KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Tensi persaingan dana di industri perbankan yang kembali meningkat mendorong naik transaksi antarbank. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, hingga April 2026 volume transaksi rata-rata harian (RRH) di pasar uang antarbank (PUAB) meningkat menjadi Rp 21,8 triliun dari Rp 21,5 triliun pada bulan sebelumnya. LPS melihat tren ini menunjukkan bahwa kebutuhan likuiditas jangka pendek perbankan mulai meningkat. Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menyebut, transaksi antarbank memang berpotensi meningkat seiring persaingan dana yang kian ketat di tengah kebutuhan likuiditas jangka pendek yang tetap tinggi.
Baca Juga: Saham BRIS Melesat 5% pada Perdagangan Kamis (25/6), Ini Kata Analis Penyebab utamanya, kata Trioksa, adalah selisih pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK). Memang, Bank Indonesia (BI) mencatat hingga Mei 2026 kredit perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan (year-on-year/yoy) sementara DPK tumbuh 13,47% yoy. Namun, suku bunga INDONIA sebenarnya relatif melandai dalam seminggu terakhir. Per 24 Juni 2026, posisinya ada di 5,64%, turun dari pada 17 Juni 2026 di 6,34%. Sebagai informasi, INDONIA diambil dari volume rata-rata tertimbang transaksi antar seluruh bank konvensional nasional. Dus, tren penurunan INDONIA sejatinya mencerminkan transaksi antarbank. Memang, Trioksa bilang, transaksi antarbank juga dipengaruhi berbagai hal. Di antaranya arah suku bunga acuan (BI Rate), kebutuhan kas musiman, serta operasi moneter BI. Trioksa menambahkan, tren transaksi bakal berbeda di masing-masing bank. “Ada potensi kenaikan transaksi antarbank, tapi kemungkinan tidak merata. Akan lebih banyak terjadi pada bank yang likuiditasnya ketat,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (25/6/2026). Trioksa memandang, transaksi antarbank masih bakal meningkat dalam jangka pendek, dengan potensi mereda jika DPK dapat bertumbuh lebih masif sehingga likuiditas sistem lebih longgar. Di samping itu, transaksi antarbank juga bisa melandai jika tekanan suku bunga dan nilai tukar menurun.
Baca Juga: LPS Jamin 697,34 Juta Rekening Perbankan hingga Mei 2026 Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pun memandang pergerakan suku bunga dan kondisi likuiditas pasar menjadi salah satu katalis yang memengaruhi tren transaksi PUAB. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, pengelolaan likuiditas bakal memanfaatkan semua instrumen yang ada di pasar. “Tidak hanya dengan PUAB, namun bisa juga dengan instrumen repo,” kata Hera. Hera memastikan pihaknya mengelola likuiditas secara pruden serta mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dalam penerapan manajemen risiko. Pun, bank berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat. Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengaku aktivitas transaksi PUAB di OK Bank masih normal. “Sebagai bagian dari pengelolaan likuiditas harian, volume transaksi di PUAB menyesuaikan kebutuhan pendanaan serta kondisi pasar,” katanya.
Baca Juga: Perusahaan Asuransi Mulai Tinggalkan Bisnis Kesehatan, OJK Ungkap Sebabnya Namun begitu, Efdinal mengamini bahwa persaingan penghimpunan dana memang berpotensi meningkatkan aktivitas di pasar uang antarbank. Ia memastikan pemanfaatan PUAB oleh OK Bank bakal tetap dilakukan secara prudent sesuai strategi pendanaan dan kondisi likuiditas, dengan fokus utama pada transaksi jangka pendek untuk optimalisasi pengelolaan likuiditas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News