KONTAN.CO.ID - Lima kapal pengangkut gas alam cair (LNG) asal Qatar dilaporkan mulai mendekati Selat Hormuz, berdasarkan data pelacakan kapal pada Sabtu (18/4/2026). Pergerakan ini menjadi sinyal awal pemulihan arus energi global setelah sempat terhenti akibat konflik di Timur Tengah. Jika berhasil melintasi selat tersebut, pengiriman ini akan menjadi transit LNG pertama sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran pada 28 Februari lalu.
Baca Juga: Paus Leo Makin Lantang, Soroti Ketimpangan saat Kunjungan ke Angola Sebelumnya, Iran membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat (17/4), menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Pada Sabtu, konvoi kapal tanker minyak juga dilaporkan mulai melintasi jalur tersebut. Data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan lima kapal LNG yakni Al Ghashamiya, Lebrethah, Fuwairit, Rasheeda, dan Disha bergerak menuju Selat Hormuz dari fasilitas Ras Laffan, pusat produksi LNG utama Qatar. Empat kapal di antaranya dikendalikan oleh QatarEnergy, sementara satu kapal lainnya disewa oleh perusahaan India, Petronet LNG. Menurut analis Kpler, Laura Page, dua kapal diperkirakan menuju Pakistan, dua lainnya ke India, sementara satu kapal belum memiliki tujuan yang jelas. Selain itu, dua kapal kosong milik perusahaan energi Uni Emirat Arab juga terlihat memasuki Teluk Oman dan berlabuh di dekat Fujairah, mengindikasikan mulai pulihnya aktivitas logistik energi di kawasan tersebut. Qatar sendiri merupakan eksportir LNG terbesar kedua di dunia, dengan mayoritas pengiriman ditujukan ke pasar Asia.
Baca Juga: Klaim Donald Trump Negosiasi Membuahkan Hasil, AS Rebut Material Nuklir Iran Namun, serangan Iran sebelumnya sempat mengganggu sekitar 17% kapasitas ekspor LNG negara tersebut. Gangguan ini diperkirakan akan berdampak jangka panjang, dengan potensi hilangnya kapasitas produksi sekitar 12,8 juta metrik ton per tahun selama tiga hingga lima tahun ke depan. Perkembangan ini menjadi indikator penting bagi pasar energi global, yang tengah memantau secara ketat stabilitas pasokan di tengah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.