Lepas dari pengawasan BI, Bank Pundi tancap gas ekspansi



JAKARTA. Setelah keluar dari pengawasan intensif Bank Indonesia (BI), PT Bank Pundi Tbk (BAEK) siap menggelar ekspansi. Recapital Advisor, pemilik bank yang dulu bernama Bank Eksekutif Internasional itu, akhir tahun ini membidik aset Rp 4 triliun, atau setara dengan 40% target pertumbuhan aset sebesar Rp 10 triliun pada 2013.

Gandhi Ganda Putra Ismail, Direktur Utama Bank Pundi, menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dari BI, April lalu. Regulator perbankan menilai, manajemen Bank Pundi berhasil membenahi dan memperbaiki bank itu, sehingga layak masuk dalam status pengawasan normal. Salah satu indikasinya, rasio kredit bermasalah (NPL) sudah menurun, dari 6,83% pada Maret 2010 menjadi 4,36% pada akhir Maret 2011.

Pemegang saham akan menggelar rapat umum pemegang saham tahunan pada 15 Juni mendatang. Salah satu agendanya, pergantian dan penambahan jajaran dewan direksi. Penambahan pejabat eksekutif ini terkait rencana pengembangan bisnis, salah satunya, ekspansi ke ranah pembiayaan mikro.


Untuk memperdalam penetrasi di segmen mikro, pengelola Bank Pundi akan menambah 100 kantor cabang, sehingga menjadi 207 unit pada akhir 2011. Saat ini ia tengah memproses izin ke BI untuk pendirian 45 cabang. "Selain itu, ada 80 cabang yang sedang kami renovasi kalau sudah selesai 80% akan kami mintakan analisis BI mengenai hal ini," ujar Gandi kepada KONTAN, Minggu (12/6). Ia memperkirakan, akhir Juli atau Agustus 2011, Pundi telah memiliki 160 cabang

Gandhi memaparkan, sejak pengambilalihan Recapital awal November 2010 hingga akhir Mei 2011, Bank Pundi telah menyalurkan kredit mikro sebesar Rp 1 triliun. Komposisinya, 70% kredit mikro dan 30% kredit kecil atau plafon di atas Rp 50 juta. "Akselerasi ini sejalan dengan target," katanya. Untuk mempertegas identitas baru sebagai bank mikro, manajemen Bank Pundi tidak lagi melayani kredit di luar UMKM.

Bank Pundi juga menggelar roadshow ke 14 kota untuk memperkenalkan diri serta mengetahui tanggapan pasar. Hasilnya, jumlah nasabah bertambah. Hingga Mei, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 2,4 triliun. Padahal, ketika berganti kepemilikan, DPK hanya Rp 300 miliar. "Dengan likuiditas saat ini kami bisa penetrasi kredit Rp 17 miliar per hari," katanya.

Dari sisi pendanaan, Bank Pundi fokus menjaring dana lewat produk deposito. Tujuannya, menghimpun likuiditas dalam jumlah besar dan cepat, kendati biaya dana lebih mahal. "Nanti setelah lebih stabil kami akan mengatur pendanaan kami," kata Gandhi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News