Lelang SUN Sepi Peminat, Yield Obligasi 10 Tahun Diproyeksi Tembus 7,55%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat investor pada lelang Surat Utang Negara (SUN) merosot tajam di tengah kehati-hatian pelaku pasar menanti keputusan suku bunga The Fed dan berlanjutnya tekanan pada nilai tukar rupiah.

Sepinya peminat ini mendorong kurva imbal hasil (yield) bergeser naik dan membuat pemerintah terpaksa mengerem penyerapan dana demi menjaga stabilitas beban utang.

Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan menilai, keputusan pemerintah yang hanya memenangkan penawaran sebesar Rp 20,7 triliun, jauh di bawah target Rp30 triliun, menunjukkan bahwa pemerintah memprioritaskan manajemen biaya pinjaman ketimbang memaksakan pemenuhan target penerbitan secara penuh di tengah tingginya imbal hasil.


Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 20.000 Jadi Rp 2.570.000 Per Gram, Rabu (28/10)

Penawaran yang masuk pada lelang hari Selasa memang tercatat anjlok 52,1% dari lelang sebelumnya menjadi hanya Rp 31,1 triliun.

Kondisi tersebut secara langsung mencerminkan menurunnya selera risiko pasar.

Hal ini terlihat jelas dari rasio bid to cover yang merosot tajam ke 1,04 kali dari sebelumnya 2,2 kali, serta yield yang dimenangkan naik sekitar 20 hingga 30 basis poin, menandakan investor secara tegas menuntut premi risiko yang lebih tinggi.

Alhasil, kurva yield SUN bergeser ke atas pada hampir semua tenor, dengan yield acuan 10 tahun naik 7,8 basis poin menyentuh 7,53%.

Selain memukul pasar obligasi, sentimen negatif juga mengalir ke pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah kembali melemah 0,15% ke level Rp 18.142,7 per dolar AS, sejalan dengan tren pelemahan yang melanda berbagai mata uang regional.

Baca Juga: Gelar RUPSLB Hari Ini (28/10): BEI Bakal Bagi Dividen Pertama Kali dalam Sejarah

"Hambatan eksternal yang persisten dan ketidakpastian terkait MSCI yang berlarut-larut terus membebani rupiah, membuat mata uang ini tetap rentan terhadap depresiasi lebih lanjut," ungkap Ridwan dalam risetnya, Rabu (28/10/2026).

Adapun kelesuan di pasar domestik sangat erat kaitannya dengan dinamika global. Investor secara global saat ini bersikap wait and see menjelang pengumuman suku bunga Federal Open Market Committee (FOMC) pada hari Rabu.

Bank-bank sentral utama dunia diperkirakan kuat akan menahan suku bunganya pekan ini, sehingga fokus pasar beralih sepenuhnya pada petunjuk arah kebijakan berikutnya.

"Panduan ke depan (forward guidance) The Fed kemungkinan akan mendorong pergerakan arah selanjutnya, mengingat adanya ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tidak berubah," jelas Ridwan.

Mencermati perkembangan pasar global dan domestik yang dinamis, Ridwan memperkirakan pergerakan yield SUN bertenor 10 tahun akan berada pada rentang 7,40% hingga 7,55% untuk perdagangan hari ini, Rabu (28/10/2026).

Sebagai panduan bagi para pelaku pasar yang ingin melakukan trading, beberapa seri SUN yang dinilai menarik untuk ditransaksikan hari ini adalah FR0059, FR0064, PBS030, FR0095, dan FR0101.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News