

4. Tetap Terhubung dengan Orang Lain

Pertahankan hubungan yang baik dengan keluarga dan orang-orang di sekitar Anda. Kualitas hubungan yang baik dengan orang lain dapat memperkaya kehidupan kita, serta memberi rasa bahagia sejahtera.

Melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain juga dapat membuat kita merasa dibutuhkan dan dihargai, serta meningkatkan kepercayaan diri. Penelitian menunjukkan, membantu orang lain memiliki efek positif pada perasaan dan bagaimana kita memandang diri sendiri.

5. Sediakan Waktu untuk Diri Sendiri

Lakukan hal-hal yang disukai atau hobi di waktu pribadi Anda, seperti membaca buku, bermain musik, membuat kerajinan tangan, melukis, atau bermain dengan binatang peliharaan. Sediakan waktu untuk melakukan perawatan diri (self-care) atau refleksi diri, agar mental Anda segar kembali 

Anda pun harus dapat menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan waktu pribadi untuk menjaga keseimbangan hidup dan mencegah kelelahan (burnout).

6. Menerima Diri dan Menetapkan Tujuan yang Realistis

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jika kita dapat menerima diri sendiri dan berpikir positif, kita akan memiliki harga diri yang baik, dan lebih mampu menghadapi kesulitan hidup. 

Mengenali kelebihan kita akan membuat kita mampu fokus mengerjakan apa yang dapat kita lakukan dengan baik, menjelajahi tempat-tempat baru, serta menambah teman baru. 

Sebaliknya, menerima kekurangan dan kelemahan diri sendiri membuat kita lebih berani belajar hal yang baru, serta menetapkan tujuan yang lebih realistis. Jika ada hal yang ingin kita ubah, jalani langkah-langkah menuju perubahan itu secara bertahap hingga tercapai.

7. Cari Hal-hal Yang Patut Disyukuri

Rasa bersyukur dapat meningkatkan kesejahteraan, kebahagiaan, dan kualitas kesehatan mental kita. Temukan hal-hal yang patut kita syukuri setiap hari, dan nikmati perasaan tersebut. Tuliskan dalam jurnal atau camkan dalam hati Anda.

8. Hindari Alkohol, Rokok, dan Obat Terlarang

Sebagian orang berupaya untuk mengatasi stres, kecemasan, dan keresahan yang dirasakannya dengan cara-cara tidak sehat, seperti merokok, minum minuman beralkohol atau menggunakan obat-obatan terlarang (NAPZA). 

Padahal, alkohol, nikotin, dan NAPZA efeknya hanya sementara dan tidak menyelesaikan akar permasalahannya. Sebaliknya, malah menimbulkan masalah baru berupa ketergantungan terhadap zat-zat adiktif ini. 

Dampaknya merugikan, terutama jika penderitanya mengalami gejala putus zat yang dapat mempengaruhi otak. Untuk itu, hindari penggunaan alkohol, rokok dan obat-obatan terlarang untuk meredakan gangguan emosi yang sedang Anda rasakan.

9. Bicarakan Perasaanmu

Membuka diri terhadap orang lain merupakan salah satu cara untuk menghadapi masalah yang sedang Anda alami. Bicarakan secara terbuka, agar Anda merasa didengar, didukung dan tidak sendirian menghadapinya. Hal ini merupakan cara untuk merawat kesehatan dan kesejahteraan mental. 

Memang, tidak mudah untuk menggambarkan perasaan Anda. Anda bisa menggunakan kata atau kalimat yang terlintas dalam pikiran Anda sebanyak mungkin. Usahakan untuk membiarkan percakapan berkembang secara alami. Jika Anda masih merasa canggung, beri waktu, dan terus mencoba untuk terbuka terhadap perasaan Anda.  

10. Minta Bantuan

Jika beban perasaan yang Anda alami sudah terlalu berlebihan dan Anda tidak bisa menghadapinya sendirian, mintalah bantuan dengan cara:

  • Bergabung dengan kelompok dukungan (support group) orang-orang yang  dapat membantu Anda melakukan perubahan cara berpikir dan perilaku.
  • Mencari tenaga ahli profesional, seperti psikolog atau konselor, untuk membantu mengelola perasaan dan memperbaiki mental Anda.
  • Mendatangi layanan setempat terkait masalah yang sedang Anda hadapi, seperti bantuan hukum, keuangan dan lain sebagainya.
Sebagian artikel tayang https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/25/062900265/healing119-diakses-557-orang-per-hari-ada-apa-dengan-kesehatan-mental?page=all#page2.   

MagangHub Buka 70.000 Kuota Oktober 2026, Lulusan Sarjana Bisa Daftar
© 2026 Konten oleh Kontan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News