KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Kondisi likuiditas yang relatif ketat memengaruhi CIMB Niaga Syariah dalam menentukan arah ekspansi pembiayaan tahun ini. Hingga Juni 2026, rasio pembiayaan terhadap pendanaan (financing to deposit ratio/FDR) CIMB Niaga Syariah berada di level 104,99%. Meski membaik dibandingkan posisi Juni 2025 yang mencapai 122,84%, rasio tersebut masih berada di atas 100%. Artinya, penyaluran pembiayaan CIMB Niaga Syariah masih lebih besar dibandingkan dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun.
Baca Juga: BCA Syariah Kantongi DPK Rp 15,3 Triliun per Juli, Siapkan Strategi Jaga Likuiditas Direktur Sharia Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara mengatakan, salah satu faktor yang masih menopang likuiditas CIMB Niaga Syariah saat ini adalah statusnya yang masih menjadi unit usaha syariah (UUS) di bawah CIMB Niaga. "Secara umum likuiditas mengetat. Tapi satu hal yang mendukung likuiditas CIMB Niaga Syariah adalah bahwa masih dalam kelompok UUS dari CIMB Niaga, sehingga CIMB Niaga secara keseluruhan masih memiliki likuiditas yang baik, juga untuk men-support aktivitas UUS-nya," ujar Pandji kepada Kontan, dikutip Jumat (28/8/2026). Kendati begitu, CIMB Niaga Syariah memang bakal lebih moderat dalam menetapkan target pertumbuhan pembiayaan pada tahun ini. Toh, kata Pandji, permintaan pembiayaan secara keseluruhan juga mengalami penurunan. Hingga Juli 2026, pembiayaan syariah CIMB Niaga memang terkoreksi sampai 12,36% secara tahunan menjadi Rp 51,47 triliun. Selain mempertimbangkan kondisi likuiditas dan permintaan pembiayaan, CIMB Niaga Syariah kini juga tengah mempersiapkan proses pemisahan atau spin off UUS menjadi bank umum syariah (BUS). "Target financing tahun ini akan lebih moderat, karena memang demand secara keseluruhan menurun, di samping bank lebih fokus untuk mempersiapkan spin off yang mudah-mudahan sebelum akhir tahun terealisasi," jelasnya.
Bank pun terus mempersiapkan kebutuhan pendanaan untuk mendukung proses spin off tersebut. Salah satunya melalui penguatan permodalan UUS sebagai bagian dari persiapan menjadi BUS.
Baca Juga: BCA Syariah Kantongi DPK Rp 15,3 Triliun per Juli, Siapkan Strategi Jaga Likuiditas "Pendanaan untuk persiapan spin off terus dipersiapkan, termasuk di antaranya adalah permodalan bagi UUS sebagai persiapan menjadi BUS," kata Pandji. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News