KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menetapkan pemenang seleksi pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz yang diharapkan mempercepat pembangunan jaringan telekomunikasi nasional, termasuk perluasan layanan 4G dan 5G. Pemenang seleksi juga diwajibkan menyediakan layanan 4G di 538 desa dan kelurahan yang belum terjangkau atau masih mengalami keterbatasan sinyal serta memenuhi cakupan layanan 5G kepada sedikitnya 51% populasi nasional pada tahun kelima. Direktur Investasi PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) Noorhayati Candrasuci menilai tambahan spektrum tersebut membuka peluang pertumbuhan kebutuhan infrastruktur telekomunikasi seiring ekspansi jaringan dan implementasi layanan 5G oleh operator seluler.
Baca Juga: PTRO Miliki 19,88% Saham, Cek Profil Emiten SINI, Lini Bisnis, dan Kinerja Terbarunya "MTEL melihat penyelesaian lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz ini sebagai perkembangan yang positif bagi industri telekomunikasi di Indonesia," ujar Direktur Investasi Dayamitra Telekomunikasi Noorhayati Candrasuci kepada Kontan, Jumat (24/7/2026). Noorhayati mengatakan Mitratel memiliki posisi strategis untuk mendukung ekspansi operator karena mengelola lebih dari 40.000 menara yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia serta telah bertransformasi menjadi
Next-Gen TowerCo. "Kami meyakini kebutuhan akan shared digital infrastructure akan semakin meningkat seiring pertumbuhan trafik data, adopsi 5G, dan percepatan transformasi digital di Indonesia," ucapnya. Director & Chief of Staff sekaligus Group Investor Relations Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) Hartono Tanuwidjaja juga memandang tambahan spektrum akan mempercepat kebutuhan pembangunan menara telekomunikasi dan jaringan serat optik nasional. "Tambahan spektrum bagi para operator seluler secara otomatis akan mendorong akselerasi ekspansi infrastruktur," katanya. Hartono menjelaskan frekuensi 700 MHz akan dimanfaatkan operator untuk memperluas cakupan layanan, sedangkan pita 2,6 GHz difokuskan meningkatkan kapasitas sehingga membutuhkan dukungan menara dan jaringan fiber. "Berbekal ekosistem yang solid ini, kami optimistis TOWR akan berkontribusi secara signifikan dalam memenuhi kebutuhan menara dan fiber optik nasional," ujar Hartono.
Baca Juga: Perry Warjiyo Mundur, Pasar Wait and See Tunggu Arah Baru Bank Indonesia Direktur dan Sekretaris Perusahaan Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) Helmy Yusman Santoso menyatakan TBIG siap mendukung ekspansi operator telekomunikasi melalui kapasitas infrastruktur maupun kemampuan pendanaan belanja modal. "Kami siap mendukung pelanggan kami yaitu operator telekomunikasi untuk ekspansi. Kami juga memiliki cukup kemampuan keuangan untuk membiayai belanja modal terkait dengan ekspansi tersebut," jelasnya, Di sisi lain, Equity Research Analyst Panin Sekuritas Aqil Triyadi menyebut tambahan spektrum akan meningkatkan permintaan penyewaan menara sehingga berpotensi mendorong kenaikan
tenancy ratio sekaligus pendapatan emiten menara. “MTEL berpotensi menjadi pihak yang paling diuntungkan karena memiliki jumlah menara terbesar dengan sebaran luas hingga wilayah yang masih membutuhkan peningkatan akses internet,” kata dia.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menyebut dampak lelang spektrum terhadap kinerja emiten menara akan berlangsung bertahap karena operator diperkirakan lebih dahulu mengoptimalkan menara yang telah tersedia sebelum membangun infrastruktur baru. Dia bilang MTEL tetap menjadi pilihan utama berkat eksposur tinggi terhadap Telkomsel, jaringan menara yang menjangkau wilayah rural, serta dukungan ekosistem Telkom Group sehingga rekomendasi beli dengan target harga Rp 705.
Baca Juga: Dana Asing Keluar dari Emerging Market, Ini Faktor Pemicunya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News