KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Allo Bank menyiapkan strategi untuk menurunkan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) yang melonjak hingga 180,4% per Agustus 2026, dari 97,3% pada periode yang sama tahun lalu. Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan, perseroan mempercepat diversifikasi pendanaan ke dana ritel yang lebih terdiversifikasi dan berkelanjutan. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya penempatan deposito korporasi berskala besar. "Terkait LDR, kami menyadari rasionya saat ini berada di atas level ideal. Hal ini terutama disebabkan oleh berkurangnya penempatan deposito korporasi berskala besar," ujar Destya kepada Kontan, Senin (12/10/2026). Baca Juga: Penyaluran KUR Terhambat Pelemahan Daya Beli Allo Bank menargetkan LDR kembali secara bertahap ke kisaran 80%-100%. Adapun Allo Bank berhasil membukukan laba bersih Rp 298,85 miliar hingga Agustus 2026. Laba tersebut turun 4,05% yoy dari Rp 311,46 miliar. Dari sisi intermediasi, kredit yang diberikan tumbuh 32,02% yoy menjadi Rp 9,46 triliun dari Rp 7,16 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) turun 28,78% YoY menjadi Rp 5,24 triliun. Untuk memperkuat penghimpunan dana, Allo Bank menawarkan bunga deposito secara selektif sekaligus mendorong aktivitas transaksi nasabah melalui QRIS, pembayaran tagihan, transfer, Allo PayLater, layanan payroll, dan integrasi dengan ekosistem mitra. Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Gandeng ITB Perkuat Layanan Perbankan dan Ekosistem Pendidikan Menurut Destya, strategi tersebut bertujuan memperbesar basis dana ritel dan membangun hubungan jangka panjang dengan nasabah, sehingga struktur pendanaan lebih stabil dan efisien.
LDR Allo Bank Melonjak, Ini Strateginya untuk Perkuat Pendanaan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Allo Bank menyiapkan strategi untuk menurunkan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) yang melonjak hingga 180,4% per Agustus 2026, dari 97,3% pada periode yang sama tahun lalu. Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan, perseroan mempercepat diversifikasi pendanaan ke dana ritel yang lebih terdiversifikasi dan berkelanjutan. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya penempatan deposito korporasi berskala besar. "Terkait LDR, kami menyadari rasionya saat ini berada di atas level ideal. Hal ini terutama disebabkan oleh berkurangnya penempatan deposito korporasi berskala besar," ujar Destya kepada Kontan, Senin (12/10/2026). Baca Juga: Penyaluran KUR Terhambat Pelemahan Daya Beli Allo Bank menargetkan LDR kembali secara bertahap ke kisaran 80%-100%. Adapun Allo Bank berhasil membukukan laba bersih Rp 298,85 miliar hingga Agustus 2026. Laba tersebut turun 4,05% yoy dari Rp 311,46 miliar. Dari sisi intermediasi, kredit yang diberikan tumbuh 32,02% yoy menjadi Rp 9,46 triliun dari Rp 7,16 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) turun 28,78% YoY menjadi Rp 5,24 triliun. Untuk memperkuat penghimpunan dana, Allo Bank menawarkan bunga deposito secara selektif sekaligus mendorong aktivitas transaksi nasabah melalui QRIS, pembayaran tagihan, transfer, Allo PayLater, layanan payroll, dan integrasi dengan ekosistem mitra. Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Gandeng ITB Perkuat Layanan Perbankan dan Ekosistem Pendidikan Menurut Destya, strategi tersebut bertujuan memperbesar basis dana ritel dan membangun hubungan jangka panjang dengan nasabah, sehingga struktur pendanaan lebih stabil dan efisien.