KONTAN.CO.ID - Liang Wenfeng patut mendapatkan apresiasi terkait gebrakan yang dilakukan di industri kecerdasan buatan (AI) melalui DeepSeek. Pada tahun 2023, Liang Wenfeng mengambil langkah besar dengan mendirikan DeepSeek, startup AI yang berbasis di Hangzhou dan berkembang cepat sebagai pesaing ChatGPT milik OpenAI. Misi Wenfeng cukup sederhana, yaitu menciptakan model kecerdasan buatan yang tidak hanya kompetitif tetapi juga jauh lebih efisien dari segi biaya dibanding pesaing besar.
Baca Juga: Pendiri DeepSeek Liang Wenfeng Raup Hampir 40 Juta Yuan dari IPO Moore Threads Profil Liang Wenfeng: Bakat Matematika dan Teknologi Alami
Liang Wenfeng lahir di Provinsi Guangdong, China, pada tahun 1980. Ia menunjukkan bakat kuat dalam matematika dan teknologi sejak muda, yang membawanya menempuh pendidikan teknik di Zhejiang University. Mengutip catatan
Forbes, di sana ia mengasah kemampuan di bidang teknik informasi dan komunikasi, fondasi yang kemudian membentuk kariernya di dunia teknologi dan investasi. Setelah beberapa tahun bekerja dan meneliti, Liang bersama dua teman semasa kuliah mendirikan High-Flyer Quantitative Investment Management pada 2015. Perusahaan tersebut menggunakan algoritma matematika dan kecerdasan buatan untuk mengambil keputusan dalam perdagangan saham. Pendekatan itu membuat perusahaannya lebih unggul dari
hedge fund tradisional pada umumnya. Puncaknya, High-Flyer menjadi salah satu
quant hedge fund terbesar di China pada tahun 2019 dengan miliaran dolar aset di bawah pengelolaan.
Baca Juga: Amazon PHK 16.000 Karyawan: CEO Andy Jassy Dorong Transformasi AI Membangun DeepSeek: Upaya Membuka Arus Baru
Pada tahun 2023, Liang Wenfeng mengambil langkah besar dengan mendirikan DeepSeek. Peluncuran model DeepSeek R1 pada awal 2025 langsung menarik perhatian dunia teknologi. Kemampuan R1 menjadi sorotan karena sangat lihai menjalankan tugas-tugas bahasa dan logika dengan biaya pelatihan yang jauh lebih rendah dari rivalnya. Secara ajaib, kemunculan R1 berdampak besar pada pasar saham global dengan menyebabkan saham produsen chip besar mengalami tekanan tajam di bursa Amerika Serikat. Berbeda dari banyak startup AI, DeepSeek memilih model open source untuk banyak teknologinya. Pendekatan ini menarik kontributor dan peneliti dari berbagai belahan dunia untuk berinovasi tanpa batas. Strategi tersebut sejalan dengan salah satu filosofi Liang, yaitu teknologi harus dapat diakses lebih luas demi percepatan inovasi. DeepSeek juga dikenal karena tidak mengejar modal investor besar secara agresif. Liang secara konsisten menyampaikan bahwa pendanaan eksternal bukan prioritas utama, karena ia ingin mempertahankan arah teknologi dan penelitian tanpa terikat agenda investor.
Baca Juga: Profil Jamie Dimon: CEO JPMorgan, Bankir Paling Berpengaruh di Wall Street Nilai Kekayaan Liang Wenfeng
Menurut data
Forbes terbaru, Liang memiliki kekayaan bersih sekitar US$11,5 miliar berkat kepemilikannya yang substansial di DeepSeek dan High-Flyer. Mayoritas kekayaan tersebut bersumber dari 84% kepemilikan saham DeepSeek. Tingginya persentase kepemilikan tersebut menunjukkan betapa besar perannya di perusahaan tersebut. Di bawah kepemimpinannya, DeepSeek juga mengadopsi budaya kerja yang kolaboratif dan relatif datar secara hirarki. Dirinya secara aktif menarik talenta muda di bidang AI untuk ikut mengeksplorasi batas teknologi yang masih sangat mentah.
Baca Juga: Khaby Lame Jual Saham, Raup US$900 Juta dalam Sekejap Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News