KONTAN.CO.ID - Leicester City resmi masuk bursa penjualan dengan banderol lebih dari 200 juta poundsterling atau sekitar Rp4,8 triliun. Pemilik klub asal Thailand, King Power, disebut siap mengakhiri kepemilikannya yang telah berlangsung selama 16 tahun. Mengutip laporan
BBC Sport, kepastian Leicester City ditawarkan kepada calon investor muncul setelah bank investasi asal Amerika Serikat, Citigroup, menyiapkan dokumen penjualan untuk membantu klub mencari pemilik baru.
Dokumen setebal delapan halaman tersebut diberi nama "
Project Lineup" dan telah diedarkan kepada calon pembeli.
Baca Juga: Arsenal Perpanjang Kerja Sama dengan Emirates hingga 2033, Ini Detail Kemitraannya Label Harga Rp4,8 Triliun Dipasang
Dalam dokumen penjualan, Citigroup mencantumkan Leicester City bersama tim putri dan sejumlah aset utama klub. Aset yang ditawarkan mencakup King Power Stadium yang memiliki kapasitas sekitar 32.000 penonton. Fasilitas latihan Seagrave yang dibuka pada 2020 juga masuk dalam paket tersebut dan ditaksir bernilai 121 juta poundsterling atau sekitar Rp2,9 triliun. Selain itu, OH Leuven, klub asal Belgia yang merupakan klub saudara Leicester City, turut tercantum dalam dokumen penjualan. Citigroup menaksir nilai aset fisik Leicester lebih dari 200 juta poundsterling atau sekitar Rp4,8 triliun. Namun, dokumen tersebut tidak memberikan angka khusus untuk nilai penjualan tim-tim yang dimiliki Leicester. Materi penjualan itu menggambarkan Leicester sebagai peluang langka untuk mengakuisisi klub yang memiliki rekam jejak sukses dalam meraih promosi ke divisi yang lebih tinggi.
Baca Juga: Jeff Bezos Incar Liverpool, Ini 4 Alasan Investasi di The Reds Bisa Menguntungkan Leicester Punya Masalah Keuangan
Dalam periode ketika klub naik-turun antara Premier League dan Championship, Leicester mencatat kerugian lebih dari 180 juta poundsterling atau sekitar Rp4,3 triliun. Laporan keuangan 2025 juga menunjukkan klub memiliki sejumlah utang. Salah satunya adalah pinjaman bank senilai 103,6 juta poundsterling atau sekitar Rp2,5 triliun. Angka kerugian dan utang tersebut tidak dicantumkan dalam materi promosi penjualan yang disiapkan Citigroup. Sebaliknya, dokumen tersebut menonjolkan proyeksi pendapatan Leicester yang diperkirakan mencapai lebih dari 97 juta poundsterling atau sekitar Rp2,3 triliun pada tahun finansial 2026.
Baca Juga: Konsorsium Bezos Siap Akuisisi Liverpool, Nilainya Tembus Rp107 Triliun Juara Liga Primer Inggris yang Legendaris
Untuk menarik minat investor, Citigroup menonjolkan sejarah kesuksesan Leicester City. Momen terbesar tentu saja ketika
The Foxes secara mengejutkan menjuarai Premier League 2015/2016. Saat itu, Leicester dianggap sebagai salah satu juara paling mengejutkan dalam sejarah kompetisi setelah mengalahkan klub-klub dengan kekuatan finansial jauh lebih besar. Kesuksesan Leicester berlanjut dengan menjuarai FA Cup pada 2021.
Namun, materi penjualan tersebut tidak banyak menyoroti kondisi Leicester saat ini. Klub berjuluk
The Foxes itu kini berada di League One, kasta ketiga sepak bola Inggris. Leicester terdegradasi dari Premier League pada 2023 dan kembali turun kasta dari Championship pada 2025. Dengan demikian, klub mengalami dua degradasi dari kasta teratas dalam rentang hanya tiga tahun.
Baca Juga: Manchester United Amankan Lahan untuk Stadion Baru, Kapasitas 100.000 Tempat Duduk