Likuiditas Perbankan Masih Tebal, Lelang Sukuk Jadi Marak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat investor pada lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang digelar pada Selasa (11/1) cukup tinggi. Analis melihat likuiditas dari perbankan jadi penyokong hasil lelang kali ini ramai peminat. 

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, jumlah penawaran yang masuk sebesar Rp 55,35 triliun. Sebagai perbandingan jumlah penawaran yang masuk dalam lelang sukuk negara di akhir tahun 2021 sebesar Rp 48,69 triliun.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, hasil lelang sukuk di awal tahun ini lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya di sekitar Rp 25 triliun. Jumlah penawaran tinggi itu berasal dari perbankan yang belum dapat memaksimalkan penyaluran kredit.


Sementara, Ahmad Mikail Zaini Ekonom Sucor Sekuritas bilang, lembaga seperti Badan Pengelola Keuangan Haji juga banyak menyerap lelang sukuk di saat kegiatan naik haji belum bisa terlaksana dengan maksimal.

Baca Juga: Lelang Sukuk Negara di Awal Tahun 2022 Ramai Peminat Hingga Rp 55 Triliun

Dalam lelang kali ini, seri tenor pendek lebih banyak diburu investor daripada seri tenor panjang.Tercatat seri SPNS12072022 menerima jumlah penawaran masuk paling tinggi Rp 21,36 triliun. Pemerintah menyerap Rp 1 triliun. Yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan 2,65%. Seri ini jatuh tempo pada 12 Juli 2022.

Mikail mengatakan penyebab seri tenor pendek lebih banyak diburu karena pelaku pasar antisipasi terhadap tapering Federal Reserve (The Fed) dan kenaikan suku bunga di dalam negeri. Ramdhan mengatakan, pelaku pasar mengincar tenor pendek untuk menghindari volatilitas yang bisa terjadi lebih tinggi di tenor panjang.

Selain itu juga pemerintah memiliki daya tawar yang baik. Hal ini terlihat dari yield rata-rata yang dimenangkan berada di batas bawah dari penawaran investor. "Permintaan tinggi, pemerintah jadi memiliki daya tawar yang bagus, cost of fund bisa rendah dari yield yang dimenangkan rendah," kata Ramdhan. Secara total, pemerintah menyerap Rp 11 triliun dari lelang kali ini.

Ke depan, Mikail memproyeksikan jika yield bergerak naik ke 6,5% maka minat investor pada lelang SBSN berpotensi lebih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari