KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Melimpahnya produksi kelapa sawit di Indonesia membuka peluang besar bagi pengembangan industri hilir berbasis limbah. Salah satu potensi tersebut berasal dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang diperkirakan mencapai 16 juta ton per tahun dan dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Baca Juga: Pertamina International Shipping (PIS) Raup Laba Rp 10,3 Triliun pada 2025 Dosen sekaligus peneliti Pusat Studi Sawit IPB University Siti Nikmatin menjelaskan, sekitar 23% dari tandan buah segar (TBS) yang diolah menjadi
crude palm oil (CPO) akan menghasilkan tandan kosong. Dengan kadar bahan kering sekitar 35%, potensi ketersediaan TKKS di Indonesia diperkirakan mencapai 16 juta ton setiap tahun. Jumlah tersebut diproyeksikan terus meningkat seiring bertambahnya produksi TBS nasional. "Jadi, setiap hari pasti akan menumpuk limbah kelapa sawit di pabrik pengolahan CPO," ujar Nikmatin dalam keterangannya, Senin (27/7/2026). Selama ini, pemanfaatan TKKS masih didominasi sebagai pupuk organik di sekitar pabrik kelapa sawit (PKS). Padahal, menurut Nikmatin, limbah tersebut memiliki potensi besar untuk diolah menjadi bahan baku berbagai produk industri yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Baca Juga: Ciputra Tambah Cluster Baru di CitraGarden City, Bidik Pasar Hunian Jakarta Barat Pemanfaatan limbah sawit tersebut juga dinilai dapat memperluas hilirisasi industri sawit. Dengan begitu, hilirisasi tidak hanya bertumpu pada pengolahan minyak sawit menjadi produk turunannya, tetapi juga mencakup pengolahan residu hasil produksi. Nikmatin mencontohkan, PT Intertisi Material Maju (IMM) telah memanfaatkan TKKS sebagai bahan baku berbagai produk, mulai dari helm, tas, alas kaki, batik, rompi antipeluru, hingga filter pendingin udara (
air conditioner/AC) kendaraan bermotor. "Saat ini saya mengolah tandan kosong di PT Intertisi Material Maju untuk menjadi produk UMKM bernilai tambah. Saya mengambil tandan kosong di PTPN atau di IPB," katanya. Ia mengungkapkan, pengembangan produk berbasis TKKS tersebut berawal dari kegiatan riset sejak 2015 yang didukung pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Baca Juga: BRMS Hingga MDKA Menggali Cuan dari Tambang Bawah Tanah, Begini Progres Proyeknya Menurut Nikmatin, dukungan terhadap riset dan inovasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan nilai tambah limbah sawit menjadi bahan baku industri yang memiliki prospek komersial. Selain mengurangi limbah industri pengolahan sawit, pengembangan produk berbasis TKKS juga berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar perkebunan dan pabrik kelapa sawit. "Masyarakat dapat dilibatkan mulai dari proses pengolahan hingga produksi barang jadi. Dengan demikian, nilai tambah industri sawit tidak hanya berhenti pada produksi CPO maupun produk turunannya, tetapi juga berkembang melalui pemanfaatan limbah," jelasnya.
Baca Juga: Ekspor Toyota Indonesia Naik 10,7% Sepanjang Semester I-2026 BPDP juga terus mendorong pengembangan produk turunan sawit, termasuk pemanfaatan limbah, melalui dukungan terhadap riset dan inovasi. Upaya tersebut diarahkan agar limbah sawit mampu menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat. "Pemanfaatan limbah kelapa sawit pastinya memiliki potensi besar untuk mengantarkan sektor usaha tumbuh dan maju secara berkelanjutan. Apalagi, pasokan limbah kelapa sawit kita berlimpah," pungkas Nikmatin. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News