Likuiditas Perbankan Longgar, Giro Jadi Mesin Utama Pertumbuhan DPK



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi likuiditas perbankan terlihat mulai longgar kembali. Hal ini tercermin dari tumbuhnya dana pihak ketiga (DPK) yang salah satunya ditopang oleh giro.

Bank Indonesia (BI) melaporkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan menunjukkan penguatan pada pengujung 2025. Pada Desember 2025, total DPK tercatat mencapai Rp 9.467,6 triliun, tumbuh 10,4% secara tahunan.

Pertumbuhan DPK tersebut terutama didorong oleh kinerja giro dan simpanan berjangka. Giro tumbuh cukup kuat sebesar 18,6% YoY mencapai Rp 3.059,6 triliun, meningkat signifikan dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 12,8% YoY.


Baca Juga: Asei: Kenaikan Batas Investasi Dapen dan Asuransi Menjadi 20% Perkuat Pasar Modal

Sementara itu, simpanan berjangka tumbuh 5,6% secara tahunan mencapai Rp 3.300,8 triliun, lebih tinggi dari pertumbuhan November 2025 yang sebesar 4,7% secara tahunan.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan, meningkatnya porsi giro mencerminkan preferensi nasabah terhadap instrumen simpanan yang lebih fleksibel dan mudah ditarik. Karakteristik tersebut membuat giro semakin diminati, terutama oleh pelaku usaha.

“Tren giro meningkat karena sifatnya yang sangat likuid dan mudah ditarik kapan saja. Ini menjadi pilihan utama pelaku usaha, merchant, produsen, hingga distributor, seiring makin masifnya transaksi digital dan internet banking,” ujar Bhima kepada Kontan, Rabu (4/2).

Menurutnya, kemudahan transaksi digital menjadi faktor kunci yang mendorong penggunaan giro dibandingkan tabungan atau deposito. Aktivitas usaha yang menuntut kecepatan arus kas membuat rekening giro lebih relevan untuk menunjang kebutuhan operasional harian.

Selain itu, tekanan ekonomi yang masih terasa juga mendorong nasabah memilih instrumen simpanan yang likuid. Dalam kondisi ketidakpastian, pelaku usaha cenderung menempatkan dana pada simpanan yang dapat dicairkan sewaktu-waktu jika dibutuhkan, ketimbang mengunci dana di deposito dengan tenor tertentu.

Di sisi lain, daya tarik deposito dinilai kian berkurang. Bhima menilai suku bunga deposito yang relatif rendah membuat instrumen ini kalah bersaing dibandingkan alternatif investasi lain, seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau obligasi ritel (ORI).

Baca Juga: Asuransi Kendaraan Tertekan, Intip Strategi General Insurance Indonesia (GEGI)

“Bunga deposito kurang menarik, spread-nya masih jauh dibandingkan imbal hasil SBN atau ORI. Karena itu, dana lebih banyak mengalir ke giro, bukan karena bunganya, tetapi karena kemudahan transaksi dan fleksibilitas,” jelas Bhima.

Menurut Bhima, peningkatan DPK giro dapat berdampak positif terhadap biaya dana (cost of fund) karena bunga giro relatif rendah. Namun demikian, bank juga dituntut untuk mengelola likuiditas secara lebih cermat mengingat karakter dana giro yang mudah berpindah dan sensitif terhadap kebutuhan transaksi nasabah.

Ke depan, Bhima memproyeksikan tren pertumbuhan giro masih akan berlanjut pada 2026. Dengan perkiraan suku bunga deposito yang tetap rendah dan aktivitas ekonomi yang masih membutuhkan fleksibilitas likuiditas, giro diperkirakan tetap menjadi pilihan utama masyarakat dan pelaku usaha.

“Tren tahun 2026, tabungan giro masih tumbuh positif. Bank perlu menyiapkan strategi yang tepat, mulai dari penguatan layanan transaksi digital, peningkatan kualitas cash management, hingga menjaga stabilitas likuiditas agar pertumbuhan giro tetap sehat,” ujar Bhima.

Strategi tersebut dinilai krusial agar bank dapat memaksimalkan peluang pertumbuhan DPK giro sekaligus memitigasi risiko volatilitas dana, sehingga kinerja intermediasi tetap terjaga secara berkelanjutan.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga terus memperkuat struktur dana murah dengan mengandalkan pertumbuhan giro. Hingga Desember 2025, total giro BTN tercatat tumbuh 7% secara tahunan, seiring dengan strategi perseroan yang semakin agresif mendorong dana berbasis transaksi (transaksional).

