Lelang Seni Bangkit, Kolektor Muda Jadi Penggerak Baru Pasar



KONTAN.CO.ID - LONDON. Setelah beberapa tahun dibayangi perlambatan dan kehati-hatian kolektor, pasar lelang seni global kembali menemukan momentumnya. Dua rumah lelang terbesar dunia, Christie's dan Sotheby's, sama-sama membukukan lonjakan penjualan pada semester pertama 2026. Namun, kebangkitan ini bukan semata karena lukisan-lukisan bernilai ratusan juta dolar berpindah tangan. Ada perubahan yang lebih besar sedang terjadi: wajah kolektor seni dunia kini semakin muda, dan minat mereka meluas jauh melampaui kanvas.

Christie's mencatat total penjualan mencapai  US$ 4,5 miliar pada enam bulan pertama tahun ini. Penjualan melalui lelang publik melonjak 71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi US$ 3,5 miliar, sementara tingkat keberhasilan penjualan mencapai 91% dari seluruh lot yang ditawarkan. Sotheby's juga membukukan kinerja serupa. Total penjualannya mencapai US$ 4,4 miliar, naik 58% secara tahunan dan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Karya-karya seni kelas dunia masih menjadi magnet utama. Christie's memimpin lewat penjualan koleksi mendiang penerbit S.I. Newhouse senilai US$ 630,8 juta. Lukisan Number 7A (1948) karya Jackson Pollock menjadi bintang dengan harga US$ 181,2 juta, disusul patung Danaïde karya Constantin Brancusi yang laku US$ 107,6 juta. Di Sotheby's, pekan lelang utama pada Mei menghasilkan transaksi US$ 908,6 juta, sementara koleksi Lewis di London mencetak rekor sebagai penjualan seni Impresionis, Modern, dan Kontemporer terbesar yang pernah digelar di Eropa.


Namun, denyut pertumbuhan pasar ternyata tidak hanya datang dari lukisan atau patung. Di balik angka-angka besar tersebut, kategori barang mewah justru berkembang menjadi mesin pertumbuhan baru. Jam tangan, mobil klasik, perhiasan, tas mewah hingga memorabilia kini menjadi pintu masuk bagi banyak kolektor baru. Christie's mencatat penjualan kategori luxury mencapai US$ 539 juta, naik 15% dibandingkan tahun lalu.

Chief Executive Christie's Bonnie Brennan menyebut barang mewah berhasil menarik pembeli generasi baru yang sebelumnya tidak memiliki kedekatan dengan pasar seni. Salah satu contohnya adalah penjualan koleksi memorabilia milik pebisnis Jim Irsay yang menghasilkan US$ 105,2 juta, menjadi koleksi memorabilia paling bernilai yang pernah dilelang. Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi banyak kolektor muda, perjalanan memasuki dunia lelang tidak lagi selalu dimulai dari lukisan karya maestro, melainkan dari jam tangan langka, mobil klasik, hingga barang-barang koleksi yang memiliki nilai sejarah.

Tren tersebut juga terlihat di Sotheby's. Global Head of Luxury Sotheby's Josh Pullan mengatakan semester pertama tahun ini menjadi periode terbaik bagi divisi luxury. Pertumbuhan terjadi hampir di semua kategori, mulai dari jam tangan, mobil klasik, perhiasan, wine hingga buku antik. Salah satu transaksi yang mencuri perhatian adalah Ferrari 250 GT SWB California Spider produksi 1961 yang terjual €16,7 juta di Monte Carlo, serta kalung Cartier Tutti Frutti yang laku US$ 2,8 juta di Hong Kong.

Baca Juga: Digitalisasi di Pasar Seni, Art Basel Pamerkan Karya Seni dari Coding Hingga AI

Perubahan karakter pembeli juga semakin terasa. Menurut Pullan, sekitar sepertiga peserta lelang jam tangan di Sotheby's kini berasal dari kalangan Milenial dan Gen Z. Mereka datang dengan kekayaan yang diperoleh dari industri teknologi maupun sektor keuangan. Berbeda dengan era sebelum pandemi, kelompok pembeli ini dinilai lebih selektif. Mereka tidak sekadar mengejar tren, tetapi lebih menghargai kelangkaan, kualitas pengerjaan, dan nilai historis suatu koleksi. Rata-rata belanja peserta lelang jam tangan pun meningkat sekitar 60% menjadi US$ 129.000.

Brennan melihat perubahan serupa di Christie's. Hampir separuh klien baru perusahaan tahun ini berasal dari generasi Milenial dan Gen Z. Menariknya, sekitar 85% penawaran mereka dilakukan secara daring. Platform digital menjadi pintu pertama sebelum para kolektor baru itu akhirnya berani mengikuti lelang langsung dengan nilai transaksi yang jauh lebih besar.

Di tengah antusiasme tersebut, pasar ternyata tetap dijalankan dengan disiplin. Brennan menilai kolektor saat ini sangat peka terhadap harga. Karya dengan estimasi yang realistis justru mampu menarik persaingan penawaran lebih sengit. Ia mencontohkan lukisan Pommiers, Vétheuil karya Claude Monet yang awalnya diperkirakan terjual US$ 6 juta hingga US$ 8 juta, tetapi akhirnya laku US$ 19,6 juta. Sebaliknya, karya yang dipasarkan dengan estimasi terlalu tinggi cenderung kehilangan peminat.

Perubahan lain yang mulai menonjol adalah berkembangnya layanan pembiayaan berbasis karya seni dan barang koleksi. Bagi rumah lelang, bisnis kini tidak berhenti ketika palu diketuk. Christie's dan Sotheby's sama-sama memperluas layanan pinjaman dengan jaminan karya seni, mobil koleksi, jam tangan hingga tas mewah. Sotheby's bahkan menerbitkan sekuritisasi senilai US$ 900 juta pada awal tahun yang didukung portofolio pinjaman berbasis koleksi seni dan mobil klasik.

Christie's yang telah mengembangkan divisi pembiayaan seni selama lima tahun terakhir juga melihat permintaan terus meningkat, terutama dari kolektor muda. Menurut Brennan, banyak klien memanfaatkan koleksi mereka sebagai agunan bukan karena membutuhkan dana darurat, melainkan untuk memperoleh likuiditas tanpa harus menjual aset. Dana tersebut kerap diputar kembali untuk membeli karya seni lain sehingga menciptakan siklus investasi yang terus berlanjut.

Kebangkitan pasar lelang global pada 2026 akhirnya menunjukkan bahwa industri ini sedang memasuki babak baru. Lukisan-lukisan mahal masih menjadi simbol prestise, tetapi pertumbuhan kini semakin ditopang oleh kolektor muda, transaksi digital, serta meluasnya definisi aset koleksi. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, rumah-rumah lelang tampaknya tidak lagi hanya menjual karya seni. Mereka juga menjual pengalaman, gaya hidup, hingga akses terhadap ekosistem investasi alternatif yang semakin diminati.

Baca Juga: Pasar Seni Global Kembali Bergairah, Penjualan Tembus US$ 59,6 Miliar pada 2025

TAG: