Lemahnya Integrasi Industri dari Hulu hingga Hilir Bayangi Sektor Manufaktur



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja industri manufaktur nasional masih sulit keluar dari tekanan dalam jangka panjang. Persoalan struktural yang belum kunjung dibenahi membuat aktivitas industri berpotensi terus bergerak di sekitar batas ekspansi dan kontraksi.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta mengatakan, salah satu persoalan mendasar manufaktur Indonesia adalah lemahnya integrasi industri dari hulu hingga hilir.

Menurut dia, rantai industri mulai dari bahan baku primer, industri hulu, antara, hilir hingga pasar belum terintegrasi dengan baik. Kondisi tersebut telah berlangsung selama sekitar satu dekade tanpa perbaikan yang signifikan.


"Ini kelemahan mendasar yang tidak pernah ada perbaikan selama 10 tahun terakhir. Jadi PMI-nya akan naik turun terus di kisaran 50," kata Redma kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: Penurunan Indeks Manufaktur Jadi Sinyal Pelambatan Industri di Semester II

Redma menyebut, pergerakan Purchasing Managers' Index (PMI) di sekitar level 50 tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai perubahan menuju ekspansi atau kontraksi yang kuat.

Pasalnya, ketika PMI sedikit menembus level 50, pemerintah maupun pelaku industri kerap buru-buru menyimpulkan manufaktur telah memasuki fase ekspansi. Padahal, kondisi tersebut lebih mencerminkan dinamika pasar jangka pendek.

Menurut Redma, fase ekspansi yang sesungguhnya baru dapat terlihat jika PMI mampu bertahan di atas level 60 selama sedikitnya delapan bulan berturut-turut.

"Ketika berada di atas level 50 kita selalu terburu-buru menyimpulkan sebagai fase ekspansi, padahal itu hanya dinamika pasar saja," ujarnya.

Kondisi yang lebih berat terjadi di industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Redma memperkirakan, apabila tersedia PMI khusus sektor TPT, levelnya kemungkinan sudah berada di sekitar 45 dalam setahun terakhir.

Artinya, tekanan yang dialami industri TPT lebih dalam dibandingkan gambaran umum manufaktur nasional.

Baca Juga: Industri Manufaktur Masih Ekspansif, Tapi Mulai Injak Rem

Tekanan terhadap industri TPT juga semakin kompleks. Sebelumnya, pelaku industri menghadapi maraknya produk impor murah yang masuk melalui praktik dumping maupun jalur ilegal.

Kini, persoalan tersebut ditambah dengan melemahnya daya beli masyarakat. Akibatnya, pasar yang tersedia bagi industri TPT semakin menyusut.

"Kalau sebelumnya tekanan disebabkan karena maraknya barang impor murah karena dumping dan ilegal, saat ini tekanan ditambah dengan mulai melemahnya daya beli, jadi pasarnya makin susut," kata Redma.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perbaikan PMI manufaktur membutuhkan pembenahan yang lebih mendasar, bukan sekadar stimulus untuk mendorong aktivitas industri dalam jangka pendek.

Penguatan integrasi rantai pasok, perlindungan pasar domestik dari praktik perdagangan tidak sehat, serta pemulihan daya beli menjadi sejumlah faktor yang menentukan agar industri manufaktur dapat keluar dari pola pertumbuhan yang cenderung stagnan di sekitar level 50.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News