KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Ledakan investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong perusahaan teknologi raksasa atau
hyperscalers berburu pendanaan dalam jumlah jumbo. Tidak hanya mengandalkan pasar obligasi Amerika Serikat (AS), mereka kini mulai menerbitkan utang dalam berbagai mata uang demi menjangkau investor yang lebih luas. Lonjakan belanja untuk cip, komputasi awan (
cloud), hingga pembangunan pusat data membuat kebutuhan modal perusahaan-perusahaan seperti Amazon dan Alphabet terus membengkak. Mengutip
Reuters (30/6), dalam 12 bulan terakhir, kedua perusahaan tersebut telah menerbitkan obligasi senilai sekitar US$ 60 miliar dalam berbagai mata uang.
Global Co-Head of Investment-Grade Debt Morgan Stanley Teddy Hodgson mengatakan, Alphabet dan Amazon kini memperluas sumber pendanaan ke pasar Eropa, Kanada, dan Asia. Menurut dia, transaksi jumbo tersebut telah mengubah lanskap pasar obligasi global sekaligus mencetak rekor baru untuk penerbitan obligasi dalam mata uang euro, pound sterling, dan yen.
Pada Maret lalu, Amazon menghimpun dana 14,5 miliar euro atau sekitar US$ 16,56 miliar melalui penerbitan delapan seri obligasi. Berdasarkan data LSEG, transaksi tersebut menjadi penerbitan obligasi korporasi terbesar sepanjang sejarah di pasar euro. Sementara itu, Alphabet mencetak rekor penerbitan obligasi dalam mata uang yen Jepang, dolar Kanada, franc Swiss, dan pound sterling. Perusahaan induk Google itu juga menerbitkan obligasi bertenor 100 tahun, yang menjadi obligasi pertama dari perusahaan teknologi dengan tenor tersebut sejak 1997. Besarnya penerbitan utang mencerminkan tingginya kebutuhan pendanaan sektor AI. BNP Paribas memperkirakan belanja modal (
capital expenditure/capex) para
hyperscalers tahun ini mencapai sekitar US$ 725 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan pertengahan 2025. Analis menilai kenaikan belanja modal kini melampaui pertumbuhan arus kas operasional sehingga perusahaan harus mencari sumber pembiayaan dari luar.
Baca Juga: Aktivitas Manufaktur China Kembali Ekspansi Ditopang Lonjakan Permintaan Produk AI Di sisi lain, bank-bank investasi juga mulai menawarkan skema pembiayaan baru bagi startup AI dan operator pusat data. Salah satunya melalui penerbitan surat utang yang dijamin kontrak sewa pusat data yang telah disepakati sebelum proyek selesai dibangun. Skema ini memberikan kepastian arus kas kepada investor. Contoh terbaru adalah penerbitan surat utang senilai US$ 810 juta oleh Stingray Compute, anak usaha Cipher Digital. Head of North America Leveraged Finance Capital Markets Morgan Stanley Cody Gunsch mengatakan, permintaan investor mencapai sembilan kali lipat dari nilai yang ditawarkan (
oversubscribed). Menurut Gunsch, transaksi tersebut dijamin oleh kontrak penyewaan pusat data kepada Amazon. Ia menambahkan, struktur pembiayaan serupa mulai digunakan sejak tahun lalu dan hingga kini sekitar 15 transaksi telah dipasarkan kepada investor obligasi berimbal hasil tinggi (
high yield). Amazon menyatakan secara rutin mengevaluasi kebutuhan operasional dan memilih sumber pendanaan, termasuk penerbitan obligasi dalam berbagai mata uang, sesuai kondisi perusahaan. Sementara itu, Alphabet mengungkapkan total utangnya kini mencapai sekitar US$ 100 miliar yang tersebar dalam enam mata uang utama. CEO Alphabet Sundar Pichai juga menegaskan investasi AI perusahaan didanai melalui kombinasi arus kas, utang, dan ekuitas. Meski pasokan obligasi AI terus meningkat, minat investor masih tergolong tinggi. Hodgson memperkirakan penerbitan obligasi berperingkat investasi (
investment grade) dapat melampaui US$ 2 triliun untuk pertama kalinya pada 2026, didorong oleh derasnya kebutuhan pendanaan sektor AI. Bahkan, penerbitan obligasi
investment grade oleh para
hyperscalers tahun ini telah melampaui total sepanjang 2025 dan berpotensi mencapai US$ 250 miliar sesuai proyeksi BNP Paribas.
Baca Juga: Amazon Tambah Investasi US$ 13 Miliar di India: Kembangkan Cloud dan AI Chief Market Strategist sekaligus Fixed Income Portfolio Manager Crossmark Global Investments Victoria Fernandez mengatakan, obligasi yang diterbitkan para
hyperscalers memiliki kualitas kredit yang tinggi sehingga masih banyak diburu investor. Namun, ia mengingatkan jika perusahaan-perusahaan teknologi terus berulang kali masuk ke pasar obligasi untuk mencari dana, investor mulai mempertanyakan kemampuan pasar menyerap pasokan utang yang semakin besar.
Kekhawatiran serupa juga muncul setelah sejumlah perusahaan teknologi mengumumkan rencana penerbitan saham baru. Menurut Hodgson, langkah tersebut menunjukkan kebutuhan pendanaan mereka masih akan terus meningkat, baik melalui penerbitan ekuitas maupun utang. Meski demikian, hingga kini belum terlihat tanda-tanda kejenuhan pasar. Data Barclays menunjukkan obligasi yang berkaitan dengan AI baru menyumbang sekitar 15% dari total penerbitan obligasi
investment grade di AS. Global Co-Head of Investment-Grade Debt Syndicate Barclays Scott Schulte menilai, porsi tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total utang yang tercatat dalam indeks kredit
investment grade secara keseluruhan. Senada, Head of Developed-Market Fixed Income Manulife Investment Management Jeff Given mengatakan, proyek AI dan pembangunan pusat data masih berada pada tahap ekspansi jangka panjang. Selama perusahaan teknologi terus meningkatkan belanja investasi, kebutuhan pendanaan melalui pasar obligasi diperkirakan akan tetap kuat.