Baca Juga: Harga Emas Melonjak! Bisnis Pembiayaan Emas Bank Syariah Tumbuh Agresif

Direktur Network & Retail Funding BTN Rully Setiawan mengatakan, pertumbuhan giro BTN pada akhir tahun lalu terutama ditopang oleh segmen nasabah dengan saldo simpanan di bawah Rp 5 miliar. Pada segmen ini, giro BTN mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,4% YoY.

"Capaian tersebut mencerminkan peningkatan partisipasi nasabah ritel dan pelaku usaha kecil dalam memanfaatkan rekening giro sebagai sarana utama transaksi keuangan," ujar Rully.

BTN menargetkan pertumbuhan giro yang lebih tinggi pada tahun ini yang diproyeksikan mencapai 12,71%. Rully menyebut, target tersebut sejalan dengan strategi akuisisi dana murah BTN yang difokuskan pada penguatan produk current account saving account (CASA) berbasis transaksi.

Dalam mendukung strategi tersebut, BTN mengoptimalkan pemanfaatan platform digital Bale untuk nasabah perorangan serta Bale Korpora bagi nasabah institusi dan korporasi. Melalui kedua platform ini, BTN mengklaim telah memiliki solusi transaksi yang menyeluruh, baik untuk kebutuhan individu maupun lembaga, mulai dari pengelolaan dana hingga layanan keuangan terintegrasi.

Dari sisi fokus sektor, pertumbuhan DPK giro BTN diarahkan pada dua segmen utama, yakni lembaga yang menggunakan layanan payroll BTN serta pengusaha di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kedua sektor ini dinilai memiliki potensi transaksi yang tinggi dan berkelanjutan, sehingga dapat menjadi basis pertumbuhan dana murah yang stabil.

Dengan strategi tersebut, BTN berharap dapat memperluas pemanfaatan produk dan layanan, tidak hanya pada simpanan giro, tetapi juga pada pembiayaan serta berbagai kebutuhan finansial lainnya.

Baca Juga: Free Float Minimum Naik Jadi 15%, Bank Danamon (BDMN) Tunggu Kebijakan Resmi OJK

"Langkah ini sekaligus diharapkan dapat memperkuat struktur pendanaan perseroan dan mendukung kinerja intermediasi secara berkelanjutan ke depan," ucap Rully.

Adapun PT Bank Central Asia (BCA) mencatat pertumbuhan giro secara konsolidasi sebesar 20,05% capai Rp 434,45 triliun pada Desember 2025.

Adapun himpunan DPK BCA mencapai Rp 1.249 triliun. Angka tersebut melonjak 10,2% yoy jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 1.134 triliun.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn  mengatakan, pertumbuhan giro yang konsisten di BCA tidak lepas dari kepercayaan nasabah serta upaya BCA dalam menghadirkan layanan transaksi yang andal.

"Di tengah dinamika perekonomian saat ini, kami mencermati bahwa DPK dan CASA tetap menunjukkan tren positif, sejalan dengan peningkatan aktivitas transaksi perbankan dan perluasan basis nasabah," kata Hera.

Selain itu, likuiditas BCA hingga saat ini disebut berada pada level yang sehat dan terjaga dengan baik. Hal ini tercermin dari rasio likuiditas yang solid. Dilihat dari laporan keuangan triwulannya, Loan to Deposit Ratio (LDR) BCA per Desember 2025 berada di level 76,8%, menandakan bank masih produktif dalam menyalurkan kredit.

Baca Juga: Rencana Alokasi Saham Naik Jadi 20%, Ini Peluang bagi Industri Asuransi

Setali tiga uang, Lani Darmawan Presiden Direktur CIMB Niaga menyampaikan, pertumbuhan DPK terbesar juga datang dari Giro yang tumbuh sebesar 12% per Desember 2025.

"Mayoritas berasal dari operating account, cash management, financial institution non retail yang banyak kami fokuskan," ucap Lani.

Ia juga memproyeksikan pertumbuhan lebih besar tetap di Giro pada tahun ini dibandingkan dengan tabungan ritel yang masih mild. "Tahun ini kami lanjutkan strategy CASA yang baik lewat cash management,  operating account dan payroll," imbuhnya.

Selanjutnya: Rencana Alokasi Saham Naik Jadi 20%, Ini Peluang bagi Industri Asuransi

Menarik Dibaca: 9 Manfaat Konsumsi Buah Ceri secara Rutin untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News