Ledakan Roket Blue Origin Ganggu Proyek Satelit Amazon dan Misi NASA



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Perusahaan antariksa milik Jeff Bezos, Blue Origin, menghadapi kemunduran besar setelah ledakan roket merusak fasilitas peluncurannya.

Insiden ini diperkirakan akan menyebabkan gangguan operasional selama berbulan-bulan, mengacaukan jadwal peluncuran satelit Amazon dan semakin memperkuat dominasi SpaceX di pasar peluncuran komersial global.

Menurut sumber perusahaan dan industri, insiden terjadi saat uji penyalaan mesin (test fire) untuk roket New Glenn yang sedianya dijadwalkan meluncur pekan depan.


Kecelakaan tersebut terjadi pada momen krusial bagi kerajaan bisnis Jeff Bezos. Blue Origin dan Amazon tengah berupaya memperkuat posisinya sebagai pesaing utama di industri roket angkut berat serta jaringan internet satelit global, yang selama ini didominasi oleh SpaceX milik Elon Musk.

Gangguan ini juga berpotensi mempersulit ambisi NASA dalam program eksplorasi Bulan.

Booster Blue Origin yang diberi nama "No, It's Necessary"—mengacu pada salah satu dialog dalam film Interstellar—hancur dalam insiden tersebut.

Baca Juga: AS Kritik Eropa soal Pertahanan, NATO Tegaskan Aliansi Tetap Solid

Seorang sumber yang mengetahui masalah ini namun enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa fasilitas peluncuran tersebut "praktis hancur" dan para insinyur memperkirakan gangguan operasional akan berlangsung setidaknya enam bulan, bahkan bisa lebih lama.

"Baru setahun lalu roket Starship milik SpaceX juga meledak di landasan peluncuran dan Blue Origin juga dapat pulih. Namun, proses pembangunan kembali akan memakan waktu berbulan-bulan," ujar Antoine Grenier, Partner dan Head of Space Consulting di Analysys Mason.

Proses Pemulihan Diperkirakan Berlangsung Berbulan-bulan

Sebagai perbandingan, ketika roket Falcon 9 milik SpaceX meledak di landasan peluncuran pada 2016, perusahaan tersebut membutuhkan lebih dari satu tahun untuk memperbaiki fasilitas yang rusak. Namun, SpaceX dapat kembali melakukan peluncuran dalam waktu sekitar 4,5 bulan dengan memindahkan operasional ke landasan peluncuran lain di Florida.

Keputusan Amazon untuk menggandeng lebih banyak mitra peluncuran, termasuk SpaceX, memang telah mengurangi ketergantungan pada satu jenis roket. Namun kondisi ini sekaligus memberi keuntungan strategis bagi bisnis Elon Musk atas pesaing lamanya, Jeff Bezos.

Menanggapi insiden tersebut, Musk menyampaikan dukungannya melalui platform X.

"Turut prihatin melihat hal ini, saya berharap kalian dapat pulih dengan cepat," tulis Musk.

Dalam balasan lain kepada Bezos, Musk menulis "Ad astra per aspera", frasa Latin yang bermakna mencapai bintang melalui berbagai kesulitan atau tantangan berat.

Baca Juga: Negara Indo-Pasifik Perkuat Militer di Tengah Bayang-Bayang China

Jadwal Konstelasi Satelit Amazon Terancam

Amazon LEO sebelumnya mengandalkan frekuensi peluncuran New Glenn yang tinggi untuk menempatkan setengah dari lebih dari 3.200 satelit internet broadband miliknya sebelum Juli 2026 guna memenuhi tenggat waktu regulasi.

Namun, jika Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) memberlakukan penghentian operasi dalam jangka panjang, target tersebut akan menghadapi risiko serius.

Grenier menjelaskan bahwa Amazon sebenarnya telah memanfaatkan sebagian besar kapasitas peluncuran jangka pendek yang tersedia dari penyedia roket berat lainnya.

Meski SpaceX dapat menyerap sebagian tambahan permintaan, roket Falcon 9 hanya mampu mengangkut sekitar setengah jumlah satelit Amazon LEO dibandingkan New Glenn dalam setiap peluncuran. Akibatnya, pemindahan jadwal peluncuran ke SpaceX akan memerlukan peningkatan jumlah misi secara signifikan.

Selain itu, berbagai muatan untuk misi Bulan umumnya dirancang khusus untuk kendaraan peluncur tertentu, sehingga perpindahan ke roket alternatif menjadi proses yang rumit dan memerlukan penyesuaian teknis.

Dampak terhadap Program Bulan NASA

Roket New Glenn juga dijadwalkan meluncurkan pendarat Bulan pertama Blue Origin, Blue Moon, pada akhir tahun ini.

Beberapa hari sebelum insiden terjadi, NASA baru saja memberikan kontrak kepada Blue Origin untuk mengirimkan dua rover Bulan sebagai bagian dari persiapan misi Artemis 4 yang direncanakan berlangsung pada 2028.

Baca Juga: Dukung Industri Tekstil, India Hapus Bea Masuk Impor Kapas Selama Lima Bulan

NASA menyatakan sedang mengevaluasi dampak jangka pendek insiden tersebut terhadap program Artemis dan Moon Base. Namun hingga kini belum jelas apakah ada misi yang perlu dialihkan ke penyedia peluncuran lain.

SpaceX Diuntungkan, Tetapi Persaingan Tetap Terbuka

Meski insiden ini berpotensi menjadi kemunduran besar bagi Blue Origin dalam jangka pendek, sejumlah pengamat menilai dampaknya terhadap prospek jangka panjang perusahaan masih belum dapat dipastikan.

Di sisi lain, SpaceX juga menghadapi keterbatasan kapasitas karena jadwal peluncurannya telah dipenuhi oleh proyek satelit Starlink, misi komersial, serta kontrak pemerintah Amerika Serikat.

Menariknya, Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (U.S. Space Force) dan National Reconnaissance Office (NRO) pada Jumat menegaskan tetap berkomitmen kepada Blue Origin. Kedua lembaga tersebut tidak mengubah kontrak peluncuran keamanan nasional yang baru diberikan sehari sebelumnya, meskipun ledakan besar terjadi beberapa jam setelah kontrak diumumkan.

"Untuk jangka panjang, pasar tetap membutuhkan alternatif yang layak. Jadi insiden ini memang memperkuat posisi SpaceX dalam batas tertentu, tetapi tidak mengubah arah perkembangan industri menuju ekosistem yang memiliki banyak penyedia layanan peluncuran," ujar Chief Executive Officer Seraphim Space, Mark Boggett.