Ledakan Micro-Drama dan Babak Baru Bisnis Hiburan Berbasis AI



KONTAN.CO.ID - HONG KONG/JAKARTA. Anda mungkin pernah secara tidak sengaja menonton sebuah video drama serial berdurasi singkat saat sedang scrolling di media sosial. Formatnya biasanya vertikal, alurnya cepat, ceritanya bikin penasaran, dan durasinya pendek. 

Itulah micro-drama, tren konten hiburan yang kini melahap perhatian jutaan penonton di Asia. Di tengah derasnya arus konten digital, masyarakat sekarang tampaknya memang lebih menyukai konten hiburan durasi pendek yang bisa selesai ditonton dalam hitungan menit. 

Nah, perubahan kebiasaan menonton ini ikut memaksa industri hiburan mengubah cara mereka menciptakan dan memproduksi cerita. Bukan cuma ceritanya yang harus lebih cepat menangkap perhatian, proses di balik layar pun dituntut kian gesit dan efisien.


KONTAN berkesempatan mewawancarai Tommy Lo, Controller TVB Plus dan First Frame Studio. Sebagai informasi, TVB merupakan salah satu stasiun televisi swasta terbesar di Hong Kong, yang kini turut memproduksi sejumlah micro-drama

Baca Juga: Cyberport Hong Kong Buka Peluang dengan Indonesia, Lirik Fintech dan Smart City

Tommy bercerita, di balik layar, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini dapat membuat proses produksi lebih efisien. Proses produksi yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga cukup panjang, bisa dilakukan jauh lebih cepat. 

Menurut Tommy, selama ini, mungkin banyak ide cerita yang harus terbentur dengan kenyataan produksi. Misalnya, ceritanya mungkin menarik, tetapi lokasinya sulit didapat dan biayanya terlalu mahal. Sebuah konsep akhirnya bisa dibatalkan karena membutuhkan terlalu banyak sumber daya.

"Namun sekarang dengan AI, saya rasa kita tidak punya batasan atau hambatan seperti itu lagi. Kita bisa tetap menggunakan imajinasi kita dan membuat berbagai jenis cerita yang kita inginkan. Dengan teknologi AI, kreator memiliki ruang lebih besar untuk mewujudkan gagasan yang sebelumnya mungkin hanya berhenti di ruang rapat," ujar Tommy saat ditemui KONTAN dalam agenda Digital Entertainment Leadership Forum (DELF) 2026 di Hong Kong. 

Bukan cuma soal biaya

Tommy mengatakan, produksi televisi konvensional biasanya membutuhkan rangkaian proses yang panjang. Tapi meskipun menggunakan bantuan AI, TVB tidak serta-merta menghilangkan seluruh tahapan tersebut. Penulisan naskah, praproduksi, desain karakter, kostum, setting hingga storyboard tetap menjadi bagian dari proses.

Yang berubah dengan AI adalah kecepatannya. Misalnya saja, saat pembuatan storyboard. Jika sebelumnya kreator membutuhkan waktu berhari-hari untuk menggambar dan mengembangkan visual, kini kreator dapat menggunakan prompt untuk menghasilkan gambaran dalam waktu sangat singkat.

Jika hasilnya belum sesuai, prompt dapat diubah. Versi lain bisa dibuat dan dibandingkan, lalu dipilih mana yang paling mendekati keinginan kreator.

"AI sebenarnya memperpendek seluruh siklus produksi," katanya.

Kecepatan ini pada akhirnya memberi ruang bagi kreator untuk mencoba lebih banyak kemungkinan. Jadi, sebuah ide tidak harus langsung dibuang hanya karena sulit dibayangkan secara visual. Kreator bisa membuat beberapa alternatif terlebih dahulu, melihat hasilnya, lalu menentukan arah cerita dan produksinya.

Bagi Tommy, inilah salah satu perubahan penting yang dibawa AI. Teknologi bukan cuma membuat pekerjaan kreator menjadi lebih cepat, tetapi juga membuat orang lebih berani mengeksplorasi ide.

Penonton berubah, drama ikut berubah

Di sisi lain, perubahan cara produksi tersebut datang ketika kebiasaan penonton juga sedang bergeser. Penonton kini semakin terbiasa mengonsumsi konten melalui ponsel. Waktu untuk menikmati hiburan pun sering kali datang dalam potongan-potongan kecil.

Misalnya saat sedang bepergian, menunggu sesuatu, atau memiliki waktu luang beberapa menit, penonton tetap bisa menikmati hiburan. Kondisi ini membuat format pendek semakin menarik.

