Lesca Gadai Premier Menawarkan Optimalisasi Portofolio Bagi Para Pengusaha



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Ketidakpastian geopolitik global yang masih berlanjut mendorong kenaikan harga aset safe haven, terutama emas, hingga mendekati level tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi tersebut ikut meningkatkan nilai berbagai aset fisik premium seperti perhiasan, logam mulia, dan jam tangan mewah berbahan emas.

Momentum tersebut bertepatan dengan periode evaluasi kinerja keuangan semester I-2026, ketika banyak pelaku usaha mulai menyiapkan kebutuhan modal kerja untuk paruh kedua tahun ini. Di tengah kondisi tersebut, aset mewah semakin banyak menjadi sumber likuiditas tanpa harus dijual.

Perusahaan gadai khusus barang mewahm PT Lesca Gadai Premier mencatatkan pertumbuhan volume transaksi pada semester I-2026. Hingga akhir Juni 2026, outstanding tumbuh sekitar 25% dibandingkan posisi akhir 2025.


Direktur Utama Lesca Gadai Premier, Bastian Purnama mengatakan, kenaikan tersebut didorong meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap layanan gadai barang mewah sebagai alternatif memperoleh pendanaan tanpa harus melepas kepemilikan aset.

"Pada semester pertama tahun ini, volume transaksi menunjukkan tren yang sangat positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," ujar Bastian kepada Kontan, Kamis (29/7).

Menurut dia, perusahaan terus memperkuat strategi pemasaran melalui kanal digital, optimalisasi layanan nasabah secara daring, serta memperluas jaringan secara offline melalui komunitas, kegiatan arisan, hingga berbagai acara.

Bastian menilai, tren kenaikan harga emas juga ikut meningkatkan nilai agunan berbagai aset premium. Kondisi tersebut memberi peluang bagi pemilik aset untuk memperoleh pendanaan lebih besar melalui skema gadai berbasis aset.

"Kenaikan harga emas perhiasan dan logam mulia di pasar global saat ini menjadi momentum bagi kolektor maupun pelaku usaha. Melalui pendanaan berbasis aset, nasabah dapat memanfaatkan kenaikan nilai aset tersebut untuk memperoleh tambahan likuiditas tanpa harus kehilangan kepemilikannya," ujar Bastian.

Baca Juga: Ashmore Indonesia (AMOR) Perpanjang Buyback Saham, Siapkan Dana Rp 7 Miliar

Ia mengatakan, pendekatan tersebut dinilai lebih efisien dibanding menjual aset yang masih berpotensi mengalami kenaikan nilai. Menurutnya, emas maupun jam tangan mewah dari merek seperti Rolex, Patek Philippe, Audemars Piguet, dan Richard Mille masih menjadi aset yang relatif mampu mempertahankan nilainya di tengah ketidakpastian ekonomi.

Adapun kategori barang yang paling banyak digadaikan di Lesca Gadai Premier masih didominasi jam tangan mewah. Selain Rolex, Patek Philippe, Audemars Piguet, Richard Mille, perusahaan juga menerima Omega, Cartier, dan Hublot.

Sementara untuk tas mewah, merek yang paling banyak diterima antara lain Hermès, Chanel, Louis Vuitton, Dior, Goyard, YSL, Gucci, hingga Loro Piana. Selain itu, perusahaan juga menerima logam mulia, berlian, mobil premium, serta sejak tiga bulan terakhir mulai melayani gadai motor gede (moge) dan kartu koleksi Pokemon Trading Card Game (TCG).

Menurut Bastian, penambahan jenis agunan tersebut mendapat respons positif, terutama dari kalangan kolektor yang ingin memanfaatkan aset koleksinya sebagai sumber pendanaan.

Ia menegaskan, meningkatnya transaksi gadai barang mewah tidak mencerminkan tekanan keuangan pada kalangan menengah atas. Sebaliknya, kondisi tersebut menunjukkan perubahan cara masyarakat dalam mengelola aset.

"Tidak sedikit nasabah yang menggunakan fasilitas gadai bukan karena mengalami kesulitan finansial, melainkan untuk kebutuhan bisnis, memanfaatkan peluang investasi, kebutuhan modal kerja, ataupun kebutuhan jangka pendek lainnya," katanya.

Untuk mendukung layanan tersebut, Lesca Gadai Premier menyediakan proses transaksi yang dimulai dari konsultasi secara daring, dilanjutkan dengan penyerahan aset secara langsung maupun melalui layanan penjemputan khusus. Setelah proses pemeriksaan dan penilaian selesai, dana dapat dicairkan sesuai hasil taksiran aset.

Ke depan, Bastian optimistis industri gadai barang mewah masih memiliki ruang pertumbuhan. Seiring meningkatnya literasi masyarakat mengenai pengelolaan aset, layanan gadai diperkirakan menjadii salah satu instrumen pengelolaan likuiditas yang praktis tanpa harus melepas kepemilikan aset bernilai tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News