Lini Asuransi Kesehatan Masih Punya Peluang Tumbuh pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI) atau Maximus Insurance menilai prospek asuransi kesehatan masih memiliki peluang pertumbuhan yang cukup baik pada 2026.

Direktur Utama Maximus Insurance Jemmy Atmadja mengatakan hal itu karena meningkatnya kesadaran masyarakat dan korporasi terhadap pentingnya perlindungan kesehatan. 

"Meskipun demikian, pertumbuhan tersebut harus dikelola secara lebih selektif dan disiplin agar tidak kembali menekan profitabilitas," ujarnya kepada Kontan, Senin (2/3/2026).


Meski prospeknya masih baik, Jemmy menerangkan terdapat sejumlah tantangan yang masih harus diwaspadai terkait asuransi kesehatan pada 2026. 

Dia bilang salah satunya berupa inflasi medis yang diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama industri pada 2026. Selain itu, tren kenaikan tarif rumah sakit, biaya obat, serta tindakan medis juga belum menunjukkan tanda perlambatan yang signifikan. 

"Oleh karena itu, inflasi medis tetap menjadi variabel kritikal dalam penetapan tarif, perancangan manfaat polis, serta dalam pengelolaan klaim," tuturnya.

Baca Juga: LPS Rombak Struktur, Siap Antisipasi Percepatan Penjaminan Polis

Jemmy menyebut tanpa pengendalian yang memadai, inflasi medis dapat terus mendorong rasio klaim asuransi kesehatan ke level yang tidak sustainable. Selain inflasi medis, dia bilang tantangan lain datang dari persistensi pola overutilization dan moral hazard, baik dari sisi peserta maupun fasilitas kesehatan.

"Ditambah, adanya tekanan kompetisi harga, terutama pada segmen korporasi dan tender driven market. Selain itu, tantangan dari kualitas portofolio bisnis baru, khususnya risiko anti selection apabila seleksi underwriting tidak diperketat," ucapnya.

Jemmy menambahkan, tantangan lainnya adalah perubahan regulasi dan standar pelayanan kesehatan yang dapat memengaruhi struktur biaya, serta ekspektasi layanan digital dan kecepatan klaim yang menuntut investasi pada sistem dan pengelolaan operasional.

Untuk menjaga kinerja asuransi kesehatan pada 2026, Maximus Insurance menyatakan fokus utama bukan hanya pada pertumbuhan premi, melainkan pertumbuhan yang berkualitas atau profitable growth. 

Maximus Insurance akan menerapkan sejumlah strategi untuk mendorong kinerja asuransi kesehatan pada tahun ini. Dia bilang strategi yang perlu diperkuat, antara lain penyesuaian premi berbasis pengalaman klaim atau experience-based pricing, re-design manfaat dengan skema co-payment atau deductible yang lebih terukur, serta melakukan penguatan managed care dan kerja sama strategis dengan provider.

"Strategi lainnya, yakni monitoring loss ratio secara granular per segmen dan per grup, serta pemanfaatan data analytics untuk early warning terhadap lonjakan klaim," katanya.

Dengan pendekatan tersebut, Jemmy berharap lini asuransi kesehatan dapat bertransformasi dari sekadar volume driven menjadi margin conscious dan risk disciplined. Dengan demikian, 2026 dapat menjadi tahun perbaikan kualitas portofolio secara struktural.

Terkait kinerja, Jemmy menerangkan kinerja lini asuransi kesehatan perusahaan per akhir 2025 belum mencapai target yang telah ditetapkan, baik dari sisi loss ratio maupun profitabilitas underwriting. Dia bilang hal itu disebabkan adanya tantangan utama karena tekanan inflasi medis yang berdampak langsung pada peningkatan biaya klaim secara konsisten dan progresif.

Baca Juga: OJK: 79,72% Asuransi dan Reasuransi Penuhi Modal Minimum Tahap I 2026

Selain itu, dia bilang faktor lainnya karena adanya kompetisi premi yang agresif di pasar, terdapat premi yang secara aktuaria kurang mencerminkan tren kenaikan biaya layanan kesehatan, utilisasi tinggi, hingga perubahan pola klaim pascapandemi Covid-19.

Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), pendapatan premi asuransi kesehatan di asuransi umum terkontraksi 20,9% secara Year on Year (YoY), menjadi Rp 9,35 triliun per akhir 2025. Tercatat, rasio klaim asuransi kesehatan di asuransi umum sebesar 67,3% per akhir 2025, atau meningkat dibandingkan per akhir 2024 yang sebesar 58,2%. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News