Lebih dari Sekadar Hilirisasi: Membangun Rantai Pasok Kendaraan Listrik Global



KONTAN.CO.ID - Selama bertahun-tahun, daya saing industri nikel identik dengan besarnya cadangan mineral dan kapasitas produksi. Namun, seiring berkembangnya industri kendaraan listrik, ukuran tersebut tidak lagi cukup. Produsen baterai dan kendaraan listrik kini juga mempertimbangkan keamanan rantai pasok, standar keberlanjutan, efisiensi teknologi, hingga kemampuan memenuhi regulasi di berbagai pasar tujuan.

Perubahan itu membuat pengembangan industri tidak lagi hanya mengandalkan keunggulan satu negara. Sumber daya, teknologi, dan akses pasar kini semakin terhubung melalui kemitraan lintas negara yang saling melengkapi.

Model kolaborasi seperti itulah yang diwujudkan melalui proyek PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) di International Green Industrial Park (IGIP), Morowali. Proyek hasil kerja sama PT Vale Indonesia Tbk, GEM Co., Ltd., dan EcoPro tersebut baru saja mencapai tonggak penting melalui pemasangan autoclave High Pressure Acid Leach (HPAL) berkapasitas 1.268 meter kubik, salah satu yang terbesar di dunia. Tonggak ini menandai dimulainya fase strategis pembangunan proyek sekaligus menjadi simbol bagaimana tiga negara menghadirkan keunggulan yang saling melengkapi untuk membangun industri nikel yang lebih kompetitif.

Kontan - PT bahodopi Nickel Smelting Indonesia Kilas Online
© Foto oleh parmadi aris

Dari Keunggulan Komparatif Menuju Keunggulan Kolektif

Di sinilah model kolaborasi BNSI menjadi menarik. Vale Indonesia menghadirkan pasokan bahan baku dari wilayah izin usaha pertambangan seluas sekitar 118.000 hektare dengan cadangan nikel kelas dunia. GEM Co., Ltd. membawa teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) beserta pengalaman membangun rantai hilirisasi dari bijih nikel laterit hingga menjadi bahan baku baterai. Sementara itu, EcoPro melengkapi mata rantai tersebut melalui penguasaan teknologi material katoda dan jaringan industri kendaraan listrik global.

Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, kolaborasi tersebut mempertemukan tiga kekuatan utama yang dibutuhkan industri masa depan, yaitu praktik pertambangan yang bertanggung jawab, teknologi HPAL mutakhir, dan akses menuju rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia.

“Dengan kapasitas terbesar di dunia yang pernah diterapkan pada fasilitas HPAL, Sambalagi HPAL hari ini menetapkan standar baru, bukan sekadar mengikuti standar yang sudah ada. Hilirisasi nikel kita tidak hanya akan berhenti di sini. Rantai nilai yang kita bangun ini sangat panjang,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak lagi dipandang sebatas membangun fasilitas pengolahan, melainkan membangun ekosistem industri yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih tinggi di dalam negeri.

Ketika Teknologi Menentukan Daya Saing

Selain sumber daya, teknologi kini menjadi faktor pembeda dalam industri nikel.

Chairman GEM Co., Ltd. Prof. Xu Kaihua menjelaskan bahwa proyek BNSI menggunakan HPAL generasi terbaru yang dirancang memiliki tingkat pemulihan nikel dan kobalt lebih tinggi, konsumsi energi lebih rendah, serta mendukung pembangunan pabrik rendah karbon. Yang tidak kalah penting, teknologi ini mampu mengolah bijih nikel berkadar rendah yang sebelumnya belum ekonomis dimanfaatkan.

“Sebelumnya industri HPAL memerlukan nikel berkadar sekitar 1,0% hingga 1,2%. Dengan teknologi terbaru di Sambalagi, kami mampu memproses bijih berkadar 0,8%, 0,6%, bahkan hingga 0,4%,” katanya.

Kemampuan tersebut membuka peluang pemanfaatan cadangan nikel yang lebih luas sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya. Bagi Indonesia, inovasi seperti ini berpotensi memperpanjang umur ekonomis cadangan nikel sekaligus mendukung transisi menuju industri yang lebih berkelanjutan.

Prof. Xu juga menilai kemitraan Indonesia, Tiongkok, dan Korea Selatan di Sambalagi merupakan contoh kerja sama investasi hijau yang mengintegrasikan sumber daya, teknologi, dan pembangunan kawasan industri secara berkelanjutan.

Menjawab Standar Pasar Global

Perubahan industri kendaraan listrik juga membawa konsekuensi baru bagi produsen bahan baku. Produk tidak lagi dinilai hanya dari kualitasnya, tetapi juga dari bagaimana produk tersebut diproduksi.

Chairman EcoPro Lee Dong-chae menjelaskan bahwa MHP yang dihasilkan BNSI akan diproses lebih lanjut di fasilitas EcoPro di Hungaria sebelum dipasarkan ke Eropa dan Amerika Serikat. Dengan demikian, seluruh rantai produksi harus memenuhi berbagai regulasi internasional, termasuk Inflation Reduction Act (IRA) di Amerika Serikat dan EU Battery Regulation yang menempatkan aspek lingkungan, jejak karbon, dan tata kelola sebagai bagian dari persyaratan pasar.

“Bahan katoda kami dipasok ke berbagai pembuat mobil terkemuka dunia. Karena itu, kami wajib memenuhi standar lingkungan dan prinsip ESG yang sangat ketat. MHP yang diproduksi di Sambalagi menggunakan proses rendah karbon agar memenuhi standar pasar global,” tekannya.

Perspektif tersebut menunjukkan bahwa investasi pada teknologi rendah karbon bukan hanya berkaitan dengan komitmen lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi untuk menjaga daya saing di pasar internasional.

Hilirisasi dengan Dampak yang Lebih Luas

BNSI dirancang sebagai proyek dengan nilai investasi sekitar US$1,845 miliar dan kapasitas produksi 90.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun. Setelah beroperasi penuh, proyek ini diperkirakan menghasilkan nilai ekspor sekitar US$1,5 miliar setiap tahun, menciptakan lebih dari 5.000 lapangan kerja, serta memasok bahan baku bagi sekitar 3 juta kendaraan listrik.

Presiden Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan efisiensi proyek dirancang agar tetap kompetitif di tengah fluktuasi harga nikel dunia. Di sisi lain, skema Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Profit Sharing juga diharapkan memberikan kontribusi langsung kepada pemerintah pusat maupun daerah.

Sejalan dengan itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mempersiapkan peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal melalui pelatihan vokasi dan sertifikasi profesi agar masyarakat sekitar dapat mengambil bagian dalam pertumbuhan industri bernilai tambah.

Pada akhirnya, proyek BNSI menunjukkan bahwa di tengah perubahan lanskap industri global, daya saing tidak lagi hanya dibangun dari besarnya cadangan mineral atau kapasitas produksi. Kemampuan menghubungkan sumber daya, inovasi teknologi, keberlanjutan, dan akses pasar dalam satu ekosistem menjadi semakin menentukan. Kolaborasi Indonesia, Tiongkok, dan Korea Selatan menawarkan salah satu gambaran bagaimana model tersebut mulai diterapkan dalam pengembangan hilirisasi nikel Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News