KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Fintech peer to peer (P2P) lending PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) mengungkapkan bahwa mayoritas pemberi dana (lender) di platformnya berasal dari lender institusi. Founder dan CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan, porsi lender institusi termasuk perbankan dan investor luar negeri mencapai lebih dari 90% dari total pendanaan.
Baca Juga: Fintech Lending 2026: Proyeksi Tumbuh Dobel Digit, Peluang Besar? “Sekarang mayoritas pendanaan kami berasal dari perbankan dan impact investor dari luar negeri. Porsi lender ritel kurang dari 10%, sehingga institusi berada di atas 90%,” ujar Andi saat ditemui di Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2026). Salah satu lender institusi yang menyalurkan pendanaan melalui Amartha adalah International Finance Corporation (IFC), lembaga keuangan internasional yang merupakan anggota World Bank Group. Melalui kolaborasi strategis yang terjalin sejak 2023, Amartha dan IFC telah menyalurkan modal kerja hingga Rp 3 triliun sebagai pembiayaan produktif bagi perempuan pengusaha ultra mikro di Indonesia. “Salah satunya kami mendapatkan pendanaan Rp 3 triliun dari IFC. Dalam dua tahun terakhir, dana tersebut sudah seluruhnya disalurkan. Saat ini, kami fokus memastikan pengelolaannya berjalan dengan tepat,” kata Andi.
Baca Juga: Tumbuh Dobel Digit, Amartha Salurkan Pembiayaan Produktif Rp13,2 Triliun pada 2025 Adapun lender ritel di Amartha umumnya berasal dari kalangan profesional muda, dengan posisi manajerial ke atas. Menurut Andi, kelompok ini memiliki karakter sebagai impact investor yang tidak hanya mengejar imbal hasil, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dari pendanaan yang diberikan. “Profil lender ritel kami mayoritas adalah impact investor yang lebih memprioritaskan dampak dari pendanaannya,” ujarnya. Dari sisi kinerja, sepanjang 2025 Amartha telah menyalurkan pembiayaan produktif berupa modal kerja sebesar Rp 13,2 triliun kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tersebar di sekitar 50.000 desa di seluruh Indonesia. Penyaluran pembiayaan tersebut tumbuh dobel digit secara tahunan, dengan tingkat
Non Performing Financing (NPF) tercatat 4,39%. “Pertumbuhan Amartha pada tahun lalu tumbuh dobel digit secara year on year atau lebih dari 20%, sementara NPF tetap terjaga di kisaran 4%,” ujar Andi.
Baca Juga: BRI Insurance Dorong Daya Saing Bisnis Asuransi Syariah Secara kumulatif, sejak berdiri pada 2010 hingga akhir 2025, Amartha telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 37 triliun kepada sekitar 3,7 juta pelaku UMKM di pedesaan. Sekitar 60% portofolio pembiayaan tersebut disalurkan ke wilayah di luar Pulau Jawa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News