Lebih mudah, alasan milenial gemar tempatkan uang di fintech peer to peer lending



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Melejitnya pertumbuhan bisnis fintech peer to peer (P2P) lending tidak terlepas dari peranan pemberi pinjaman (lender) menempatkan dana mereka. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan jumlah rekening lender tumbuh 32,15% yoy menjadi 659.186 entitas di Juni 2020.

Lebih jauh sebanyak 69,18% lender berusia 19 hingga 43 tahun. Lalu sebanyak 26,69% merupakan lender berusia 35 hingga 54 tahun. Adapun lender berusia lebih dari 54 tahun memberikan kontribusi sebesar 2,75% dan dibawah 19 tahun sebanyak 1,38%.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) melihat besarnya segmen milenial menjadi lender lantaran asosiasi beserta seluruh anggota dan OJK cukup agresif melakukan kegiatan sosialisasi. Juga edukasi ke daerah-daerah tentang industri keuangan secara umum dan industri fintech P2P lending secara khusus.


Baca Juga: OJK tunjuk AFSI sebagai asosiasi group inovasi keuangan digital syariah

“Kehadiran fintech P2P lending adalah merupakan suatu inovasi baru yang memungkinkan masyarakat dapat menjadi lender dengan hanya dana Rp 100.000 atau bahkan ada yang di bawah itu. Ssebagai dana pemberian pinjaman secara gotong royong dengan pihak lender lainnya dan untuk itu mereka (lender) akan mendapatkan imbal hasil bunga pinjaman tersebut,” ujar Kepala Bidang Institutional dan Hubungan Masyarakat AFPI Tumbur Pardede kepada Kontan.co.id pada Senin (24/8).

Co-Founder & CEO Modalku Reynold Wijaya menyebut akan terus melakukan edukasi di berbagai platform digital, seperti Instagram, Facebook, Blog, bahkan TikTok untuk menggaet segmen milenial. Lanjutnya, sampai saat ini, persentase lender millennial di Modalku adalah sebesar 70% dari total lender.

Salah satu lender dari segmen milenial, Beatrix Siahaan menyatakan memilih fintech P2P lending lantaran jauh lebih mudah dibandingkan instrument investasi lainnya.

Apalagi meniti karir di lembaga swadaya masyarakat yang berbasisi di Surabaya menuntut Ia harus ke berbagai daerah di Indonesia timur.

“Gue kan suka pusing sama kerjaan dan pikiran gue yang ke manamana. Jadi suka males ngeliatin saham naik turun gitu. Kalau P2P kan pakai bank yang udah ada aja terus tinggal setor ke virtual account. Terus nanti nariknya lagi juga tinggal narik,” ujar Beatrix.

Ia telah menempatkan uangnya di P2P lending sejak 2018. Setiap tahunnya, Ia menempatkan hingga puluhan juta per tahun. Bahkan masih Ia tambah dengan tunjangan hari rayanya. Dana tersebut Ia tempatkan pada dua entitas p2p lending.

“Namun semenjak pandemi Covid-19, sudah 6 bulan lebih sudah tidak tambah lagi. Juga sudah mulai gue tarik-tarik lagi. Tinggal sekitar 20% lagi yang belum ditarik,” papar Beatrix.

Editor: Yudho Winarto