Libur Sekolah Dongkrak Penumpang Bus, Okupansi Tembus 80%-100%



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Momen libur sekolah kembali menjadi berkah bagi perusahaan otobus (PO). Sejumlah operator mencatat kenaikan jumlah penumpang seiring meningkatnya mobilitas masyarakat untuk berwisata. Direktur Utama PO Sumber Alam, Anthony Steven Hambali, mengatakan jumlah penumpang selama periode libur sekolah tahun ini meningkat sekitar 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Tren jumlah penumpang selama periode libur sekolah tahun ini dibanding tahun lalu cenderung meningkat. Tahun ini ada peningkatan kurang lebih 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Anthony kepada KONTAN Senin (13/7).

Baca Juga: Strategi Total Bangun Persada (TOTL) Jaga Margin Proyek di Tengah Pelemahan Rupiah Ia mengungkapkan, pada periode 27 Juni hingga 12 Juli 2026, tingkat keterisian (load factor) armada rata-rata berada di atas 70%. Bahkan, pada sejumlah rute favorit tingkat keterisian mencapai level yang sangat tinggi. Untuk mengakomodasi lonjakan permintaan tersebut, perusahaan menambah sekitar empat armada per hari tanpa menambah frekuensi perjalanan. Adapun rute Jakarta–Yogyakarta dan Tangerang–Yogyakarta menjadi trayek dengan permintaan tertinggi selama musim liburan. Anthony menambahkan, setelah periode Lebaran, libur sekolah menjadi salah satu penyumbang pendapatan terbesar bagi perusahaan setiap tahunnya. Tren positif tersebut juga dirasakan pelaku industri secara lebih luas. Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan, menyebut tingkat keterisian penumpang selama libur sekolah tahun ini mencapai 80% hingga 100%, jauh lebih tinggi dibandingkan hari normal. Menurutnya, capaian tersebut cukup menarik karena terjadi pada bulan Suro yang biasanya identik dengan rendahnya permintaan angkutan bus. “Momentum liburan tahun ini cukup baik. Load factor penumpang bisa mencapai 80%-100%, padahal pada bulan Suro biasanya hanya sekitar 30%-40%,” ujar Kurnia. Meski demikian, ia menilai tingginya okupansi belum otomatis meningkatkan keuntungan perusahaan. Pendapatan tambahan selama musim liburan lebih banyak digunakan untuk menutup pelemahan bisnis pada semester I 2026 yang dibayangi kenaikan biaya operasional, terutama harga pelumas dan suku cadang. Selain itu, pelaku usaha juga masih menghadapi persoalan distribusi bahan bakar minyak (BBM). Kelangkaan pasokan di sejumlah daerah membuat armada harus mengantre di SPBU sehingga mengganggu jadwal operasional dan berpotensi mengurangi waktu istirahat pengemudi. Di sisi lain, Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti sekaligus pengamat transportasi Yayat Supriatna menilai tingginya permintaan bus pada musim libur sekolah didorong oleh meningkatnya aktivitas wisata keluarga dan komunitas. Menurutnya, permintaan perjalanan mulai meningkat sekitar 20%-30% pada awal masa liburan dan mencapai 40%-60% saat puncak liburan. Bahkan, sejumlah perusahaan otobus mencatatkan pemesanan penuh (full book). “Bus tetap menjadi pilihan karena biaya perjalanan lebih terjangkau jika dilakukan secara rombongan. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat cenderung memilih perjalanan kolektif menggunakan bus dibanding moda transportasi lain,” ujarnya. Yayat menambahkan, tren perjalanan wisata juga mulai bergeser. Jika sebelumnya didominasi rombongan sekolah, kini permintaan lebih banyak berasal dari keluarga, komunitas, kelompok arisan, hingga kelompok pengajian. Pergeseran tersebut menjadi pasar baru yang membantu menjaga permintaan bus pariwisata. Namun, ia mengingatkan bahwa lonjakan permintaan ini bersifat musiman. Setelah libur sekolah berakhir, tantangan pelaku usaha adalah menjaga tingkat okupansi armada hingga memasuki periode libur akhir tahun. Kondisi ekonomi masyarakat serta biaya operasional yang terus meningkat juga akan menjadi faktor yang menentukan kinerja industri angkutan bus sepanjang semester II 2026.

Baca Juga: TRUE Gandeng BNET Bangun Infrastruktur Digital di District East Karawang


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News