Ledakan Tambang Batubara di China Tewaskan 82 Orang, Tragedi Terburuk dalam 17 Tahun



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Kekacauan yang terjadi setelah bencana tambang terburuk di China dalam 17 tahun terakhir menyebabkan revisi jumlah korban jiwa menjadi 82 orang tewas. Hal tersebut disampaikan pejabat setempat dalam konferensi pers pada Sabtu (24/5/2026) malam.

Korban meninggal akibat ledakan gas di tambang batubara Liushenyu yang berada di Provinsi Shanxi, China bagian utara, pada Jumat (23/5) malam. Sebelumnya, media pemerintah China melaporkan sedikitnya 90 orang tewas dalam insiden tersebut.

Meski jumlah korban direvisi lebih rendah, kecelakaan ini tetap menjadi tragedi tambang paling mematikan di China sejak 2009. Saat itu, ledakan gas di Tambang Xinxing, Provinsi Heilongjiang, menewaskan 108 orang.


Pejabat lokal menjelaskan bahwa angka korban awal yang disampaikan media pemerintah terjadi akibat kesalahan pendataan di tengah situasi yang kacau pascakejadian.

Baca Juga: AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata 60 Hari, Ini Isi Kesepakatannya

“Kondisi di lokasi sangat kacau setelah insiden terjadi. Perusahaan juga tidak memiliki data yang jelas mengenai jumlah pekerja yang berada di bawah tanah, sehingga menyebabkan angka awal menjadi tidak akurat,” ujar Kepala Kabupaten Qinyuan, Shanxi, Guo Xiaofang.

Saat ledakan terjadi, terdapat 247 pekerja yang sedang bertugas di bawah tanah.

Guo menyebutkan dua orang masih dinyatakan hilang. Sementara itu, sebanyak 128 orang mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan 35 pekerja lainnya selamat tanpa cedera.

Tambang Liushenyu dimiliki oleh Shanxi Tongzhou Coal Coking Group. Pemerintah daerah menyatakan seluruh empat tambang milik perusahaan tersebut telah ditutup dan para eksekutif perusahaan ditahan untuk kepentingan penyelidikan.

Baca Juga: Trump Klaim Telah Teken MoU dengan Iran Buka Selat Hormuz, Teheran Langsung Bantah

Surat kabar milik pemerintah, People's Daily, pada Minggu (25/5) menerbitkan editorial di halaman depan yang menyerukan peningkatan perhatian terhadap keselamatan kerja dan pentingnya “sepenuhnya membalik kecenderungan yang lebih mengutamakan pembangunan dibanding keselamatan.”

Presiden China, Xi Jinping, pada Sabtu meminta otoritas setempat untuk “mengerahkan segala upaya” dalam menangani korban luka serta melaksanakan operasi pencarian dan penyelamatan, menurut kantor berita Xinhua. Xi juga memerintahkan investigasi menyeluruh atas insiden tersebut.

Pejabat setempat menyebut tambang Liushenyu memiliki kapasitas produksi sebesar 1,2 juta ton batubara per tahun. Sebagai informasi, China pada tahun lalu memproduksi sekitar 4,83 miliar ton batubara, yang masih menjadi tulang punggung sektor pembangkit listrik negara tersebut.