LDR Perbankan Kian Ketat, Bank Kecil & Menengah Adu Strategi Penuhi Target Kredit



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pengetatan likuiditas di industri perbankan, yang ditandai dengan tingginya rasio LDR, tidak menyurutkan langkah perbankan kelompok modal inti (KBMI) 1 dan 2 untuk berekspansi.

Di tengah kondisi industri yang kian ketat, bank-bank seperti PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) dan PT Bank Sahabat Sampoerna mengandalkan strategi masing-masing guna memenuhi target pertumbuhan kredit hingga akhir tahun 2026 tanpa merombak rencana bisnis.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan nasional, khususnya kelompok KBMI 1 dan 2, menunjukkan tren peningkatan secara tahunan (year on year/yoy). Tercatat pada Agustus 2026, LDR KBMI 1 melonjak ke level 85,61% dari 79,16% pada Agustus 2025.


Baca Juga: Bank Mandiri Siapkan Opsi Pelunasan Obligasi Perpetual Bond AT1, Ini Penjelasannya

LDR KBMI 2 juga mengetat menembus 88,72% pada Agustus 2026, naik dibandingkan posisi 83,02% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ketatnya rasio intermediasi ini tercermin dari dinamika penyaluran kredit dan penghimpunan dana.

OJK mencatat, penyaluran kredit KBMI 1 pada Agustus 2026 sedikit terkontraksi menjadi Rp 761,44 triliun dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai Rp 763,99 triliun.

Sebaliknya, kinerja kredit KBMI 2 tumbuh pesat menjadi Rp 956,02 triliun pada Agustus 2026, dari Rp 842,72 triliun pada tahun sebelumnya.   

Di sisi pendanaan, himpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) KBMI 1 mengalami penurunan dari Rp 960,06 triliun pada Agustus 2025 menjadi Rp 881,82 triliun pada Agustus 2026.

Berbeda dengan tren KBMI 1, DPK kelompok KBMI 2 justru berhasil tumbuh dari Rp 974,09 triliun pada Agustus 2025 menjadi Rp 1.025,58 triliun pada Agustus 2026.   

Di tengah kondisi likuiditas makro yang bervariasi tersebut, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) justru mencatatkan kelonggaran likuiditas yang cukup longgar.

Mengutip laporan keuangan kuartal III 2026, rasio LDR Bank Ina per 30 September 2026 berada di level 66,89%, naik 8,07% yoy.

Baca Juga: Minim Data Klaim, Asuransi Lebih Selektif Melindungi Mobil Listrik

Direktur Utama Bank Ina Henry Koenaifi membenarkan perusahaannya masih memiliki ruang penyaluran kredit yang memadai.

"Kondisi likuiditas Bank Ina cukup baik," ujar Henry kepada Kontan, Senin (2/11/2026).

Henry menuturkan, pemenuhan target kredit di sisa tahun 2026 akan dicapai lewat optimalisasi pencairan dari debitur eksisting dan membidik portofolio baru di segmen KPR.

Guna menjaga margin tetap efisien, bank mengakselerasi porsi dana murah (CASA). Dari total DPK sebesar Rp 25,60 triliun, porsi CASA telah mencapai Rp 9,52 triliun, ditopang giro Rp 7,90 triliun dan tabungan Rp 1,62 triliun, sementara deposito mencapai Rp 16,08 triliun.

Langkah edukasi dan penetrasi akan digencarkan untuk memperbesar porsi dana murah ini.

Berbeda dengan Bank INA yang masih memiliki ruang LDR longgar, postur likuiditas PT Bank Sahabat Sampoerna lebih beririsan dengan kondisi makro.

Merujuk laporan keuangan kuartal III 2026, LDR Bank Sahabat Sampoerna berada di level 88,82%, sedikit meningkat dari 88,30% pada September 2025.

Meski ruang rasio intermediasi tampak mengetat, Direktur Finance & Business Planning PT Bank Sampoerna Henky Suryaputra menegaskan pihaknya tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

"Kondisi likuiditas PT Bank Sahabat Sampoerna saat ini berada dalam posisi yang sehat dan memadai untuk menopang pertumbuhan bisnis," jelas Henky.

Baca Juga: Laba Bersih FIF Tumbuh 4,03% Jadi Rp 3,61 Triliun hingga Kuartal III-2026

Untuk menjaga keseimbangan, Bank Sampoerna meramu strategi DPK dengan memprioritaskan pendanaan murah ketimbang terjebak perang suku bunga deposito.

Pada September 2026, CASA bank ditopang giro Rp 1,13 triliun dan tabungan Rp 1,10 triliun, sementara deposito mencapai Rp 9,00 triliun.

Penguatan CASA dilakukan salah satunya melalui layanan Banking-as-a-Service (BaaS) pada bisnis mitra.

Sementara itu, untuk penyaluran kredit, bank membidik segmen UMKM dan wholesale lewat pendekatan channelling bertahap (staggered disbursement) menyesuaikan ketersediaan kas.

Ke depan, langkah adaptif dari kedua bank, baik yang mengoptimalkan kelonggaran likuiditas maupun yang mengelola keterbatasan via diversifikasi, diharapkan mampu menjaga kesinambungan perbankan kelas menengah dan kecil dalam mengarungi likuiditas industri yang terus merangkak naik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News