KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Periode libur panjang anak sekolah tahun 2026 menjadi salah satu momen yang paling dinantikan pelaku industri perhotelan dan penginapan. Meski secara historis tingkat okupansi hotel dan vila cenderung meningkat saat musim liburan sekolah, pelaku usaha menilai kondisi tahun ini menghadirkan sejumlah tantangan yang perlu dicermati.
Baca Juga: Wacana Gross Split Minerba, Pelaku Usaha Minta Pemerintah Berhati-hati Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, peningkatan pemesanan akomodasi umumnya terjadi menjelang libur panjang sekolah. Namun, kondisi ekonomi saat ini membuat prospek tersebut tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya. "Kondisinya sekarang berbeda. Apalagi kita melihat, itu kan kita bicaranya untuk perjalanan wisatawan nusantara, ini memang tantangannya cukup banyak," ujar Yusran kepada Kontan, Minggu (7/6/2026). Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi minat masyarakat untuk bepergian adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut berdampak pada kenaikan berbagai biaya perjalanan, termasuk harga tiket transportasi. "Bahwa tekanan rupiah terhadap dolar itu juga mendorong peningkatan harga tiket yang cukup signifikan di saat ini," katanya.
Baca Juga: Produk Lokal Berkelas Global, QUADRA Raih Rekor MURI di Keramika 2026 Yusran menilai kenaikan biaya perjalanan berpotensi membuat sebagian wisatawan domestik menunda atau mengurangi aktivitas liburan mereka. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat menjadi peluang bagi destinasi wisata dalam negeri. Ia berharap masyarakat yang sebelumnya berencana melakukan perjalanan ke luar negeri dapat mengalihkan rencana liburannya ke destinasi domestik dengan durasi perjalanan yang lebih singkat. "Paling kita berharap dari wisatawan-wisatawan yang tadinya melakukan outbound, nah mungkin mereka akan berpikir untuk melakukan short travel di Indonesia saja," ujarnya. Meski demikian, PHRI masih belum dapat memperkirakan secara pasti bagaimana tingkat okupansi hotel selama periode libur sekolah tahun ini.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan 24.000 Ha Lahan PLTS 100 GW, Begini Respon PLN Pasalnya, sejumlah faktor eksternal masih berpotensi memengaruhi keputusan masyarakat untuk berwisata. "Saya belum tahu nanti turun atau tidak, tapi seharusnya pada umumnya meningkat. Namun sekarang tantangannya ada. Kita tidak boleh lupa," kata Yusran.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, PHRI mengimbau seluruh pelaku usaha perhotelan untuk tetap agresif melakukan promosi dan menawarkan berbagai program menarik guna memanfaatkan momentum libur sekolah. Menurut Yusran, strategi promosi yang tepat dapat membantu meningkatkan daya tarik destinasi dan akomodasi, sekaligus mendorong masyarakat untuk tetap melakukan perjalanan wisata domestik selama masa liburan panjang. Dengan masih tingginya ketidakpastian ekonomi dan tekanan terhadap daya beli masyarakat, pelaku industri berharap momentum libur sekolah dapat menjadi salah satu penopang kinerja sektor pariwisata dan perhotelan pada pertengahan tahun 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News