"Saat ini, orang-orang menyukai format pendek dan berkecepatan tinggi (fast-pacing)," ujarnya. 

Baca Juga: Cyberport Hong Kong Buka Peluang dengan Indonesia, Lirik Fintech dan Smart City

Tommy melihat permintaan terhadap drama AI di Hong Kong terus membesar. China bahkan menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai seberapa cepat pasar micro-drama berkembang.

Ia menyebut, sebuah riset di China menunjukkan sekitar 128.000 micro-drama ditayangkan secara online pada kuartal pertama tahun ini. Nah, sekitar 95% di antaranya dibuat menggunakan AI. Angka tersebut menunjukkan betapa cepatnya perkembangan produksi konten berbasis AI. 

Menurut dia, perkembangan tersebut juga membuka kemungkinan bagi drama AI berdurasi lebih panjang hingga film berbasis AI untuk semakin berkembang di masa depan.

Di China, permintaan dan pasokan drama pendek juga terus meningkat. Bahkan, pasokan drama pendek sudah lebih banyak dibandingkan drama berdurasi panjang. Artinya, ada pasar yang mulai terbentuk di belakangnya.

Peluang bagi Indonesia

Sebagai negara dengan jumlah penikmat digital yang sangat besar di Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi strategis untuk memanfaatkan gelombang ini. Tommy melihat hambatan masuk ke industri film kini telah hilang. 

Dahulu, pembuatan drama membutuhkan tim besar beranggotakan puluhan profesional. Sekarang sekelompok kecil orang, bahkan satu orang saja, bisa membuat drama AI sendiri dan langsung memasukkannya ke pasar.

Selain itu, kebutuhan pasar yang tinggi memicu lahirnya banyak platform baru penampung drama mikro. Kreator Indonesia tidak lagi terbatas pada pasar lokal, tetapi punya akses mendistribusikan karyanya ke pasar internasional. AI juga memudahkan proses kustomisasi cerita. 

Konten berlatar budaya lokal bisa dengan mudah disesuaikan, mulai dari bahasa, wajah karakter, hingga latar visual agar lebih cocok dengan selera pasar global. Tommy menyarankan para kreator lokal untuk mulai mempelajari teknologi AI, tetap fokus pada kualitas cerita karena konten adalah yang utama, serta berani mencoba pasar luar negeri.

Meski efisiensinya sangat tinggi, Tommy menegaskan bahwa AI tidak dirancang untuk menggantikan film live-action atau metode pembuatan film tradisional. Sama seperti industri animasi di Jepang yang tidak menggantikan film live-action, AI hanya menyediakan satu lagi pilihan untuk audiens dan satu lagi cara untuk bercerita.

Tantangan terbesar

Tommy mengatakan, tantangan terbesar penerapan AI saat ini justru ada pada faktor manusia. Pertama, dari sisi talenta produksi, industri butuh sutradara dan pengarah artistik yang tak hanya paham estetika, tetapi juga punya keterampilan baru untuk berkomunikasi dengan komputer melalui perintah prompt. 

Kedua, dari sisi penerimaan penonton, sebagian masyarakat masih enggan jika seluruh konten dibuat murni oleh mesin tanpa sentuhan manusia.

"Audiens tidak keberatan dengan video konten AI, tetapi mereka tidak ingin semua konten dihasilkan oleh AI," tandasnya. 

Menghadapi gelombang perubahan ini, Tommy membagikan beberapa pesan penting bagi para kreator yang ingin mengambil peluang tersebut. 

Baca Juga: Taksi Terbang Tanpa Pilot Sukses Mengudara di Hong Kong, Tertarik Coba?

Menurutnya, langkah awal yang paling utama adalah berani merangkul dan mempelajari teknologi AI agar memahami potensi alat-alat digital tersebut dalam mengoptimalkan proses kerja.

Meski demikian, penguasaan teknologi tetap harus berjalan berdampingan dengan kekuatan cerita atau narasi. Kreator sebaiknya tidak sekadar mengejar kuantitas atau popularitas instan, melainkan tetap berfokus pada kualitas cerita karena kualitas konten tetap menjadi penentu utama keberhasilan. 

Langkah tersebut kemudian perlu dilengkapi dengan keberanian untuk mengeksplorasi berbagai pasar, baik di tingkat lokal maupun internasional.

Bagi TVB sendiri, ekspansi ke pasar Asia Tenggara termasuk Indonesia sedang berada dalam radar eksplorasi. Pihaknya berharap drama yang diproduksi bisa menjangkau berbagai lapisan penonton di seluruh dunia.