Libur Imlek bisa menggerus harga aluminium



JAKARTA. Setelah merosot signifikan sehari sebelumnya, harga aluminium berhasil rebound. Dukungan dari upaya pemangkasan produksi yang dicanangkan China menjadi katalis yang mendongkrak harga aluminium.

Mengutip Bloomberg, Kamis (26/1) pukul 13.25 WIB harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange melambung 0,34% ke level US$ 1.839,75 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Harga ini tercatat sudah naik 0,75% dalam sepekan terakhir.

Andri Hardianto, Research and Analyst PT Asia Tradepoint Futures mengatakan saat ini posisi USD tengah konsolidasi jelang rilis data klaim pengangguran mingguan AS yang diduga masih akan membengkak.


Apabila nantinya data tersebut negatif seperti dugaan, maka bisa mengarahkan the greenback pada pelemahan lanjutan. Tentunya hal itu merupakan angin segar bagi komoditas termasuk aluminium.

“Selain itu ada rencana pemerintah China untuk memangkas produksi sepanjang tahun 2017 ini yang memberikan angin segar bagi fundamental aluminium,” jabar Andri.

China Nonferrous Metal Industry Association menilai, ada peluang terjadi penahanan produksi aluminium sebesar 1 juta metrik ton. Ini bisa terjadi jika proposal yang diajukan oleh Kementerian Proteksi Lingkungan Hidup disetujui oleh Pemerintah China.

Inisiasi akan hal ini datang dengan mempertimbangkan kondisi pencemaran udara di China yang sudah masuk tahap membahayakan. Kementerian tersebut mengajukan untuk menahan produksi aluminium di tiga provinsi yang apabila dikalkulasi mengantongi sumbangan seperlima produksi aluminium nasional China.

“Tapi diprediksi pada Jumat (27/1), peluang aluminium koreksi lagi jauh lebih besar dan hal itu bisa berlangsung hingga sepekan ke depan,” tebak Andri.

Ini berkaca dari liburnya pasar China sepanjang minggu dalam rangka perayaan Hari Imlek. Selama libur tersebut maka bisa dipastikan tidak ada aktivitas jual beli di pasar China dan hal itu bisa mengikis kekuatan harga.

Padahal China diketahui sebagai salah satu konsumen dengan transaksi komoditas logam industri terbesar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie