Ledakan Kecerdasan Buatan dan IoT Mendorong Industri Data Center Masuki Era Baru



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan adopsi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI), cloud computing dan internet of things (IoT) mendorong industri data center memasuki fase transformasi semakin strategis.

Fungsi data center kini telah berkembang. Tidak lagi sekadar tempat penyimpanan data, tetapi menjadi fondasi utama ekonomi digital global yang menopang operasional bisnis real-time, komputasi AI, hingga konektivitas miliaran perangkat pintar.

Perubahan tersebut berlangsung seiring meningkatnya kebutuhan kapasitas komputasi, efisiensi energi, dan keandalan sistem. Tren ini dipicu oleh proyeksi sekitar 50 miliar perangkat IoT yang akan saling terhubung pada tahun 2030, serta perkembangan agentic AI yang diperkirakan mampu menangani hingga 80% interaksi layanan pelanggan secara otomatis pada 2029.


Peningkatan kebutuhan komputasi global membuat kapasitas data center diproyeksikan tumbuh hingga empat kali lipat dibandingkan 2023. AI menjadi salah satu faktor pendorong utama.

Konsumsi daya workload AI dan physical infrastructure diperkirakan meningkat dari 4,3 gigawatt (GW) pada tahun 2023 menjadi sekitar 13,5 GW–18 GW pada 2028. Di saat yang sama, kontribusi konsumsi energi AI terhadap total penggunaan listrik data center juga diprediksi naik dari 8% menjadi sekitar 15%–20%.

Baca Juga: Folago Global (IRSX) Prediksi Pengguna OTT di Indonesia Naik hingga 40% pada 2026

Chairman Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma mengatakan, pertumbuhan pasar data center nasional menunjukkan akselerasi sangat cepat. Kapasitas data center Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 559 negawatt (MW). “Hingga 2026 year-to-date sudah di level 637 MW dan diproyeksikan dapat menembus 1,6 GW pada akhir 2026,” kata Hendra, Rabu (20/5). 

Saat ini, hampir seluruh sektor ekonomi digital bergantung pada keberadaan data center. Mulai dari media sosial dan layanan streaming, industri jasa keuangan yang berada di bawah pengawasan OJK, sektor energi dan migas, hingga layanan publik digital di berbagai daerah.

Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia turut memperkuat kebutuhan tersebut. Dengan jumlah penduduk sekitar 286 juta jiwa, lebih dari 230 juta pengguna internet, 180 juta akun media sosial, dan 331 juta koneksi seluler pada 2025, kebutuhan infrastruktur digital nasional terus meningkat.

Di sisi lain, perkembangan AI memunculkan tantangan baru dalam pengelolaan daya dan sistem pendinginan data center. Workload AI membutuhkan Graphics Processing Unit (GPU) dengan densitas komputasi jauh lebih tinggi dibandingkan sistem komputasi konvensional.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Schneider Electric menghadirkan solusi liquid cooling bagi data center AI-ready. Kapabilitas Schneider Electric juga diperkuat melalui akuisisi Motivair pada 2025. 

Business VP Data Center Schneider Electric Indonesia, Ellya Cen, menilai perkembangan AI telah membawa industri data center memasuki era baru dengan kebutuhan daya dan sistem pendinginan yang semakin kompleks.

“Schneider Electric berupaya membantu operator data center membangun infrastruktur yang lebih efisien, andal, dan adaptif terhadap pertumbuhan kebutuhan AI yang berkelanjutan,” ujar Ellya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News