JAKARTA. Melesatnya jumlah high net worth individual (HNWI) di Indonesia mendorong bisnis wealth management dan private banking di Indonesia. Tingginya potensi kedua lini bisnis ini terlihat dari tingginya nasabah prioritas, jika dihitung berdasarkan dana simpanan nasabah yang berada di atas Rp 500 juta. Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mulya E. Siregar menyebutkan, berdasarkan data yang ada, jumlah nasabah prioritas di Indonesia mencapai 800.000 nasabah. Di beberapa bank besar, jumlah nasabah wealth management terus meningkat setiap tahun. Hal ini sesuai penelitian Boston Consulting, yang memperkirakan setiap tahunnya ada sebanyak 8 juta-9 juta masyarakat Indonesia yang masuk golongan masyarakat kelas menengah atas. Namun, perkembangan industri wealth management dan private banking ini masih terganjal beberapa tantangan domestik. Pertama, kata Mulya, masih belum seimbangnya jumlah sumber daya manusia (SDM) wealth management dan private banking dibandingkan dengan pertumbuhan HNWI. "Peningkatan pengetahuan SDM juga perlu diperhatikan. Dalam mengantisipasi hal itu, perlu peningkatan wealth manager yang berkompetensi. Rendahnya pelayanan wealth management juga bisa membuat bank terkena risiko operasional dan reputasi," ucap Mulya.
Layanan private banking masih potensial
JAKARTA. Melesatnya jumlah high net worth individual (HNWI) di Indonesia mendorong bisnis wealth management dan private banking di Indonesia. Tingginya potensi kedua lini bisnis ini terlihat dari tingginya nasabah prioritas, jika dihitung berdasarkan dana simpanan nasabah yang berada di atas Rp 500 juta. Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mulya E. Siregar menyebutkan, berdasarkan data yang ada, jumlah nasabah prioritas di Indonesia mencapai 800.000 nasabah. Di beberapa bank besar, jumlah nasabah wealth management terus meningkat setiap tahun. Hal ini sesuai penelitian Boston Consulting, yang memperkirakan setiap tahunnya ada sebanyak 8 juta-9 juta masyarakat Indonesia yang masuk golongan masyarakat kelas menengah atas. Namun, perkembangan industri wealth management dan private banking ini masih terganjal beberapa tantangan domestik. Pertama, kata Mulya, masih belum seimbangnya jumlah sumber daya manusia (SDM) wealth management dan private banking dibandingkan dengan pertumbuhan HNWI. "Peningkatan pengetahuan SDM juga perlu diperhatikan. Dalam mengantisipasi hal itu, perlu peningkatan wealth manager yang berkompetensi. Rendahnya pelayanan wealth management juga bisa membuat bank terkena risiko operasional dan reputasi," ucap Mulya.