Likuiditas Perbankan Makin Ketat, LDR Sejumlah Bank Besar Naik pada Semester I-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Likuiditas perbankan mulai menunjukkan pengetatan pada semester I-2026. Hal ini tercermin dari kenaikan rasio loan to deposit ratio (LDR) di sejumlah bank besar, seiring pertumbuhan kredit yang masih lebih agresif dibandingkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).

Meski demikian, secara industri kondisi likuiditas masih terjaga. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan LDR perbankan pada Mei 2026 berada di level 86,63%, sedikit turun dibandingkan April 2026 yang sebesar 86,88%. Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan posisi Mei 2025 yang sebesar 88,16%.

Di sisi lain, penghimpunan DPK mulai menunjukkan perbaikan. Hingga Mei 2026, DPK industri tumbuh 13,47% secara tahunan (year on year/YoY), meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 11,39%.


Meski secara industri LDR relatif stabil, sejumlah bank besar justru mencatatkan kenaikan rasio tersebut hingga Juni 2026. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan LDR sebesar 78,7%, naik dari 78% pada periode yang sama tahun lalu.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan kenaikan lebih tinggi, dari 90,2% menjadi 92,7%. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) juga mengalami kenaikan LDR dari 92,6% menjadi 96,6%.

Baca Juga: Kontribusi Bancassurance Masih Minim, ASEI Siapkan Strategi Ekspansi

Sementara itu, PT Bank OCBC NISP Tbk mencatatkan LDR naik tipis dari 76% menjadi 76,3%, sedangkan PermataBank membukukan kenaikan dari 85,6% menjadi 90,3%.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai kondisi tersebut menunjukkan likuiditas industri memang mulai mengetat dibandingkan awal tahun.

"Terlihat dari pertumbuhan kredit yang melampaui DPK sehingga biaya dana (cost of fund) dan persaingan menghimpun dana semakin meningkat. Namun, kondisi ini belum mengarah pada tekanan likuiditas sistemik karena rasio alat likuid terhadap DPK masih jauh di atas ketentuan minimum," ujar Trioksa kepada Kontan, Minggu (2/8).

Menurutnya, tantangan utama industri saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, biaya dana, kualitas aset, dan profitabilitas di tengah suku bunga yang masih tinggi.

Karena itu, bank perlu lebih selektif menyalurkan kredit kepada sektor produktif dan debitur berkualitas, memperkuat penghimpunan dana murah (CASA), serta mengoptimalkan sumber pendanaan lain.

Trioksa menilai insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) dari Bank Indonesia memang membantu menambah ruang likuiditas dan menjaga fungsi intermediasi. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kemampuan masing-masing bank dalam memanfaatkan fasilitas tersebut.

Ia memperkirakan hingga akhir 2026 likuiditas masih cenderung ketat, namun tetap terkendali.

"DPK diperkirakan tumbuh sekitar 8%-10%, kredit sekitar 10%-12%, sedangkan LDR industri berpotensi meningkat ke kisaran 89%-90%. Karena itu, pengelolaan likuiditas akan menjadi fokus utama perbankan," katanya.

Baca Juga: Premi Asuransi Jasindo Capai Rp 1,4 Triliun, Kontribusi Bancassurance Baru 4%

Adapun Staf Riset Ekonomi Makro Bank BTN Myrdal Gunarto menilai pengetatan likuiditas tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga sentimen global.

Menurutnya, lonjakan harga minyak dunia memicu sikap risk off investor global sehingga sebagian dana asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Di saat bersamaan, musim pembagian dividen juga mendorong arus dana keluar dari sistem keuangan domestik.

"Kondisi tersebut membuat industri perbankan semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Selain menjaga kualitas aset, bank juga perlu memastikan posisi likuiditas tetap memadai di tengah ketidakpastian pasar," ujarnya.

Meski demikian, peluang pertumbuhan kredit masih terbuka, terutama pada sektor-sektor yang relatif tahan terhadap gejolak ekonomi global seperti pangan, kebutuhan konsumsi harian, transportasi, dan perumahan yang masih mendapat dukungan pemerintah.

Untuk menjaga likuiditas, bank dapat memanfaatkan berbagai sumber pendanaan, mulai dari penerbitan obligasi, transaksi repo surat berharga ke Bank Indonesia, hingga meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income).

Ia juga menilai kebijakan KLM masih cukup efektif menopang penyaluran kredit.

"Menurut perhitungan kami, KLM berkontribusi sekitar 8% terhadap perkembangan bisnis perbankan dan pertumbuhan kredit secara keseluruhan," katanya.

Baca Juga: Laba Bank KBMI 3 Tumbuh di Semester I-2026, Siapa Paling Moncer?

Myrdal memperkirakan kredit industri masih mampu tumbuh sekitar 8,7% sepanjang 2026, sedangkan DPK diperkirakan meningkat 12,2%.

Sementara itu, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn memastikan kondisi likuiditas BCA tetap terjaga.

Hal itu didukung pertumbuhan dana murah sebesar 10,2% YoY menjadi Rp1.082 triliun, dengan porsi CASA sekitar 85%. Sementara total DPK meningkat 7,9% YoY menjadi Rp1.284 triliun.

"LDR BCA tercatat sebesar 78,7% pada enam bulan pertama 2026, lebih tinggi dari 78% pada periode yang sama tahun lalu. Ke depan, kami akan terus mengelola likuiditas secara prudent dan mencermati dinamika makroekonomi," kata Hera.

Ia menambahkan BCA juga mengapresiasi berbagai bauran kebijakan otoritas, termasuk KLM, yang diharapkan dapat mendukung penyaluran kredit sekaligus mengoptimalkan pengelolaan likuiditas perbankan.

Setali tiga uang, Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan kondisi likuiditas BTN masih terjaga.

"AL/DPK, LCR, dan NSFR semua terjaga dengan baik. Kalau LDR, BTN memang sejak dulu berada di kisaran 92%-97%," ujarnya.

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan juga mengakui likuiditas industri akan semakin ketat sehingga biaya dana berpotensi terus meningkat.

"Yang kritikal justru margin bunga yang akan terus tergerus karena kredit yang tumbuh lebih banyak berasal dari segmen korporasi dengan yield relatif lebih rendah," kata Lani.

Untuk menjaga likuiditas, CIMB Niaga tetap fokus meningkatkan CASA melalui strategi payroll, cash management, operating account, dan penghimpunan tabungan dari segmen mass market.

Baca Juga: Tak Hanya KPR, BTN (BBTN) Perkuat Bisnis di Sektor Fesyen dan Kuliner

Perseroan menargetkan LDR tetap berada pada kisaran 85%-90% hingga akhir tahun.

Di sisi lain, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, mengakui pengetatan likuiditas mulai terasa sejak Juni 2026.

"Laporan keuangan kuartal II dan kenaikan BI Rate mulai mendorong kenaikan suku bunga penempatan dana maupun bunga pinjaman. Kami merasakan likuiditas pasar mulai mengetat," ujarnya.

LDR Allo Bank tercatat mencapai 163,86% pada Juni 2026, meningkat dari 128,73% pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut Ganda, perseroan akan tetap menyalurkan kredit secara selektif sembari menyesuaikan suku bunga dana untuk menjaga cost of fund.

Ia juga menilai insentif KLM membantu memperkuat likuiditas, meski bukan menjadi faktor utama.

"Kami memperkirakan kondisi likuiditas masih akan ketat hingga akhir tahun seiring dinamika geopolitik dan potensi penyesuaian BI Rate. Adapun target LDR Allo Bank berada di kisaran 80%-100%," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News